Orang-Orang Transisi di Novel Oeroeg

902
0
SHARE

Novel Oeroeg berkisah tentang persahabatan antara seorang anak laki-laki Belanda dan anak laki-laki pribumi. Persahabatan berubah semasa Agresi Militer. Si sinyo Belanda bingung melihat perubahan Oeroeg, sementara Oeroeg sang bocah pribumi menjadi patriotis dan ikut aksi revolusi kemerdekaan Indonesia sehingga persahabatan mereka berada di persimpangan jalan.

Novel berlatar Sukabumi zaman kolonial ini diterbitkan pertama kali pada 1948 dalam bahasa Belanda. Namun baru tahun 2009 novel tersebut dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. Penulisnya, Hella Serafia Haasse, lahir di Batavia pada tanggal 2 Februari 1918. Ibunya adalah seorang pianis bernama Katherina Diehm-Winzenhohler dan ayahnya seorang inspektur keuangan pemerintahan kolonial Belanda bernama Willem Hendrik Haasse. Lewat pekerjaan ayahnya, kehidupan di Indonesia pernah dirasakan Hella.

Oeroeg adalah novel debutnya pertama kali, tetapi terjemahan ini bukanlah terjemahan pertama karya Hella. Sebelumnya sudah terbit Mata Hati karya Hella S. Haasse juga, seingat saya bukan dari penerbit Gramedia.

Semangat “Mooi Indie” dalam Oeroeg

Sesungguhnya Oeroeg adalah novel yang mengusung semangat “mooi Indie”, sama seperti lukisan-lukisan yang bertebaran di jagad seni rupa, yang menggambarkan serba keindahan, serba nyaman, serba indah-gemah ripah loh jinawi.

“…Oeroeg mengusulkan kami berenang di sungai yang mengalir dengan bunyi menarik dan menggemeriik melalui bebatuan. Sungai itu setengah tersembunyi di bawah semak-semak yang merunduk. Kami melempar pakaian-pakaian sehingga menumpuk di antara semak-semak itu, lalu turun ke air yang segar dan sebening kaca.”

Jangankan tokoh Aku, saya pun saat membacanya ingin juga merasakan keindahan lingkungan perkebunan Kebon Jati, jauh di pedalaman Pegunungan Priangan, Sukabumi, Jawa Barat. Maka tak heran, bila dalam ingatan tokoh Aku, ia tak bisa lepas dari negeri tempatnya tumbuh besar, tempatnya bertemu dengan Oeroeg, sahabat karibnya dari kecil yang ibarat bumi-langit, statusnya berbeda jauh darinya. Ia yang anak seorang administrateur Belanda, seorang pengurus perkebunan di zaman Hindia-Belanda berteman baik dengan Oeroeg, anak inlander/pribumi, si sulung dari mandor perkebunan.

Hella S. Haasse membungkus semangat “mooi indie” ini dengan cerita persahabatan. Wajar, anak-anak belum tahu keberpihakan. Dari sampul, kita sudah bisa menangkap bahwa isi novel akan menyentuh persoalan perbedaan sosial ini. Gambaran dua anak lelaki berdiri di bawah deras hujan, yang satu lengkap bersepatu, berambut terang, dan mengenakan payung. Sedangkan di sebelahnya bisa dipastikan bahwa itu adalah Oeroeg, anak inlander yang bertelanjang dada dan kaki, berambut gelap, serta berlindung di bawah daun pisang sesungguhnya cukup memberi gambaran gamblang bagaimana isinya nanti.

Situasi semakin sulit dengan berbagai persoalan di seputar pekerjaan ayah Aku dengan ayah Oeroeg, antara tuan dan mandor, serta balasan terhadap jasa Deppoh, bapak Oeroeg yang telah menyelamatkan anak seorang tuan Belanda. Lagi-lagi ini penggambaran wajah bagaimana tidak semua orang Belanda itu jahat. Penggambaran yang bisa jadi benar, karena bukan berarti semua Belanda yang ada di negeri ini penjajah.

Hubungan Indonesia-Belanda

Cukup menggelitik bagi saya untuk mendudukkan peran novel yang telah memenangkan penghargaan ini dalam sejarah bangsa kita. Karena pada tahun novel Oeroeg ini terbit pertamakali di Belanda tahun 1948, sesungguhnya sedang terjadi peristiwa dalam hubungan Belanda dengan Indonesia. Sebuah peristiwa yang sebenarnya bisa dicatat sebagai kejahatan perang yang dilakukan pemerintahan Belanda kepada bangsa ini.

Dalam sejarah tercatat, pada tahun 1947 delegasi Republik Indonesia menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB, korban pembantaian terhadap penduduk yang dilakukan oleh Kapten Raymond Westerling sejak bulan Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa. Mengenai bagaimana pembantaian itu dapat dilihat dalam buku yang terbit tahun 1995, berjudul De Excessennota yang berisi hasil penyelidikan yang dilakukan berdasarkan keputusan Parlemen Belanda atas berbagai penyimpangan dan kejahatan yang dilakukan oleh tentara Belanda di Indonesia antara tahun 1945 – 1949. Buku itu memuat cukup rinci mengenai puluhan kasus pelanggaran yang dilakukan oleh tentara Belanda. Beberapa kalangan di Belanda sendiri menyatakan, bahwa yang disebut secara lunak sebaga “Excess”, tidak lain adalah “war crimes” atau kejahatan perang. Jadi novel terbit di saat keadaan dan situasi politik antara Indonesia dan Belanda sedang bergejolak karena Agresi Militer Belanda II atas Indonesia.

Pembantaian itu berkaitan dengan tidak diakuinya pengakuan proklamasi 17 Agustus 1945 oleh pemerintah Belanda, karena mereka hanya sekedar menerima proklamasi 17 Agustus 1945 secara politis dan moral serta menyatakan rasa penyesalan atas penderitaan bangsa Indonesia atas tindakan militer yang dilancarkan tentara Belanda setelah proklamasi. Media di Belanda jelas menulis, bahwa Menlu Belanda Ben Bot menyatakan “anvaarden” (menerima) dan bukan “erkenning” (pengakuan).

Lalu apakah terbitnya novel ini dan diterimanya novel ini seperti hendak “menutup mata” terhadap hubungan buruk di antara kedua negara ini? Ataukah memang Hella S. Haasse terlalu jujur, hanya ingin mengungkapkan kebanggaannya sebagai anak kelahiran Batavia yang pernah merasakan keindahan panorama negeri ini tanpa pretensi lebih jauh? Atau bisa jadi novel ini menjadi menarik dikarenakan ia mencuatkan bagaimana persahabatan sejati bisa tumbuh subur bahkan di tengah konflik dan masalah-masalah perbedaan ras.

Orang-orang di Persimpangan Jalan

Saya mencoba melihat novel ini sebagai sebuah pernyataan dari “orang-orang di persimpangan jalan”, mereka yang berdiri di dua kutub yang berbeda, antara Belanda dan Indonesia baik penulisnya, maupun tokoh-tokoh di dalam novelnya.

Hella S. Haasse lahir sebagai anak Eropa di tanah jajahan. Rasanya tentu sulit menyingkirkan semua kenangan masa kecilnya itu dari ingatannya. Sudah terlanjur tertancap keindahan Tangkuban Perahu, panorama perbukitan yang membentang di Jawa Barat. Kegelisahan kebanyakan anak Eropa kelahiran Indonesia ibarat kegelisahan seorang anak yang harus berpisah dengan rumahnya. Rumah pemikirannya adalah Indonesia. Itu menjadikan dirinya bagian dari “orang-orang di persimpangan jalan”, orang-orang yang sebenarnya bingung mengenai identitasnya: sebagai anak Eropa, tapi kenapa dia justru mengagumi Tangkuban Perahu daripada Scheveningen, pantai tempat wisata di Den Haag yang sangat terkenal di Belanda?

Problem yang sama juga terjadi pada tokoh Aku di novel ini. Ia sulit mengidentifikasi dirinya. Ia tidak segamblang gurunya, si pemburu, yang secara mengesankan mengatakan ini:

“…lebih tinggi atau lebih rendah karena warna kulit wajahmu atau karena siapa ayahmu—itu omong kosong. Oeroeg kawanmu, kan? Kalau memang ia kawanmu—bagaimana bisa ia lebih rendah dibanding kau atau yang lain?”

Ia jelas-jelas sudah memilih menjadi pribumi. Sedang tokoh Aku, adalah tokoh yang bimbang. Ia selalu dalam medan gaya tarik antara pribumi dan Belanda, dan pada akhirnya ia memilih menjadi Belanda. Indonesia sebagai rumahnya hanya ada di dalam masa lalunya. Itulah yang membuat ia tidak mengerti tentang Oeroeg, tidak mengerti mengapa Oeroeg begitu marah.

Oeroeg pun dilanda hal yang sama. Ia sempat bingung, namun para pembaca akhirnya mengetahui bahwa Oeroeg memilih menjadi bagian dari gerakan nasionalis yang ingin memerdekakan diri, meskipun ia tahu resikonya adalah menjauhkan diri dari sahabatnya sendiri.

Penutup

Biarpun ada celah kekurangan yang hadir dalam novel ini, namun saya melihat novel ini penting. Paling tidak di kemudian hari, misalnya, pembaca bisa membandingkan bagaimana para tokoh di novel Oeroeg ini bila dibandingkan dengan para tokoh di novel Burung-Burung Manyar yang juga mengalami gejala kegelisahan yang sama soal identitas.

DAMAR JUNIARTO, Kontributor AlineaTV

Detil buku:
Judul: Oeroeg
Tahun : 2009
Penulis : Hella S. Haasse
Penerjemah : Indira Ismail
Ilustrator : Martin Dima
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-4986-6
Cetakan: 1
Tebal : 144
Binding : Paperback

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here