Ketika Bupati Sungguh-Sungguh Urus Kesenian

1650
0
SHARE

SELAMA ini para politisi berkegiatan dalam seni dan budaya tak lebih sebagai cara menggaet pemilih. Setelah target pragmatis tercapai, habis manis sepah dibuang. Tetapi satu “kelainan” dimiliki oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Indikasi keseriusannya tidak hanya ditunjukkan melalui perhatian atau mengalokasikan anggaran, tetapi dibuktikan oleh kiprah serius, terlibat langsung, dan bergerak aktif bersama para pegiat seni.

Bagi Dedi Mulyadi, kesenian itu bukan alat kampanye, melainkan sebagai sarana mendengar aspirasi rakyat, menyatu dengan akrab dengan rakyat tanpa sekat, dan juga berguna sebagai hiburan gratis rakyatnya.

Terhitung kiprahnya, sejak 2003 ia memanfaatkan liburan dengan bertemu dan menghibur masyarakat melalui program “Saba Lembur Se-Jawa Barat” bersama dengan kelompok musik pertunjukan Dangiang Galuh Pakuan. Di kelompok musik ini, Dedi duduk sebagai pembina. Dedi mengaku menikmati liburan yang ia pilih dengan pementasan seni ke berbagai daerah. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari setiap pementasan di daerah.

Di tengah kesibukannya sebagai kepala daerah, berada pada ruang kesenian dan kebudayaan adalah cara Dedi memerdekakan diri dari seabrek tugas dan kegiatan. “Hati saya gembira. Terlebih ada banyak pelajaran yang saya ambil dalam setiap pementasan,” ujar Dedi, yang dalam setiap lawatan Dangiang Ki Sunda juga mampu menjadi dalang.

Selain itu, Dedi menulis sajak-sajak Sunda. Salah satu buku kumpulan sajak Sundanya berjudul Lamunan Kuring. Sejumlah sajaknya dimusikalisasi, yang diaransemen oleh grup musik Emka 9. Yang paling tersohor dan menyentuh adalah sajak berjudul “Kaasih Indung”.

Selain itu ada juga sajak berjudul “Dangding”, “Mengetuk Pintu Langit”, dan “Simpena Peuting”. Sejak terpilih menjadi bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi mempunyai program unik, yaitu memberikan pelayanan publik kepada warganya dalam kemasan acara “Gempungan di Buruan Urang Lembur”. Gempungan ini berlangsung sejak akhir 2009. Dedi menilai program ini adalah bentuk transformasi informasi dengan menggelar pertemuan langsung dengan warga desa. Festival Budaya Guna menggairahkan seni dan budaya, Bupati Dedi Mulyadi berinisiatif menggelar sejumlah kegiatan berupa festival dan pasanggiri. Bertepatan dengan ulang tahun ke-183 Kota Purwakarta, 30 Agustus 2014, Festival Budaya Asia Pasifik 2014 digelar di pusat Kota Purwakarta. Acara itu dimeriahkan oleh kelompok kesenian dari 13 negara. Festival Budaya Asia Pasifik itu adalah penutup rangkaian berbagai acara dalam satu bulan.

Sebelumnya, digelar Festival Cetok, Parade Bedug, Panggung Nusantara, dan Parade Egrang, yang menarik minat masyarakat setiap malam Minggu. Beragam kesenian mancanegara juga ditampilkan, di antaranya Parade Kilas Pahlawan dari Malaysia, Parade Suku Isan dari Thailand, dan banyak tarian khas India. Bupati Dedi Mulyadi juga memperkenalkan seni dan budaya Purwakarta ke pentas dunia melalui Festival Budaya Dunia Purwakarta, 29 Agustus 2015. Pergelaran itu merupakan peringatan hari jadi ke-184 Kota Purwakarta dan hari jadi ke-47 Kabupaten Purwakarta dan diikuti oleh 1.000 seniman, termasuk 14 negara di dunia, di antaranya Italia, Jepang, Meksiko, Turki, Mesir, Afrika Selatan, Korea Selatan, India, Cina, Filipina, dan Malaysia. Festival ini diisi oleh pertunjukan seni budaya, pawai bedug, panggung Tatar Sunda Cirebonan, panggung Nusantara, festival sarung iket topeng (saket), semarak kemerdekaan dan pawai hias kendaraan, Festival Gianyar-Bali-Purwakarta, malam budaya dunia, dan jurung tandang tutunggangan agung. Festival diawali dengan opening art dari Padepokan Tari Suci Purwakarta, yang dilanjutkan dengan iring-iringan pasukan berkuda yang dipimpin Bupati Dedi Mulyadi.

Dedi mengatakan, Festival Budaya Dunia Purwakarta merupakan bagian dari membangun khazanah dan transformasi kebudayaan yang bertujuan mempersatukan budaya dari berbagai bangsa dan bahwa setiap budaya di dunia memiliki kedudukan yang sama. “Kami ingin memperlihatkan kepada dunia, bagaimana kayanya negeri ini akan khazanah kebudayaan sebagai dasar kekuatan bangsa. Selain itu kami ingin mengenalkan Purwakarta sebagai daerah yang ramah dan daerah yang selalu menjaga kesundaannya. Saya juga ingin mengenalkan Purwakarta sebagai ikon kebudayaan Sunda kepada dunia,” ujarnya.

Selain diikuti berbagai Negara di dunia, Festival Budaya Dunia Purwakarta juga diikuti oleh setiap daerah di Indonesia, seperti Bali, Jakarta, Banten, Jawa Timur, dan Maluku, serta sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Barat, sebagai kolaborasi dan satu kesatuan nilai luhur sebagai bangsa. Pada 23 dan 24 Desember 2015, berlangsung acara Pasanggiri Pasindenan Purwakarta 2015, yang pembukaannya digelar di Bale Citra Resmi (BCR) Purwakarta. Acara yang dimaksudkan untuk melestarikan kawih Sunda itu diikuti 23 wakil dari berbagai daerah di Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta.

Dedi Mulyadi, yang membuka kegiatan itu, mengatakan pasanggiri atau festival sinden merupakan upaya memopulerkan lagi kesenian khas Sunda. “Di tengah perubahan zaman dan maraknya berbagai genre musik, kawih Sunda tetap memiliki eksistensi yang kuat di masyarakat,” kata Dedi.

Dedi mengemukakan kawih Sunda pada dasarnya mengandung semangat religiusitas dan nilai sosial yang kuat dalam tiap liriknya. Jika dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, kata Dedi, masyarakat Sunda dapat menjadi masyarakat yang agamis dan tertata.

Budayawan Sunda Uu Rukmana, yang turut memberikan sambutan di acara itu, mengatakan juru kawih Sunda selama ini kurang mendapatkan dukungan dari pemerintah, terutama di bidang promosi dan regenerasi. “Inisiatif Pemerintah Purwakarta perlu diapresiasi. Seni musik asli Sunda jangan sampai tertinggal dan dilupakan warga Sunda sendiri. Kawih Sunda ini, kan, fleksibel, bisa masuk dengan genre musik lainnya, jadi harus dipromosikan,” kata Uu.

Salah satu peserta dari Kabupaten Bandung, Ajeng Putri, mengatakan kegiatan ini tentu direspons positif oleh semua pegiat seni kawih Sunda. “Terutama oleh generasi muda. Ini menguji kemampuan dan memperlihatkan potensi budaya Sunda yang mulai langka penggemarnya di kalangan muda,” ujarnya.

PUNGKIT WIJAYA
Kontributor AlineaTV, esais, bermukim di Bandung

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY