Dunia Puitika Presiden Gelo Gusjur Mahesa

1314
0
SHARE

ADA satu anekdot yang tak bisa dilupakan dari Gus Dur. Ia pernah berkata tentang kategori presiden Indonesia. Presiden pertama: gila wanita, Presiden ke dua : gila harta, presiden ke tiga : gila teknologi, Presiden ke empat : yang milih yang gila. Ketika kelakar itu diucapkan, ada sebagian orang merenung. Sebagian lagi langsung tertawa ngakak.

Selain menjadi kiai, Gus Dur terkenal humoris. Dalam pandangannya, sesuatu yang rigid, kaku, gejed, mampu menjadi lunak. Begitulah tabiat seorang kiai, meskipun pernah menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia, ia tak kehilangan sense of humor. Tidak salah, dari kelakar, ucapan, dan slengeannya sesuatu yang serius menjadi lebih santai sekaligus asyik. Tak segan pula, ia mengolok-olok dirinya sendiri. Seperti anekdot yang diucapkan tentang dirinya yang presiden. Hanya pemilih gila yang mau memilih presiden “gila”. Inayah Wulandari Wahid, putri bungsunya, pernah berujar bahwa almarhum bapaknya itu kalau tidak menjadi presiden, ya ia akan jadi pelawak.

Gus Dur acapkali berbicara seperti orang ngawur. Ia tak segan menyindir anggota Dewan Perwakilan Rakyat tak ada bedanya dengan Taman Kanak-kanak (TK). Ia mempunyai cara berpikir yang keluar dari pakem, misalnya tidak linear dan dengan pembawaan yang santai. Selain itu, cara mengolok-olok dirinya menjadi metode tersendiri agar membuat sesuatu menjadi lebih “profan” tidak terlalu “sakral”.

Begitulah sepenggal cerita tentang K.H Abdurahman Wahid, mantan presiden keempat Republik Indonesia.

Seperti halnya Gus Dur, seorang teaterawan bernama Gus Jur Mahesa tak ingin kalah dalam melanjutkan tradisi humor di Indonesia. Ia menuliskan sejumlah puisi dengan sense of humor dengan muktabar.

Sebagai presiden Republik Gelo, ia tak segan membuat puisi untuk mengolok-olok dirinya sendiri. Semacam perenungan juga sindiran. Lihat, misalnya pada puisi Aku Bukan Anak Kecil,

Gus,

Kenapa kau selalu menyuruhku?

Aku bukan akan kecil

 

Gus, kenapa kau selalu melarangku?

Aku bukan anak kecil

 

Gusti,

Aku bukan anak kecil

Kenapa mengiming-imingku hadiah

Agar melakukan suruhanmu?

 

Gusti,

Aku bukan anak kecil

Kenapa mengancamku dengan siksaan

Agar menghindar laranganmu?

 

Gusti,

Aku bukan anak kecil

Yang harus diiming-imingi permen

Agar mau melakukan suruhan ibu

Aku bukan anak kecil

Yang harus diancam potong uang jajan

Kalau jadi anak nakal

 

Aku bukan anak kecil

Umurku udah 40 tahun lebih

Maaf aku, Gusti yang agung

 

Membaca puisi di atas, kalau saja kita cermat Gusjur memainkan kata Gus untuk membuat semacam kesamaan yang menimbulkan nilai emotif. Gus dilanjutkan Gusti. Kesamaan lafal Gus itu kadang membuat tawa, seperti halnya plesetan dalam masyarakat Sunda, Gusti itu Agus Roti. Dalam puisi ini, Gusjur mengunakan puitika keluguan kanak-kanak untuk merefleksikan siapa dirinya itu.

Tak pelak, Gusjur menggunakan metode mengolok-olok dirinya sendiri. Ia menulis puisi tanpa beban metaforis. Lugas dan sederhana. Seperti sebuah celoteh dalam panggung. Dalam puisinya berjudul Presiden Republik Gelo, ia menulis,

 

Ada seorang manusia

Gusjur Mahesa julukannya

Wajahnya kasep dan ganteng kaltem tea

Suka total berteater, pokoknya gelo bingits

Punya dua sobat

Agus Injuk dan Andi Piteuk

Agus Injuk pemain longser yang vokalis rock n Roll

Andi Pitek calon kyai yang suka sekali main sandiwara

 

Ruang antara

Ada juga puisi Gusjur berkait dalam ruang antar hubungannya dengan Tuhan (Habluminalloh) dan hubungannya dengan manusia (Habluminannas). Dalam bagian “Hidupku” dan “Betapa Bodohnya Kita” nampak sekali kegelisahan Gusjur berada dalam ruang itu. Satu sisi merindukan Tuhan, satu sisi menertawakan kenyataan. Terutama dalam puisinya yang mengolok-olok tentang demokrasi. Ia merefleksikan kehidupan sehari-hari melalui pertanyaan filosofis tentang Tuhan. Meskipun secara santai, ia mengakrabi Tuhan seperti seorang teman. Seperti sebuah kalimat, “Ya Alloh, ok dech atas namamu yang pengasih dan penyayang/hidangan di depanku ini kunikmati saja bari nonton bola/.”

Namun, dalam puisi berjudul “Puasaku 2014”, “Puasaku Buatku”, “Puasaku Bukan Buatmu”, subjek dalam puisi ini seperti halnya terbejak dalam ruang antara menjadi manusia seutuhnya (Insan Kamil) atau manusia sebagai cermin dari Tuhan (imagog). Ia begitu gelisah mempertanyakan salah satu aspek ibadah dalam tradisi Muslim. Dengan kalimat lugas, ia tak membuat frasa simbolik, namun menggunakan bahasa popluer. Dapat dikatakan, cara menulis seperti itu sebagai cara paling sederhana memandang Tuhan lebih dekat.

Tidak hanya itu, puisinya berjudul “Aku Rindu Dukamu” cukup berhasil memberikan selubung makna.

AKU RINDU DUKAMU

 

Kekasih

Di belakang kacamatamu

Ada pupil lentik

Menyimpan sejuta duka

 

Kekasih

Di balik senyum manismu

Ada bibir merah kecokla-coklatan

Menyimpan permen rindu

 

Kekasih

Waktu kini telah beruban satu persatu

Aku rindu dukamu

Pada bait awal sampai kedua, puisi itu terkesan sederhana, seperti anak-anak SMA yang belajar menulis puisi. Menariknya, pada kalimat akhir, waktu telah telah beruban satu persatu dan “aku rindu dukamu”. Nah, sangat memukau, bukan? Ya, jika Sapardi menulis, Duka-Mu abadi, Gusjur Mahesa malah “rindu dukamu”.

Lebih dari itu, dalam bagian Mending Gelo Daripada Korupsi, Gusjur melakukan kritik terhadap kewarasan. Ia membuat puisi atas pandangan dirinya terhadap orang waras padahal di matanya, itu tidak waras.

Oleh karena itu, ketika saya membaca puisi Gusjur Mahesa terdapat sejumlah kategori yaitu humor, ruang antara dan kritik terhadap kewarasan. Pada humor, ia menggunakan metode kegilaan sebagai pemecah kebuntuan, kejumudan dan kewarasan. Dalam ruang antara, ia gelisah posisinya sebagai manusia. Pada kritik terhadap kewarasan, ia berpijak dari kenyataan bahwa antara gila dan waras sudah tak bisa dibedakan. Dalam puisi berjudul “Beda Orang Waras Dan Gila”, misalnya, ia mempunyai definisi tentang orang gila sekaligus puisi ini pun mengandung nilai emotif (sense of humor).

 

Beda Orang Waras dan Gila

Orang waras

Maunya mencari teman satu pikiran

Orang gila

maunya cari musuh dalam satu selimut

Dunia puitika Gusjur akan lebih mendapat tempat di hadapan pembaca. Sebab, ia tak pernah “bilangnya begini, maksudnya begitu,” meminjam kata Sapardi Djoko Damono. Ia menulis dengan “penuh cinta kasih dan damai.”

Pungkit Wijaya
Kontributor AlineaTV, esais, bermukim di Bandung

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY