Home Opini Menyalakan Spirit Kiai Rafe’i Ali

Menyalakan Spirit Kiai Rafe’i Ali

693
0
SHARE

~ i

Pada 10 November 2016, saya mengunjungi Pesantren Annizhomiyah, di Kampung Jaha, Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang. Saya hendak menemui seorang aktivis perempuan, Dr. Neng Dara Affiah, yang sebelumnya telah saling bertukar sapa di Twitter. Aktivis yang pernah bekerja dalam organisasi internasional Women Empowerment in The Muslim Context (WEMC) yang berbasis di City Univercity of Hongkong sebagai konsultan ahli dalam bidang penelitian ini sudah dua tahun pulang kampung. Sementara saya baru menyantap durasi enam bulan di Banten. Jadi saat itu, baik saya maupun Teh Neng—demikian saya akrab memanggilnya—berada dalam satu ekuivalensi: sama-sama perantauan yang baru pulang ke kampung halaman.

Kami pun mengobrol hangat dan akrab: membincang masa lalu, suka duka di perantauan dan rencana-rencana ke depan. Dalam obrolan yang hangat itu, beberapa kali Teh Neng menyebut nama KH. Tb. Rafe’i Ali, yang tak lain abahnya.

Nama itu sungguh asing bagi saya. Selama dua belas tahun menyantap masa remaja, sekolah dari SD hingga SMA di Banten, nama tersebut sama sekali belum mampir ke beranda ingatan saya. Padahal, Kiai Rafe’i Ali memiliki ketokohan yang sangat kuat di Banten. Paragraf ini sungguh sebuah pengakuan yang menyakitkan bagi saya.

Saya pun berusaha mencari informasi tentang Kiai Rafe’i Ali dengan bantuan mesin pencari di internet. Nama itu lantas mengantarkan saya menemui sosok-sosok yang diam-diam kerap saya jadikan cermin sejak dulu: Ace Hasan Sadzily (anggota DPR RI), Nong Darol Mahmada (co-founder Jaringan Islam Liberal), Agus Khatibul Umam (Kepala Madrasah Aliyah Annizhomiyyah) dan tentu saja Neng Dara Affiah (doktor di bidang Sosiolog dan saat ini menjadi dewan pengarah World Culture Forum (WCF) Kemendikbud RI-Unesco). Nama Kiai Rafe’i Ali tak hanya mengajak saya menemui nama-nama itu, tetapi juga mengantarkan saya pada kenangan masa kecil yang kerap melakukan ziarah ke makam keramat di Banten. Kiai Rafe’i Ali ternyata sosok yang penting dan amat dihormati di tempat ziarah paling ramai di Banten, yaitu Cikadueun dan Caringin.

Saya seperti menemukan sebuah perhentian di tengah kebingungan pencarian. Saya meyakini sepenuh hati, cita-cita saya menggelorakan kegiatan pendidikan dan kebudayaan di Banten Selatan, akan mendapatkan sebaik-baik sambutan. Dan memang demikianlah adanya, cita-cita saya dan Teh Neng yang dua periode menjadi komisioner Komnas Perempuan, lagi-lagi berada dalam garis edar yang sama.

 

~ ii

Kiai Rafe’i Ali adalah ulama asal Banten yang sangat kharismatik. Meskipun hanya menamatkan pendidikan formal sampai taraf Sekolah Dasar, tetapi beliau mampu menghafal hampir 30 buah kitab klasik. Tidak mengherankan bila beliau begitu dihormati: kerap menjadi dewan pembimbing dan dosen di beberapa perguruan tinggi Islam di Banten, menjadi ketua Majlis Ulama Indonesia Provinsi Banten, Rois Syuriah NU Kabupaten Pandeglang (1965-1975), aktif di berbagai organisasi sosial kemasyarakatan sampai menduduki jabatan politik di Banten. Oki Faturahman, salah seorang santrinya, menyebut beliau bagaikan seorang profesor yang luhur ilmu dan rendah hatinya.

Para santri mengenang (Alm.) Kiai Rafe’i Ali sebagai sosok yang demokratis. Beliau tidak pernah memiliki ambisi mencetak sebanyak-banyaknya kiai sebagaimana pondok lain di Indonesia. Beliau mengolah manusia yang dilengkapi kebebasan sebagai anugerah terbesar dari Tuhan.

“Sembilan tahun saya ikut Abah, Abah tidak hanya memberikan ilmu agama, tetapi juga pengetahuan umum, ilmu bela diri, keterampilan berwirausaha, bercocok tanam, dan yang paling penting adalah bagaimana cara bermasyarakat. Intinya, Abah mengajarkan kami kemandirian.” Ujar Ustadz Rusmani, pengajar MA Annizhomiyah, sebagaimana dikisahkannya kepada Oki Faturahman.

Menyimak penuturan Ustadz Rusmani, sebuah pertanyaan lantas mengeras di kepala saya: model pendidikan semacam apa yang diberlakukan Kiai Rafe’i Ali di keluarganya?

 

~ iii

Melihat kiprah anak-anaknya, saya menemukan ketidaklaziman pada sistem pendidikan yang diberlakukan (Alm.) Kiai Rafe’i Ali. Karena tak satu pun dari keempat anaknya yang menjadi kiai. Sependek pengalaman saya, seorang kiai cenderung membentuk anak-anaknya menjadi kiai lagi, bertugas meneruskan pondok sekaligus mewarisi bisnis yang melingkarinya.

“Abah tidak pernah membingkai kami. Abah cenderung membiarkan anak-anaknya mencari takdir terbaiknya masing-masing.” Tutur Agus Khatibul Umam.

Keresahan saya mengenai kebiasaan kiai yang membesarkan anak-anaknya sebagai kiai pun saya tanyakan kepada Agus. Agus menjawab, “Abah tidak pernah memaksa kami untuk menjadi kiai. Abah hanya membekali kami dengan ilmu agama, menyusupkan kesantrian ke dalam DNA kami, selebihnya, kami dibebaskan mencari hidup kami sendiri.”

Ujaran Agus membuat saya terkenang Santiago si penggembala, dalam novel Sang Alkemis (1988) karya Paulo Coelho, yang mewujudkan legenda pribadinya. Anak-anak Kiai Rafe’i Ali serupa Santiago. Bedanya, Kiai Rafe’i Ali tak seperti ayah Santiago yang memaksa anaknya menjadi seorang pastor.

Pengakuan Agus Khatibul Umam mendapatkan penguatan dari Ace Hasan Sadzily.

“Ini mungkin subjektif. Tetapi bagi saya, abah adalah seorang kiai yang mengerti betul keinginan anak-anaknya. Tugasnya bukan mengimplankan mimpi yang belum terwujud pada anaknya, akan tetapi merawat mimpi-mimpi anaknya.”

Saya sepakat dengan Kang Haji Ace bahwa pengakuan dari anak-anak Kiai Rafe’i Ali pasti subjektif. Maka saya melakukan penelusuran. Dulu, nada-nada sumbang kerap menyapa gendang telinga Kiai Rafe’i Ali. Tak jarang, di tengah-tengah pusaran politik saat itu, kabar-kabar yang berembus sekecil apa pun kerap dibesar-besarkan. Apalagi ketika informasi yang digoreng itu tentang Nong Darol Mahmada yang menjadi aktivis Islam liberal. Tetapi Kiai Rafe’i Ali menanggapinya begini kira-kira:

“Biarkan saja. Namanya juga perjalanan hidup. Semuanya berproses.”

Menurut saya, itu bukan jawaban yang mencitrakan ketidakpedulian, pula tak bisa dicitrakan sebagai sesuatu yang liberal. Tetapi jawaban dari orang yang meyakini bahwa kebenaran yang berhasil ditemukan oleh diri sendiri manisnya sungguh tak terperikan.

 

~iv

Saya sungguh menyesal tak sempat bertemu atau berguru langsung kepada Kiai Rafe’i Ali. Tetapi saya bersyukur bisa memungut remah-remah semangat beliau pada diri anak-anaknya. Bahkan pada 2017 ini, saya terlibat dalam pembentukan Rafe’i Ali Institute. Saya bermimpi membangun episentrum peradaban di Banten bernyalakan spirit Kiai Rafe’i Ali: open minded, toleran dan berwawasan Islam wasathiyyah.

 

Pulosari, 7 Januari 2017

FATIH ZAM
Direktur Eksekutif Rafe’i Ali Institute, Banten

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Share
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here