Home Lifestyle Buku Tesamoko Edisi Revisi: Dari Sendiri Menjadi Gerombolan untuk Indonesia

Tesamoko Edisi Revisi: Dari Sendiri Menjadi Gerombolan untuk Indonesia

15595
0
SHARE
Eko Endarmoko, penyusun Tesamoko: Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Kedua menyampaikan sambutan saat peluncuran tesaurus tersebut di Jakarta, Senin (23/5). Tesaurus merupakan sebuah tipe karya referensi yang menyajikan kosakata, variasi bahasa atau disiplin ilmu secara sistematis berdasarkan jaringan sinonim antarkata dalam ranah makna. Kompas/Heru Sri Kumoro (KUM) 23-05-2016

Bahasa adalah proyek ideologis. Penting untuk melihat bahasa dengan kritis.

TESAURUS adalah tempat penyimpanan kekayaan bahasa. Tesamoko merupakan upaya pertama kali yang menerbitkannya di Indonesia pada tahun 2006 dan kemudian disusul oleh Badan Bahasa Indonesia pada tahun-tahun berikutnya. Mengapa Tesamoko perlu direvisi? Ada tiga alasan yang disampaikan oleh Totok Suhardijanto, Ph.D. salah satu dari Gerombolan Tesamoko dalam diskusi “Kata dan Kita” saat peluncuran Tesamoko Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Kedua di Gedung Kompas-Gramedia, Senin, 23 Mei 2016. Alasan pertama karena bahasa adalah sesuatu yang dinamis dan setiap hari selalu muncul kosa kata baru yang perlu dimutakhirkan. Alasan kedua adalah soal ketercakupan. Karena pada edisi awal hanya disusun sendirian, maka ruang lingkup yang dicakup dalam Tesamoko edisi pertama masih terbatas, sehingga dengan revisi ini ada banyak tambahan dan memperluas cakupan isinya. Alasan ketiga adalah soal keandalan karena lahir dari diskusi intens dalam Gerombolan Tesamoko maka isinya bisa lebih diandalkan. Tesamoko edisi revisi dibangun dengan kerja kolaboratif dan melibatkan perangkat teknologi informasi sehingga banyak pihak bisa bekerja memperbaiki dan melengkapi dari jarak yang jauh, misalnya dari Bremen, Jepang, Bandung dan Jakarta. Sedang Seno Gumira Ajidarma, ia menekankan pentingnya melihat bahasa sebagai bagian dari proyek ideologis. Karena bahasa sebagai media, maka butuh untuk kritis melihat bahasa. Itu yang diingatkan oleh Seno Gumira Ajidarma Di kesempatan selanjutnya Dr. Neng Dara Affiah mengatakan bahwa saat berbicara mengenai bahasa, ini bukan lagi soal teknis saja. Ia berkaitan dengan perspektif, kemajuan cara berpikir manusia dan keadaban. Tesamoko ini sudah mempunyai kesadaran atas kesetaraan gender. Ia mengingatkan bagaimana kata “wanita” dulu dipakai untuk melemahkan gerakan perempuan di zaman Orde Baru dan sekarang kata tersebut mulai digantikan dengan perempuan. Diskusi berlangsung selama satu jam dan menegaskan bahwa bahasa perlu diperhatikan dan menentukan masa depan bangsa.

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.