Ada Suka Ria Saat Peluncuran Raden Mandasia

Ada Suka Ria Saat Peluncuran Raden Mandasia

1338
0
SHARE

KEGEMBIRAAN memenuhi suasana peluncuran novel perdana sastrawan Yusi Avianto Pareanom di Coffewar, Kemang Timur, Jakarta Selatan. Hal ini barangkali berasal dari kegembiraan para penanggap novel berjudul Raden Mandasia: Si Pencuri Daging Sapi yang lugas mengutarakan pendapat mereka sesuai dengan keahlian masing-masing: Hikmat Darmawan menanggapi sebagai budayawan dan pemerhati dunia sastra, Dr. Bagus Takwin M.Hum memosisikan diri sebagai psikolog, dan Gratiagusti Chananya Rompas mengupas dari sudut pandang perempuan dan sastrawan. Sesekali diselingi canda, masing-masing penanggap mengangkat sejumlah poin positif yang berhasil mereka sarikan usai membaca novel ini, semisal ketertarikan Dr. Bagus Takwin M.Hum yang akrab dipanggil Aten pada kentalnya filsafat Jawa yang membungkus novel ini yang secara berseloroh dikatakan lebih tua daripada filsafat Yunani kuno. Anya menyoroti bagaimana tokoh perempuan yang ia sukai karena kekuatannya justru dimatikan oleh penulis dan mempertanyakan sikap tokoh utama Sungu Lembu yang dirasa fobia kaum sejenis (homophobic). Sedang Hikmat menggarisbawahi bahwa novel ini sebenarnya masuk dalam kategorisasi novel populer tetapi bukan berarti isinya tidak bisa disejajarkan dengan novel sastra yang kerap dibebani dengan predikat novel serius.

Dugaan kedua asal kegembiraan bisa juga berasal dari para tamu yang hadir. Para tamu kebanyakan adalah murid-murid kelas menulis Yusi Avianto Pareanom, yang dikenal pandai meracik bahasa yang efektif. Tentu saja karena ini adalah pertemuan para murid dengan gurunya sebagai tuan rumah, suasana berlangsung akrab tanpa jarak. Apalagi menurut Hikmat, si guru justru yang paling belakang menerbitkan novel dibandingkan murid-muridnya.

Dugaan ketiga asal kegembiraan ini terpusat pada suka ria Yusi Avianto Pareanom yang berhasil menuntaskan novel yang ditulisnya sejak tahun 2013. Setelah ditunggu-tunggu untuk selesai, barulah pada 2016 ini novel tersebut dinyatakan selesai ditulis, diedit sendiri dengan memangkas banyak adegan yang tidak efektif dan kemudian diterbitkan lewat Penerbit Banana. Yusi cukup yakin saat mengatakan novel tersebut terasa “sudah layak dikatakan selesai”, meski bisa saja dalam perjalanan dan pertemuan dengan pembaca novelnya, ada kekurangan yang muncul dan dianggapnya sebagai konsekuensi yang akan dihadapinya dengan gembira.

Atau bagaimana bila dikatakan bila kegembiraan itu bisa saja merupakan kombinasi dari dugaan pertama dan kedua, atau dugaan pertama dan ketiga, atau dugaan kedua dan ketiga atau bahkan ketiga dugaannya sekaligus, sehingga apapun pilihannya menjadi tepat dengan tajuk peluncuran dinamakan “Suka Ria Mandasia”.

Novel Raden Mandasia: Si Pencuri Daging Sapi bercerita tentang dongeng seorang pangeran bernama Raden Mandasia yang menjalani hari-hari memikirkan penyelamatan Kerajaan Gilingwesi dan Sungu Lembu menjalani hidup membawa dendam. Keduanya bertemu di rumah dadu Nyai Manggis di Kelapa lalu sepakat untuk menempuh perjalanan menuju Kerajaan Gerbang Agung. Pelbagai pengalaman mereka lakukan di sepanjang jalan hingga akhirnya mereka terlibat dalam perang besar yang menghadirkan hujan mayat belasan ribu dari langit.

Novel ini menandai perikop baru Yusi Avianto Pareanom yang bukan lagi sekadar menulis cerita pendek, tetapi ia telah berhasil melewati satu estafet panjang penulisan novel yang kemudian menjadi anak rohaninya. Selamat.

DAMAR JUNIARTO
Kontributor AlineaTV

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY