Home Review Resensi Kampung Halaman dalam Kisahan Damhuri

Kampung Halaman dalam Kisahan Damhuri

1531
0
SHARE

Damhuri mengulas tentang masa kanak-kanak dan mitos kampung halaman. Ia nampaknya sengaja memasukan tema cerita kanak-kanak dalam buku kumpulan cerita pendek terbarunya.

SETELAH menerbitkan buku berjudul Lidah Sembilu (2006) dan Juru Masak (2009), Damhuri Muhammad kini tampil dengan cerita Anak-Anak Masa Lalu. Pada 2015, ia menerbitkan kumpulan cerita pendek (cerpen) bersama Penerbit Marjin Kiri. Ada empat belas cerpen terkumpul dalam antologi itu.

Benar pula, bila cerpen Damhuri ini mengisahkan sebuah mitos tentang manusia anjing, jimatsakti preman pasar, cinta terlarang, jurus silat dan korupsi dipelosok kampung. Sedangkan dalam epilog bukunya, ia menyebutkan, “Dunia yang saya rancang senantiasa bermula dari kenangan kampung halaman,” tulisnya. Tidak salah, jika Damhuri meracik seluruh kenangan masa silamnya (kanak-kanak) menjadi bahan kumpulan cerpen ini.

Namun, genetika ingatan itu tampil dalam kisahan yang gemilang. Ia membuat pertentangan realisme sosial dengan cerita yang apik. Sangat terasa dalam cerita penokohan hingga konflik satu dengan lainnya.

Pertentangan

Untuk membuat perbandingan, saya akan mengingat sebuah cerpen yang cukup terkenal dalam sastra Indonesia yaitu Dilarang Mencintai Bunga-Bunga. Kuntowijoyo membuat cerita pendek paling menarik berjudul Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (1996). Ia membuat kisah seorang anak bernama Buyung yang dilarang orang tuanya menyentuh bunga. Buyung diproyeksikan ayahnya harus bisa memegang mesin. Dalam cerpen itu, bunga adalah simbolilasi “feminin” sedangkan lelaki disimbolkan dengan bengkel; harus kuat dan bisa mandiri. Pada akhirnya, Buyung dilarang mencinta bunga-bunga.

Karakter Buyung muncul dalam kegamangan. Ia tak bisa menolak kuasa orangtua untuk memproyeksikannya. Maka proyeksi pribadinya menyukai bunga-bunga berbenturan dengan itu. Kuntowijoyo tidak memberi kesimpulan atas Buyung. Ia dibarkan tetap saja menjadi anak kecil. “Aku mulai segan bertemu dengan ayah…..pasti ayah akan datang dengan baju bergemuk. Kotor, seluruh badan berlumur minyak hitam. (1996:10).

Namun, ketika sang anak ditanya tentang gunanya tangan dan si anak tidak menjawab, tokoh ayah menjawabnya sendiri, “Untuk kerja! Engkau laki-laki. Engkau seorang laki-laki. Engkau mesti kerja. Engkau bukan iblis atau malaikat, buyung…cuci tanganmu untuk kotor kembali oleh kerja.” (1996:12).

Seperti halnya Kuntowijoyo, Damhuri menampilkan cerita pendek berkisah tentang pertentangan modernisme versus tradisonal. Dalam pada itu, Banun adalah salah satu judul cerita pendek Damhuri Muhammad yang sejalan dengan tema pertetangan modern versus tradisi dalam cerpen Kuntowijoyo. Cerpen ini pula yang dalam keterangannya terpilih dalam buku Pelajaran Bahasa Indonesia; Ekspresi diri dan Akademik kelas XI Semester I (Kementrian Pendiidkan dan Kebudayaan, 2013).

Jika diperhatikan, kisah Banun cukup menarik. Damhuri piawai untuk mengisahkan tokoh yang kikir dengan alur flasback. Banun Kikir adalah julukan kepada tokoh cerita. Ia lahir dari genealogis masyarakat pertanian. Sebagai masyarakat tani, ia mampu memanfaatkan hasil tanah itu dengan baik. Dalam kisahannya, Banun menceritakan perjalanan hidup bertani kepada Rimah, anaknya. “Ia menjelaskan kata “tani” penyempitan dari “tahani”, yang bila diterjemahkan ke bahasa kini berarti: ”menahan diri”. Menahan diri untuk tidak membeli sesuatu yang dapat diperoleh dengan cara bercocok tanam. Sebutlah misalnya, sayur-mayur,cabai, bawang,seledri, kunyit,lengkuas, jahe. Di sepanjang riwayat dalam menyelenggarakan hidup, orang tani akan hanya akan membeli garam.” (hlm 26).

Dalam kisahan, Banun menampik seluruh peralatan modern untuk tanamannya. “Meski sudah zaman elpiji, Banun masih mengasapi dapur dengan daun kelapa kering dan kayu bakar, hingga ia masih menyandang julukan si Banun Kikir. “Nasi tak terasa sebagai nasi bila dimasak dengan elpiji,” kilah Banun saat menolak tawaran Rimah yang hendak membelikannya kompor gas.”(hlm 30).

Konflik pun telihat ketika Palar ingin melamar anaknya Rustam kepada anak Banun. Rustam, satu-satunya sarjana pertanian di kampung. Sayangnya, ia datang dengan modernisasi ilmu, tapi perangainya buruk. Seorang sarjana yang menjual tanahnya untuk membayar hutang. Banun merasa itu adalah penghinaan bagi petani sejati. Menjual sawah berarti meniadakan lahan pertanian.

Dalam cerpen ini, Dahmuri piawai meracik konflik antara yang modern (Rustam dan keluarganya) dengan yang tradisi (Banun). Karakter Banun yang tradisional sebenarnya hendak diceritakan bersama mentalnya. Meskipun ia menolak seluruh peralatan modern (Kompor Gas Elpiji), namun ia mampu mengolah hasil tumbuhan yang ada. Mitos Banun Kikir hanyalah ungkapan kosong dari mental modern sebagai penjual tanah. Sikap itu pula yang mampu merawat kesejatian seorang petani. Oleh karena itu, cerpen ini pula yang terasa kuat dalam penceritaan tokoh gambaran sosial masyarakat desa.

Menariknya, Damhuri pun mengulas tentang masa kanak-kanak dan mitos kampung halaman. Ia nampaknya sengaja memasukan tema cerita kanak-kanak dalam buku kumpulan cerita pendek terbarunya. Seperti dalam cerpen Anak-Anak Masa Lalu Luka Kecil di Ujung Jari Dua Rahasia, Dua Kematian. Kiduk Menggiring Bola dan Rumah Amplop.

Selain pertentangan antara masyarakat modern dan tradisional, cerita dalam cerpen-cerpen Damhuri Muhammad cocok untuk dijadikan referensi sastra anak.

PUNGKIT WIJAYA
Esais, bermukim di Bandung

Detil buku:

anakanakJudul Buku: Anak-anak Masa Lalu (Kumpulan Cerita Pendek)
Penulis: Damhuri Muhammad
Penerbit: Marjin Kiri
ISBN: 978-979-1260-46-6
Tebal: 121 halaman

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here