Kepenyairan Chairil Anwar Ditopang Oleh Hidup Kerasnya

1248
0
SHARE

Sajak-sajak karya Chairil Anwar yang mampu menggetarkan jiwa para pendengar maupun pembacanya menunjukkan wawasannya yang luas sebagai seorang penyair.

Karya-karya yang dihasilkannya menunjukkan bahwa ia telah melaju ke depan lebih cepat melampaui zamannya pada saat itu.

Lahir dari pasangan keluarga berada Toeloes dan Saleha, Chairil tumbuh dalam kehidupan yang mewah dan manja. Namun, pertengkaran di antara kedua orangtuanya yang kerap terjadi membuat Chairil menjadi pribadi yang keras.

“Kepenyairan Chairil ditopang oleh jalan hidupnya yang keras,” ungkap sastrawan Damhuri Muhammad.

Setelah ayahnya menikah kembali dan melepaskan tanggung jawab sebagai ayah, Chairil mulai putus sekolah dan menjalani hidup yang tidak menentu. Kematian sang nenek membuat hidup Chairil semakin tak keruan.

“Di satu sisi, dia orang yang keras. Tapi, di sisi lain, Chairil adalah pribadi yang penyendiri. Ini bisa dilihat dengan sajak Nisan karangannya,” lanjut Damhuri Muhammad.

Chairil mulai terkenal di kalangan seniman Jakarta tahun 1943. Hobi membaca buku sajak terbitan asing menjadikan ia penggila buku dan menghabiskan banyak waktunya hanya untuk membaca buku-buku tebal.

“Saking gilanya dengan buku, Chairil pernah mencuri buku di toko. Namun, itu terjadi karena mungkin waktu itu hidupnya serba kekurangan, sampai Chairil tidak sanggup membeli sebuah buku.”

Meskipun tidak meninggalkan harta benda, termasuk buku-bukunya yang hilang entah ke mana. Chairil meninggalkan warisan terbesar lewat goresan kata-katanya.

“Saking besar warisannya. Chairil Anwar bahkan hidup (sampai) ‘seribu tahun’ seperti yang ia dambakan,” tutup Damhuri Muhammad.

Sumber: MetroTV

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.