Home Review Resensi Menangkap Pertanda dalam Alarm Sunyi

Menangkap Pertanda dalam Alarm Sunyi

444
0
SHARE

TAK BISA kita pungkiri, pada saat ini terutama dengan maraknya media sosial, kebanyakan orang beranggapan bahwa puisi mempunyai imaji yang buruk, tak lebih dari sekumpulan kata-kata asing  yang tak dimengerti, ungkapan perasaan mendayu-ndayu, atau kalimat-kalimat putus asa, hingga beranggapan bahwa Puisi tidak ada hubungannya dengan kehidupan, Puisi adalah sesuatu yang teralineasi dari kehidupan. Hal demikian itu tentu anggapan yang salah karena adanya kesalahpahaman.

“Puisi” berasal dari kata Yunani “poiesis”—“poiein”, yang artinya “menemukan”—“menciptakan”. Sebagai penemuan-penciptaan, puisi  tentu soal penghayatan, pertanyaan terhadap realitas dalam diri maupun di luar diri. dan bagaimana mencari  jawabannya. Hal ini membuat puisi selalu relevan bagi kehidupan, bahkan signifikan. Jawaban-jawaban atas realitas-realitas baru yang ditemukan dalam proses penghayatan itu tentu belum terbahasakan, sehingga dibutuhkan metafora-metafora yang diciptakan agar bahasa yang diciptakan tersebut mempunyai ketepatan dan makna. Puitik adalah kata sifat bagi puisi atau hal-hal yang berkaitan dengan puisi. Sebagai kata benda, puitik adalah praktik menulis puisi atau komposisi puitik, risalah mengenai sifat, bentuk, dan hukum puisi.

Metafora adalah kreativitas pertama dalam puisi. Untuk mengomunikasikan kebaruan-kebaruan itu, masih dibutuhkan penemuan-penciptaan strategi-strategi penyampaian dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi daya tarik logos, ethos, dan pathos, dari bentuk, gaya, sampai irama dan rima untuk dapat dipahami, diterima, diingat oleh pembaca, dan pada akhirnya menggerakkan pembaca, memengaruhi kesadaran dan keputusan tindakan mereka. Karena relevan dengan kehidupan, maka metafora-metafora yang diciptakan haruslah dekat dengan kehidupan dan tidak  menjauhkan dari kehidupan, seperti anggapan salah kaprah yang selama ini terjadi – semakin rumit metafora maka semakin bagus puisi tersebut -, selain itu karena Puisi adalah bagian dari seni tentu Metafor tersebut mempunyai nilai estetika.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) me·ta·fo·ra /métafora/ didefinisikan sebagai “pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan, misal tulang punggung dalam kalimat “pemuda adalah tulang punggung negara”.Metafora adalah majas (gaya bahasa) yg membandingkan sesuatu dengan yang lain secara langsung. Metafora adalah gaya bahasa perbandingan. Dengan kalimat yang singkat, metafora adalah mengungkapkan ungkapan secara tidak langsung berupa perbandingan analogis.

Kreativitas Penciptaan Metafor-metafor ini dipadukan dengan eksplorasi dan eksploitasi Logos (pernyataan-pernyataan yang dapat kita logika), Ethos (menarik perhatian pembaca puisi tersebut sehingga bisa membangkitakan imajinasi, inspirasi, dan mempengaruhi kesadaran  atau dalam bahasa Chairil Anwar, membuat pembacanya “melambung dan terhenyak”), dan Pathos (membangun hubungan emosional/perasaan antara penyair dan pembacanya, hingga tergerak untuk menafsirkan makna puisi tersebut).

Pada kondisi anggapan terhadap Puisi seperti inilah Emi Suyanti mencoba mengeksplorasi  dan mengeksploitasi kreatifitas yang dimilikinya untuk menciptakan puisi-puisi yang ada dalam Antologi Puisi Alarm Sunyi. Dari pemilihan judulnya saja sudah terlihat adanya kreativitas pertama dari Puisi, yaitu Metafora.  Alarm secara umum adalah peringatan atau pemberitahuan, sedang sunyi adalah tidak adanya bunyi. Alarm mensyaratkan adanya “tanda” meski tidak harus suara, sebuah peringatan, pemberitahuan, atau isyarat tanpa suara, sebuah keheningan yang bisa menjadi pemberitahuan terhadap banyak hal, sunyi yang mengisyaratkan banyak makna asalkan kita bisa membaca tanda-tandanya dengan panca indera dan hati nurani.

Seperti pada Puisi “Sepasang Sunyi”, kita menjadi sepasang sunyi paling riuh. Kontradiksi antara suasana ruang dan suasana hati. Kemudian dalam Puisi “Penjahit Luka”

ia sabar menyimpan warna-warna ingatan

dalam sebuah laci

matanya menatap dekat lubang jarum

memasukkan ujung benang dalam lubang

menjadikannya sempurna sepotong baju

membalut tubuhnya yang sedikit keriput

bahagia pasti tiba dalam pelukan doa

“perempuan mesti bisa menjahit

setidaknya menjahit lukanya sendiri,”

kata ibu.

 

Emi mencoba  membuat metafora “menjahit” untuk mengungkapkan gagasan yang ingin disampaikannya tentang bagaimana kita menjalani konsekuensi-kensekuensi pilihan hidup dan “mengobati” luka-luka yang dialami perempuan  dalam perjalanan hidupnya. Metafora tersebut disampaikan oleh sosok seorang Ibu. Metafora yang dekat dengan kehidupan dan pilihan-pilihan diksinya mempunyai nilai estetika.

 

lihatlah, perjalanan air yang menguap menjadi awan, bertemu daun dan  menjadi butiran embun, lalu menjelma hujan.

anak anak hujan berkejaran, mengalir, menganak sungai dan bertemu laut.

aku  bicara pada pecahan bebatuan, tanah gersang, hutan arang, bekas-bekas galian tambang.

padahal engkau hanya asyik bicara pada harta yang menggenang.

betapa beda sebenarnya kita.

 

kita memang berdekat, namun bahasa berbeda. hatiku memanggil namamu, tapi hatimu mengeras batu.

sekeras pasir-pasir hitam yang menggumpal.

aku memandangi punggungmu dari sini.

kubaca gerak tubuhmu yang lain.

tubuh yang menghitung dengan ribuan jejak kaki di balik meja.

tubuh yang berselimut material penjinak dari penggalan orang-orang yang kehilangan sunyi.

kita dua tubuh yang tenggelam dalam percakapan diam.

aku harus mencari dahan dan ranting tanaman. tempat burung-burung mengadukan nasib.

aku harus mencari biji-bijian yang menumbuhkan pepohonan.

aku harus mencari air yang sejuk melewati kerongkongan dan memberi sehat pada kehidupan. Aku mendapatkan ikan-ikan di laut kehitaman akibat industri pembuangan.

ke mana lagi mendapatkan napasku jika  tak kutemukan lagi kesegaran?

“Pada Menyimak Hutan, Menyibak padang” adalah Puisi Panjang yang berhasil mengajak pembacanya berimajinasi lewat diksi-diksinya  dan penyairnya juga berhasil tidak tergesa-gesa untuk segera menyelesaikan puisinya. Ini adalah salah satu pertaruhan seorang penyair. Butuh “nafas panjang dan emosi yang terjaga”  untuk  menciptakan puisi ini. Metafora-metaforanya konsisten di sekitar konteks ruang tema puisi, dan tetap ada nilai estetika hingga pembaca seolah-olah merasa ada di dalam ruang puisi tersebut, dan tiba-tiba ada sesuatu yang menyergap kesadaran, sebuah “alarm” sebuah Peringatan adanya ketidakseimbangan ekosistem dari semesta ini.

Alarm Sunyi pada antologi ini juga merupakan isyarat yang ada pada diri si Penyair, tentang ingatan dan kenangan yang harus di rawat atau dilupakan. Seperti tampak pada beberapa puisi-puisinya  “Menjaga Jarak”, “Ruang Rahasia”, dan “Gerbong Kereta”.

Tentunya diperlukan proses Kreatif yang tiada henti untuk menemukan dan menciptakan Metafora-metafora yang dekat dengan kehidupan, mempunyai nilai estetika, dan tidak klise. Di  sebagian besar Puisi-puisinya, Emi berhasil menciptakannya: Hidup dan indah. Selamat untuk Emi.

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here