Peluncuran Go Set A Watchman versi Bahasa Indonesia

565
0
SHARE

Pusat Kebudayaan @atamerica dipilih menjadi tempat peluncuran hasil terjemahan novel Go Set A Watchman karya Harper Lee pada hari Jumat, 4 September 2015 malam. Penerbitan novel — yang digadang-gadang penerbit Mizan sebagai novel yang hilang dari pengarang kenamaan Amerika ini — merupakan hasil perjuangan mendapatkan hak cipta yang didapat di hari yang sama novel ini diluncurkan di Amerika. “Mizan kembali mendapat kepercayaan setelah sebelumnya novel pertama Harper Lee To Kill A Mockingbird juga diterbitkan melalui Qanita imprint Mizan pada tahun 2006,” ujar Esti Budihabsari selaku editor dan penerjemah novel ini.

Selain memilih tempat yang mewakili negara latar cerita novel Harper Lee, peluncuran novel ini semakin istimewa karena menghadirkan sastrawan Leila S. Chudori, Sarah Zeibell dari kedutaan Amerika, dan Esti Budihabsari dari Mizan sebagai narasumber diskusi yang dipandu blogger buku Arman Dhani.

image
Foto: dok. @yukianggia
image
Foto: dok. @post_santa

Peserta diskusi sudah menunggu-nunggu peluncuran ini karena bukan rahasia lagi bahwa novel kedua ini penuh kontroversi. Di samping keberhasilannya memecahkan rekor dalam sejarah penerbitan Amerika dengan berhasil menjual 1,1 juta kopi dalam 1 minggu, ada kabar tak sedap soal proses penerbitannya yang dianggap “mengakali” Harper Lee yang sudah berusia 89 tahun, serta banyak pembaca yang bereaksi negatif selesai membaca novel ini di Amerika sana.

“Karya sastra yang baik adalah yang membuatmu merasa terwakili di dalamnya, terlepas dari latar belakang budaya,” kata Leila Chudori. Novel pertama To Kill A Mockingbird telah mengikat Leila sebagai pembaca pada tokoh Scout yang tomboy dan Atticus Finch ayahnya. Karenanya, pecinta Atticus Finch pasti akan patah hati karena tokoh ini di novel Go Set A Watchman sama sekali berbeda dari penggambarannya di To Kill a Mockingbird. Maka Leila menawarkan dua cara untuk mendekati novel ini: sebagai bagian dari dunia To Kill a Mockingbird atau sebagai novel yang sama sekali terpisah.

Sarah Zeibell memberi konteks novel ini dengan menceritakan situasi kota Alabama pada tahun 1950-an. “Penulisan novel ini dipengaruhi kasus Brown versus the Board of Edu, di mana Supreme Court AS melarang segregasi sekolah berdasar ras dan ini menimbulkan reaksi keras di daerah Selatan seperti Alabama,” ujarnya.

Esti Budihabsari menambahkan apa yang menurutnya penting dari kehadiran novel ini. “Menurut saya, novel ini dan novel sebelumnya merupakan satu cycle yang utuh. Di novel ini, gambaran kagum Scout pada ayahnya ketika 6 tahun dipatahkan dengan kenyataan 20 tahun kemudian. Di novel ini akan terungkap siapa sebenarnya Atticus Finch.” Esti menambahkan terjemahan novel ini akan siap edar di toko buka mulai 12 September.

Selain diskusi, dalam peluncuran kali ini Peter dari Mizan mengajak para peserta untuk ikut kampanye viral “Say No to Racism” yang disiapkan Mizan untuk mendukung penyebaran sikap penolakan rasisme seperti yang diyakini oleh Harper Lee.

DAMAR JUNIARTO, Kontributor AlineaTV

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY