Home Review Resensi Sejumlah Catatan Tentang Mozaik Kota Kenangan

Sejumlah Catatan Tentang Mozaik Kota Kenangan

926
0
SHARE

Kumpulan cerpen Mozaik Kota Kenangan merupakan 17 cerpen pilihan selama 28 tahun Wina Bojonegoro berkarya, baik sebagai penulis cerpen maupun sebagai novelis.

Keberanian itu adalah kesanggupan untuk melihat kenyataan di balik punggungmu.

Sebaris kalimat menarik dan kontemplatif ini ada di cerpen “Negeri Atas Angin”, satu dari 17 cerpen pilihan yang ada dalam Kumpulan Cerpen Mozaik Kota Kenangan karya Wina Bojonegoro. Sebaris kalimat tersebut bisa jadi adalah representasi tema-tema yang disampaikan dalam cerpen-cerpen penulis kelahiran Desa Ngasem, Bojonegoro ini. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan setelah membaca kumpulan cerpen Mozaik kota Kenangan.

Pertama, tentang gagasan atau tema yang diambil oleh penulisnya. Tema 17 cerpen ini sebagian besar bertema tentang cinta. Tetapi Wina memilih tema tentang cinta bukan hanya cinta yang berwajah penuh bunga keindahan, tetapi lebih menonjolkan wajah cinta dari sisi yang lain yaitu cinta yang melahirkan luka, kesepian, keterasingan, dan keterpurukan. Tema tentang cinta tersebut diramu dengan tema-tema kondisi sosial budaya yang ada di lingkungan para tokoh yang diciptakannya dan berjalin kelindan antara konflik sang tokoh dengan konflik yang ada di luar diri sang tokoh. Ini dapat ditemukan dalam Cerpen “Negeri Atas Angin” (Hal. 3), cerpen yang bercerita tentang Darsini, Penari Sindir (Penari Tayub/Ronggeng), perempuan yang menikahi kura-kura (Hal. 97), dan kota kenangan (Hal. 237). Konflik-konflik cinta yang ada dalam diri para tokohnya berjalin dengan tatatan sosial masyarakat yang masih kental dengan budaya patriarki.

Yang kedua adalah gaya bercerita. Penulis yang lahir di desa Ngasem, Bojonegoro dan bekerja di kota Surabaya ini piawai menulis cerita dengan gaya mengalir linier, meski sesekali menggunakan teknik flash back. Wina berhasil membuat cerpen yang “menjadi” — meminjam istilah Chairil Anwar — sebuah cerita yang benar-benar pendek, ringkas tidak bertele-tele, tapi berhasil mengganggu pembacanya untuk berimajinasi lewat tokoh dan cerita yang diciptakannya, kemudian merenungkan apa isi yang tersirat dalam kisah-kisah pendek tersebut.

Keberhasilan lainnya, Wina berhasil menulis secara cermat dan detil, selain menggali karakter para tokohnya, juga menceritakan latar belakang tempat para tokoh yang diciptakannya berada. Semisal ia bisa bercerita dengan idiom-idiom desa saat bercerita dengan setting desa seperti dalam cerpen “Negeri Atas Angin” dan “Perempuan yang Menikahi Kura-kura”. Namun sebaliknya, ia dapat juga bercerita tentang ikon-ikon metropolitan dengan kalimat-kalimat yang lugas dan memukau seperti pada cerpen “Prime Customer” (Hal. 177) dan “Lelaki Asing yang Menemaniku Ngopi Malam Itu” (Hal. 147). Sesekali juga ia menyelipkan kalimat-kalimat puitis dan bahkan kadang ada sinisme pada nuansa kalimat-kalimat yang disusunnya.

Wina Bojonegoro di peluncuran kumcer Mozaik Kota Kenangan (dok. Padmagz)
Hobi travelingnya membuat Wina semakin mudah membuat cerita perjalanan dengan setting cerita tempat-tempat tujuan wisata, seperti pada cerpen “Lang Lang dan Kelana” (Hal. 23). Dalam gaya penceritaan ini yang juga menarik adalah bagaimana Wina mengakhiri ceritanya. Cerpen-cerpennya selalu menyajikan ending yang tak terduga, apa yang diduga pembaca saat membaca cerita sampai pertengahan ternyata salah, bahkan di beberapa cerpennya memberikan ending yang terbuka, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang berdentangan dalam kepala pembaca. Akhir cerita bisa ditafsirkan sesukanya oleh para pembaca. Hal ini bisa ditemukan pada cerpen “Korsakov” (Hal. 1), “Konspirasi Minggu Pagi” (Hal. 135), “Pengakuan Rusmini” (Hal. 193), dan “Orang-orang Sakit” (Hal. 161).

Yang paling saya suka di kumpulan cerita ini adalah “Cerpen Kota Kenangan” (Hal. 237). Di cerpen ini, Wina bercerita dengan idiom dan metafora yang puitis, seperti saat bercerita tentang musim yaitu musim luka, musim cinta, dan musim tawa. Diramu dengan cerita tentang kebusukan-kebusukan siasat politik yang direpresentasikan pada sang tokoh yang bernama Mimikri.

Ketiga, makna yang bisa direnungkan oleh para pembaca setelah membaca cerpen-cerpen ini. Setiap cerita mengungkap nilai-nilai kehidupan. Muncul bagian dari pencarian benar dan salah, tetapi lebih kepada menguak apa yang sebenarnya hendak disampaikan penulis. Wina berhasil menyampaikan realitas, baik realitas yang ada di depan maupun di balik punggung kita. Menurut saya, dalam cerpen-cerpennya ini Wina memilih untuk menyampaikan sifat-sifat yang ada pada manusia, sifat yang menjadi dasar dalam tingkah lakunya, dan memberikan konsekuensi-konsekuensi logis yang harus diterima oleh para tokoh yang ada di ceritanya. Hal yang terpenting adalah kesanggupan untuk melihat kenyataan yang ada, kemudian bagaimana cara menghadapinya.

Selain ketiga hal itu, kumpulan cerpen ini menjadi lebih menarik karena adanya ilustrasi hitam putih dari B.G. Fabiola Natasha di setiap cerita. Ilustrasi ini bagaikan sebuah ilustrasi musik dan film yang sanggup tampil menjadi satu kesatuan yang utuh.

Harapan saya dalam karya-karya selanjutnya, Wina tetap konsisten dengan gaya bercerita khasnya ini, dan lebih dalam lagi dalam mengeksplorasi konflik-konflik yang terjadi akibat ketimpangan masalah-masalah agama, politik, ekonomi, social dan budaya. Karena menurut saya, karya sastra yang bagus adalah karya sastra yang selalu dekat dengan tema-tema kemanusiaan dan karya-karya sastra yang minimal bisa mengganggu pikiran orang agar bisa memanusiakan manusia.

ARIF GUMANTIA
Kontributor AlineaTV, Ketua Majelis Sastra Madiun

Detil buku:

Judul : Mozaik Kota Kenangan (Kumpulan Cerpen Pilihan)
Penulis : Wina Bojonegoro
Penerbit : CV. Padma Herlambang Nusantara
Cetakan : Pertama, Mei 2016
Halaman : 260 Halaman

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Share
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here