Oka Rusmini dan Jalan Persembahan

887
0
SHARE

Di masa kanak-kanak, setiap kali paman hendak menanam tunas kelapa, saya girang alang-kepalang. Di hadapan lubang yang digali sebelumnya, paman merundukkan tubuhnya, lalu mempersilahkan saya meloncat ke pundaknya. Setelah kaki mungil saya menjuntai di lingkar lehernya, barulah ia menanam tunas kelapa itu. Ia bubuhi dengan pupuk kandang dan perlahan ia timbun dengan tanah bekas galian. Sepanjang peristiwa itu tubuh saya tetap berada di pundaknya, dan itu terjadi berkali-kali. “Tunas ini akan besar dan meninggi, lalu mendedahkan buah yang bakal dinikmati anak-cucu,” kata paman, sebelum ia meminta saya turun. Saya menikmati pengembaraan imajiner saat berada di pundak paman. Kadang saya merasa sedang menunggangi naga terbang guna membasmi kejahatan di kampung-kampung yang sedang diserang komplotan pendekar dari dunia hitam. Saya tidak tahu apa hubungan kesuburan tunas kelapa dengan bocah laki-laki yang bertengger di pundak orang yang menanamnya.

Setelah bertahun-tahun saya meninggalkan kampung, setiap kali pulang, saya selalu menengok, dan duduk berlama-lama tak jauh dari pohon-pohon kelapa itu. Paman sudah tiada, ayah saya yang kemudian merawat pohon-pohon itu pun sudah berpulang, tapi ingatan saya pada peristiwa penanaman itu tak bisa hilang. Pohon-pohon kelapa yang telah menghidupi keluarga kami itu telah menjadi bagian hidup saya. Saya sering membandingkan usia saya dengan umur pohon-pohon itu. Saya kian ringkih, sementara pohon-pohon itu makin liat dan kokoh. Daunnya melambai saban petang, berbuah sepanjang waktu, seolah-olah mereka bakal kekal, sebagaimana kekalnya ingatan saya pada peristiwa penanaman di masa lalu.

Tatkala tunas kelapa ditancapkan, jangan-jangan paman juga menancapkan sukma saa di sana. Mungkin paman menyekutukan sukma saya dengan setiap tunas kelapa yang ditanamnya, hingga sejauh apapun saya pergi, diri saya tetap tertinggal di situ. Itu sebabnya saya tidak bisa sungguh-sungguh berpisah dari pohon-pohon itu. Inilah yang saya rasakan selepas menelusuri pengembaraan puitik Oka Rusmini dalam antologi Saiban (2014). Oka sedang menyingkap jalan menuju persekutuan dengan alam, dengan diksi-diksi seperti kulitnya pandan berduri, perempuan bertubuh batu, kekasihku hidup di balik kulit rambutan, pisang yang kau tanam di otakku. Bersekutu tak sekadar hidup berdampingan, tapi menyatu atau bersenyawa dengan alam. Sebab, manusia bukan sekadar “jagad cilik” (mikrokosmos), bukan hanya miniatur alam (makrokosmos), tapi adalah juga alam itu sendiri.

Bagi Oka, jurang pemisah antara alam dan manusia mesti dijembatani hingga pohon pisang dapat tumbuh dalam otak, berkembang-biak dalam aliran darah di tubuh manusia. Demikian yang terjadi pada puisi-puisi dengan kalimat-kalimat; kabut menggenangi mataku, matamu penuh pandan berduri, siapa menabur badai di kulitmu? Remahannya menyakiti kulitku.

Matamu penuh pandan berduri boleh jadi dimengerti sebagai tatap yang tajam dan melukai, tapi Oka tidak sedang membangun analogi, karena ia sedang berupaya melampaui bahasa kiasan. Kabut menggenangi mataku bisa jadi dimaklumi sebagai kerabunan yang tak terpermanai, tapi lagi-lagi Oka tak sedang bermain-main dengan perkakas metaforik. Bagi Oka, pandan berduri benar-benar menjalar di dalam bola mata, dan kabut sungguh menggenang di sana. Tak perlu repot menggali makna kiasannya, karena penyair benar-benar menginginkan situasi faktualnya.

Obsesi imajiner semacam itu mungkin tidak akan terwujud dalam keseharian penyair, begitupun dalam keseharian kita yang nyaman dalam realitas profan. Tapi di dunia lain, khususnya dalam lelaku sufistik, ungkapan-ungkapan berbau kiasan dapat benar-benar terjadi. Suatu hari seorang sufi sedang berkelakar ringan dengan muridnya. Sambil mengupas buah kelapa, sufi itu bilang, di mana ada air, di situ ada ikan. Si murid tampak meragukannya. Tapi, begitu tempurung kelapa terbelah, seekor ikan meloncat keluar bersama cipratan air kelapa. Ikannya nyata. Kelapanya benar-benar kelapa. Airnya bahkan direguk sempurna oleh si murid. Kesadaran puitik Oka dalam Saiban lebih kurang sama dengan peristiwa itu.

Hujan di sel-sel darahmu/mendung di otakmu/kilat di bibirmu/angin puyuh di jantungmu/badai di hatimu (hal 26), adalah upaya Oka menyambung mata rantai yang genting (atau boleh jadi sudah putus) antara alam dan manusia. Alam yang selama ini menjadi sasaran empuk dari objektivikasi ditunjukkan dalam ungkapan-ungkapan menakutkan; Kilat, angin puyuh, badai. Gejala-gejala alam yang kini belum terbendung oleh teknologi semaju apapun. Sementara manusia direpresentasikan dengan darah, bibir, jantung, hati. Yang paling tangguh dari manusia tentu otaknya, yang paling berbahaya barangkali bibirnya (mulutnya), dan yang paling istimewa tentu jantung-hatinya. Dua entitas itu disenyawakan, hingga kedahsyatan sekaligus ketakjuban terhadap keduanya, berada dalam timbangan yang setara. Tak saling melampaui, apalagi saling membinasakan.

Di abad ini, masih banyak rahasia alam yang tak tersingkap, bahkan oleh pencapaian sains modern paling jitu sekalipun. Sains modern hanya sanggup mengurai gejala-gejala alam kurang dari sepertiganya. Selebihnya masih tanda tanya besar yang entah kapan bakal terkuak. Maka, alih-alih menguras pikiran guna membongkar rahasia semesta, sejak lama leluhur kita telah hidup dan menyatu dengan alam. Mereka memperlakukan tumbuh-tumbuhan, hewan, dan batu-batu yang tergeletak di permukaan bumi sebagai entitas yang memiliki sukma sebagaimana kita, kaum manusia.

Di masa kanak-kanak pula, saya pernah menanam tebu. Saban petang saya siangi, dan kelak setelah tumbuh besar dan memanjang, akan saya tebang. Akan saya jadikan bekal penyangga dahaga bersama teman-teman sesama penggembala kambing. Setelah tiba waktunya, ternyata yang tersisa dari tebu milik saya hanya akar dan tunggulnya. Tiga orang anak dari saudara perempuan ibu saya yang sedang berlibur di kampung, telah mendahuluinya. Mereka menyantap potongan-potongan tebu itu sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan. Saya marah bukan main. Bukan soal manis tebu yang gagal saya cicipi, tapi perihal sukma saya yang juga tertanam bersama tertanamnya rumpun tebu itu. Saya merasa jiwa saya direnggut paksa, dirampas secara rakus. Bujukan Emak segera tiba. Masih banyak rumpun tebu. Tak usah risau katanya. Saya memadamkan nyala amarah. Tak ada protes, tak ada keributan. Tapi, saya tak bisa mengikhlaskan kesewenang-wenangan itu, bahkan hingga saya tumbuh dewasa.

Sejak itulah saya lebih gembira bercengkrama dengan kambing-kambing piaraan dan ayam-ayam jago kesayangan. Rasanya lebih pantas berbincang dengan rumpun tebu dan hewan-hewan ketimbang dengan manusia. Saya percaya kambing mengerti obrolan saya. Pohon merekam kegelisahan saya, bahkan mengamini cita-cita saya. Begitulah saya mempercayai bahwa diri saya dan alam di sekitar saya adalah dua entitas yang di masa silam tak berjarak, apalagi terpisah. Puisi-puisi Oka Rusmini dalam Saiban membangkitkan kerinduan pada kekariban dengan tumbuhan, binatang, dan batu-batu.

Saiban ditulis dengan cara tak biasa. Duapuluh sembilan puisi hanya dibuhul dengan satu kata; Saiban (persembahan). Sesaji paling sederhana selepas memasak dalam tradisi Bali. Maka, sejumlah puisi dalam Saiban adalah persembahan kecil Oka pada alam yang sudah letih lantaran tak henti-henti dieksploitasi dan terus dibinasakan atas nama kegemilangan peradaban manusia.

Oka masih menggunakan diksi hujan, mendung, kabut, daun-daun, namun ia tidak sedang merancang puisi-puisi yang sekadar merias muka dengan kefasihan berbahasa, sebagaimana kelaziman lirisisme yang telah menjadi berhala dalam tarikh puisi Indonesia. Terlepas dari sejumlah puisi yang terasa masih cair dan verbal, Saiban bergerak melampaui pola-pola lirik seperti tetes embun yang jatuh di sehelai daun. Ia menerabas kebekuan dan mendobrak kebuntuan cara berpuisi yang sudah lapuk dan renta…

DAMHURI MUHAMMAD, sastrawan, tinggal di Depok, Kontributor AlineaTV

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY