Faisal Oddang: Paling Sering Menemukan Ide Saat Melamun dan Jalan Kaki

3121
0
SHARE

Mari berkenalan dengan Faisal Oddang, penulis muda berbakat yang cerpennya “Di Tubuh Tara dalam Rahim Pohon” meraih predikat Cerpen Terbaik Kompas.

Dalam dua tahun terakhir, penulis yang satu ini telah memenangi banyak penghargaan, di antaranya: Juara III Lomba Puisi Nasional Kemenparekraf, Juara II Lomba Puisi dan Juara II Lomba Cerpen Nasional Writing Revolution 2013, Juara Favorit Lomba Menulis Cerpen Nasional PT. Rohto, Juara I Lomba Puisi Nasional Universitas Gajah Mada 2014, Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014, Peraih anugerah ASEAN Young Writers Award 2014 dari pemerintah Thailand, dan masih banyak lagi yang lain.

Di sela jadwal kuliahnya di Universitas Hassanudin, ia seringkali didaulat sebagai penulis undangan di beragam acara seperti Makassar International Writers Festival (MIWF) maupun Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Cerpen dan puisinya tersebar di beragam media nasional seperti Kompas, Berita Kota Kendari, Harian Fajar Makassar, Radar Banjarmasin dan lain-lain.

Saya paling sering menemukan ide saat melamun dan jalan kaki (saya suka jalan kaki): saya melamun setiap pagi, setiap bangun, dan di kamar mandi juga sering melamun–saya pelamun, tepatnya.

Kabarnya sejak kelas 3 SD gemar membaca. Apakah suka menulis karena suka membaca atau sejak mengenal patah hati?

Ayah saya pendongeng yang tekun, bahkan sebelum sekolah, setiap menjelang tidur dia akan mendongengi saya dongeng-dongeng lokal Sulsel, seperti Nene’ Pakande–dan bahkan kisah I La Galigo tak luput beliau kisahkan. Saat sekolah–kelas tiga SD, saya dijahili tetangga saya, diberi novel stensilan seperti karya Fredy S. Saya tidak merasa dijahili, saya menikmati membaca novel-novel Fredy S bahkan tanpa mengerti isinya, yang jelas saya baca saja.

Dari mana biasanya ide menulis datang?

Saya suka baca buku sejarah dan kebudayaan, juga suka film klasik dan tentu musik band dan penyanyi ‘lawas’ (Ebiet, Broery, Pance, The Beatles, Queen, MLTR, bahkan Hank Williams, entah kenapa selera saya ‘lawas’) dan saya pikir ide saya datang karena akumulasi bacaan, tontonan, musik serta pengalaman saya hidup di lingkungan tradisional. Saya paling sering menemukan ide saat melamun dan jalan kaki (saya suka jalan kaki): saya melamun setiap pagi, setiap bangun, dan di kamar mandi juga sering melamun–saya pelamun, tepatnya.

Secara khusus menyediakan waktu untuk menulis tiap harinya atau tergantung pada datangnya inspirasi?

Saya mewajibkan diri menulis 2 jam per hari–kalau lagi ‘bagus suasananya’ saya bahkan bisa menulis seharian, dan jarang dalam sehari tidak menulis–sesedikit apa pun yang saya tulis, sejelek apa pun, intinya harus nulis.

Mana yang lebih dulu, menjadi mahasiswa sastra atau suka menulis?

Saya suka menulis sejak SMA, dan memilih Sastra karena saya pikir akan diajari menjadi penulis (fiksi/kreatif), ternyata saya salah.

Siapa 5 pengarang favorit Faisal?

Arundhati Roy. Dorothy Parker. Iwan Simatupang. Julio Cortazar. Sapardi Djoko Damono. Mario Vargas Llosa.

Menulis genre tertentu atau khusus 1 genre saja? Apa alasannya?

Saya menulis apa saja, suka-suka saya. Alasannya tidak tahu. Mungkin kalau harus ada alasan, jawabannya; senyamannya saya, yang saya tulis, suka-suka saya.

Kalau diurutkan menurut kesukaan, mana yang lebih passionate untuk Faisal, menulis puisi, cerpen atau novel?

Saya berawal dari puisi, dan lebih sering menulis puisi, entah kenapa lebih dikenal sebagai prosais.

Sebagai mahasiswa sastra yang menggeluti dunia menulis fiksi, menurut Faisal apakah menulis fiksi perlu dijadikan jurusan terpisah? Mengapa?

Perlu. Mahasiswa sastra setahu dan sepengalaman saya, lebih diarahkan jadi kritikus sastra atau pengajar sastra., padahal keduanya, tentu akan lebih kuat jika dibarengi kecakapan menulis fiksi yang baik. Ya, tidak harus sih, tetapi saya pikir sangat penting–dan sebagai mahasiswa sastra, secara subjektif, saya butuh itu.

Adakah hobi lain selain menulis?

Di luar menonton, membaca, menulis dan mendengar musik: Saya kapten tim basket dan tim futsal di SMA saya–dulu saya ingin jadi atlet, dan sekarang saya memilih jadi penulis, tetapi hobi olahraga tidak saya tinggalkan meski sudah jarang.

Bagaimana awal ide, penentuan karakter dan penutup cerita cerpen “Di Tubuh Tara dalam Rahim Pohon”, yang memenangkan Cerpen Terbaik Kompas 2015?

Awalnya sederhana saja sebenarnya, saya pikir kayaknya menarik, mayat-mayat itu dibikin seperti hidup bertetangga seperti di dunia–seperti di rumah susun, bisa interaksi–dan tidak lupa eksploitasi pariwisata saya masukkan untuk menyentil pembaca.

Adakah pesan khusus yang ingin disampaikan melalui cerpen “Di Tubuh Tara dalam Rahim Pohon‎”?

Di endingnya saya menyampaikan bahwa perusakan atau eksploitasi situs budaya dan pariwisata bisa karena penduduk lokal atau turis–yang semestinya, kedua golongan itu, menjaga ‘kekayaan’ budaya Toraja, dalam hal ini.

Cerpen-cerpen Faisal kebanyakan berlatar budaya Toraja. Sehingga tidak salah rasanya bila pembaca menganggap budaya Toraja, disamping sebagai budaya asal Faisal, juga dianggap sangat penting untuk dikisahkan dari berbagai sudut. Seberapa penting hal tersebut untuk Faisal?

Terlalu sempit kalau mengatakan budaya Toraja saja, sejujurnya, saya ingin menampilkan budaya Sulsel secara keseluruhan. Dan menurutku itu penting, sebagai orang Sulsel, saya merasa perlu mengenalkannya; atau dalam isitilah saya, “membuka kulitnya, agar orang lain melihat isinya.”

Selain kental dengan lokalitas budaya, cerpen Faisal selalu dibumbui romantika baik lawan jenis maupun sesama jenis. Sekedar untuk mempermanis cerita atau ada tujuan tersendiri?

Entahlah, saya tidak sadar lho soal itu. Hehehe. Tapi mungkin karena ‘gairah muda’ saya, ‘gairah jatuh cinta dan patah hati saya’, kisah cinta tidak bisa saya hindarkan. Heheh.

Bagaimana Faisal memandang istilah ‘pena lebih tajam daripada pisau’ dalam berkarya?

Saya sepakat; pisau hanya akan memengaruhi fisik (melukai) seseorang, tetapi tulisan bisa memengaruhi sampai ke batin, pikiran, dan tentu fisik.

Saat ini, karya berupa puisi makin digemari. Sebagai pegiat puisi, optimiskah Faisal bahwa ke depan puisi akan mampu bersaing dengan cerpen dan novel?

Kalau ‘bersaing’ yang dimaksudkan di sini adalah dari segi komersialnya–saya belum bisa memastikan, namun jika bersaing dari segi penikmat puisi, saya pikir puisi punya tempatnya sendiri. Media sosial yang menjamur, membuat anak muda gemar mengutipkan puisi misalnya–itu sebuah potensi. Soal persaingan, saya pikir ketiganya punya tempat masing-masing.

Biodata Singkat:
Nama: Faisal Oddang
T.T.L: Wajo, 18 September 1994
Email/FB/Twitter: [email protected] / Faisal Oddang / @faisaloddang_

Karya:           
– Novel Rain And Tears (Divapress, 2013)
– Antologi Puisi Merentang Pelukan (Motion, 2012)
– Antologi Puisi Wasiat Cinta (Nala Cipta Litera, 2013)
– Antologi Cerpen Dunia di Dalam Mata (Motion, 2013)
– Antologi Cerpen Cerita Horor Kota (Plotpoint, 2013)
– Antologi Cerpen Kisah dari Rumah Kambira (Smartwriting, 2013)

Nastiti Denny, Kampung Fiksi

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Share
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here