Home Opini Dari Media Sosial Menjadi Buku

Dari Media Sosial Menjadi Buku

848
0
SHARE

TAK DAPAT kita pungkiri sekarang adalah era Social Media atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Media Sosial. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content“. Dengan contoh seperti blog, facebook, twitter, instagram, path, whatsapp, BBM, line,dan masih banyak lagi. Dalam media sosial tersebut membuat para penggunanya bisa mengekspresikan  pendapat, ide,  gagasan,  gambar, foto, video, suara, dan yang lebih menarik adalah adanya interaksi yang bisa dilakukan antar pengguna di platform media sosial tersebut. Hal inilah yang membuat media sosial menjadi tren dan booming di era sekarang ini.

Dengan banyaknya pengguna di media sosial ini bisa kita manfaatkan untuk mendukung  dunia literasi kita agar semakin  tumbuh dan berkembang.

Kalau kita cermati, banyak yang memanfaatkan media sosial tersebut sebagai alat untuk menyampaikan gagasan berupa opini atau artikel agar bisa dibaca orang banyak. Selain itu dalam media sosial seperti Facebook ada fitur Note atau catatan yang memungkinkan penggunanya bisa menuliskan opininya tentang situsasi dan kondisi yang sedang terjadi dengan sudut pandang politik, ekonomi, maupun budaya. Tidak jarang status-status di media sosial tersebut dimanfaatkan oleh penggunanya untuk menulis puisi dan cerpen. Meskipun banyak juga yang hanya memanfaatkannya sebagai sarana hiburan dan bertegur sapa dengan keluarga dan teman. Selain itu yang juga marak adalah media sosial digunakan sebagai sarana promosi yang efektif dari suatu produk, seperti barang-barang elektronik, kuliner, pakaian, buku, dan lain-lain.

Sebenarnya dengan banyaknya pengguna di media sosial ini bisa kita manfaatkan untuk mendukung  dunia literasi kita agar semakin  tumbuh dan berkembang. Karena kalau saya amati banyak tulisan-tulisan berupa puisi, cerpen, esai, opini, atau artikel yang terserak di berbagai media sosial. Bahkan di beberapa status akun media sosial tersebut, tulisan-tulisannya cukup panjang. Hal ini sebenarnya bisa dikumpulkan menjadi satu dan dicetak menjadi buku.

Dalam berbagai forum diskusi, banyak yang mengaku tidak bisa menulis, tetapi di akun-akun media sosial-nya saat menulis status, catatan, atau puisi rata-rata mereka semua bisa menulis panjang. Berarti hal ini menandakan bahwa pada dasarnya mereka semua bisa menulis. Tinggal dilatih dengan tekun, karena menulis pada dasarnya membutuhkan ketrampilan dan kecakapan.

Jika materi masih kurang, sebenarnya untuk membukukan catatan-catatan tersebut bisa disiasati dengan membuat antologi bersama dari beberapa penulis. Apalagi sekarang sudah marak penerbitan secara indie label, mempermudah untuk mencetak dan menerbitkan buku. Penerbit-penerbit tersebut juga mempunyai akun media sosial. Tentunya hal ini juga harus memperhatikan kualitas dan mutu tulisan tersebut. Perlu diadakan seleksi, edit, dan pengendapan dari berbagai tulisan tersebut agar memenuhi kriteria sebagai tulisan yang layak diterbitkan dan dipublikasikan.

Apalagi referensi di dunia maya tersedia dan mudah untuk diakses. Tinggal mencari di Google, akan banyak hal yang bisa kita temukan. Seperti kita ketahui penulis-penulis jaman dahulu harus membuat kliping dari Koran dan majalah untuk dijadikan referensi saat menulis, terutama tentang berita-berita yang bisa dijadikan acuan untuk menulis prosa, puisi, dan esai. Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu penulis yang rajin mengkliping Koran dan majalah. Di era sekarang ini, kita tinggal meng-klik Google maka berita-berita media massa yang telah lewat dapat diakses dengan mudah.

Media sosial bisa juga digunakan untuk mempromosikan dan menjual buku-buku yang telah diterbitkan tersebut. Selain itu, dari sifatnya yang interaktif, media sosial bisa dimanfaatkan untuk bertukar pikiran melalui akun-akun media sosial tersebut, sehingga tradisi literasi kita semakin hidup. Hal ini jika dapat dilakukan secara konsisten, berarti kita sudah memanfaatkan sisi positif dari perkembangan teknologi informasi. Dengan berbagai fasilitas dan kemudahan ini, maka media sosial sebenarnya dapat dijadikan sarana untuk menumbuhkembangkan budaya literasi di Indonesia. Karena dengan makin majunya literasi akan membuat peradaban suatu bangsa juga semakin maju.

Sifat media sosial yang menghibur dan bisa digunakan semua lapisan masyarakat membuat penggunanya dapat menuangkan pikiran dan gagasan sesuai dengan yang disukainya. Hal ini tentu bisa menghasilkan kreativitas yang beragam. Jika tulisan-tulisan tersebut menjadi buku, tentu buku-buku yang dihasilkan akan beragam, ada buku tentang kuliner, olahraga, kumpulan cerpen, puisi, kumpulan artikel politik, budaya, dan lain-lain. Dengan demikian nantinya ada banyak pilihan bagi pembaca. Maka mari kita bukukan tulisan-tulisan kita yang terserak di media sosial agar memberi kontribusi bagi dunia literasi.

ARIF GUMANTIA
Ketua Majelis Sastra Madiun

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here