3 Versi Hari Sastra Indonesia

827
0
SHARE

Pemerintah Indonesia melalui Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti telah menetapkan bahwa Hari Sastra Indonesia jatuh pada tanggal 3 Juli. Tanggal tersebut dipilih merupakan tanggal lahirnya Abdul Moeis, penulis novel Salah Asuhan yang lahir 3 Juli 1886. Namun selain tanggal tersebut ada lagi 2 versi lain Hari Sastra Indonesia: 6 Februari dan 18 Maret. Mengapa ada 3 versi?

Versi 1: 3 Juli

Abdoel Moies (3 Juli 1886 - 17 Juni 1959)
Abdoel Moies (3 Juli 1886 – 17 Juni 1959)

Pada 24 Maret 2013, pertemuan sastrawan terkemuka Indonesia yang dimotori oleh Taufiq Ismail di Bukittinggi, Sumatra Barat, yang dihadiri wakil menteri pendidikan serta sejumlah tokoh nasional dan daerah, menetapkan 3 Juli sebagai Hari Sastra Indonesia. Tanggal itu diambil dari kelahiran Abdoel Moeis, wartawan, politisi, dan sastrawan.

Abdoel Moeis lahir pada 3 Juli 1886 di Solok, Sumatra Barat –versi lain menyebut tahun kelahirannya: 1878, 1883, dan 1890. Lulus sekolah dasar yang diperuntukkan bagi komunitas Eropa (ELS), Abdoel Moeis masuk sekolah dokter Jawa (STOVIA) namun keluar karena sakit. Berkat bantuan JH Abendanon, direktur departemen pendidikan dan agama, dia bekerja di departemen tersebut sebagai jurutulis. Hanya dua tahun bekerja, dia pindah ke Bank Rakyat. Tak tahan melihat penyelewengan para pejabat bank, dia berhenti dan bergabung dengan Abdul Rivai, pemimpin Bintang Hindia, sebuah majalah progresif terbitan Amsterdam (1901-1908).

Abdoel Moeis bertindak sebagai wartawan dan pemimpin redaksi Bintang Hindia edisi bahasa Indonesia di Batavia. Berakhirnya penerbitan majalah tersebut akibat dihentikannya dukungan keuangan pemerintah, memaksanya pindah ke suratkabar Belanda, Preanger Bode, yang juga tak bertahan lama.

Pada 1912, Abdoel Moeis bersama A. Widiadisastra seorang wartawan asal Banten dan pernah bekerja di suratkabar Medan Priyayi pimpinan Tirto Adisuryo; dan Mohammad Yunus, seorang Arab dari Palembang sebagai penyokong keuangannya, mendirikan suratkabar Kaum Muda, sebuah suratkabar progresif berbahasa Indonesia yang belakangan diperhitungkan oleh pihak Belanda.

Sejak itu, dia berhubungan erat dengan tokoh-tokoh Islam. Atas permintaan HOS Tjokroaminoto, dia bersama Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) dan Wignyadisasra bergabung dengan Sarekat Islam (SI) yang berdiri pada 1911 di Solo; organisasi politik ini semula namanya Sarekat Dagang Islam yang bertujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam. Abdoel Moeis menjadi ketua SI cabang Bandung, Ki Hajar Dewantara wakil ketua, dan Wignyadisasra sebagai sekretaris.

Saat cabang SI mencapai 50 lebih, dibentuk Central Sarakat Islam (CSI) pada 1915 berkedudukan di Surabaya. Tjokroaminoto sebagai ketua, Abdul Muis wakil ketua, dan Haji Samanhudi ketua kehormatan. Pada awal 1918, Abdoel Moeis dari CSI terpilih sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat).

Akibat aktivitas politiknya dengan SI, Abdoel Moeis berhadapan dengan pemerintah kolonial Belanda. Tak lama setelah Abdoel Moeis mengunjungi Toli-Toli, Sulawesi Tengah, rakyat di sana menolak kerja rodi dan melakukan perlawanan pada Juni 1919. Sejumlah pegawai pribumi dan seorang controleur (pengawas) De Kat Angelino terbunuh. Pemerintah menuduh Abdoel Moeis mengompori rakyat untuk memberontak. Pada 11 Februari 1922, Abdoel Moeis memimpin pemogokan besar-besaran buruh pegadaian di Jawa, dan pada 1923 memperjuangkan masyarakat Minangkabau dalam memperjuangkan hak tanahnya yang berkaitan dengan pajak (belasting).

Akibat kegiatan tersebut, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan passenstelsel, yang melarang Abdoel Moeis mengunjungi semua daerah di luar pulau Jawa dan Madura. Karena larangan itu, Abdoel Moeis kemudian tinggal sebagai petani di Garut tahun 1924 dan mengawali penulisan novelnya awal tahun 1927 saat dia sudah meninggalkan kegiatan politiknya dalam Sarekat Islam selama lebih dari satu dasawarsa (1912-1924).

Karya perdana Abdoel Moeis berjudul Salah Asuhan diterbitkan Balai Pustaka pada 1928. Novel ini diadaptasi ke layar lebar oleh sutradara Asrul Sani pada 1972, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Tiongkok dan Jepang. Pada 1933, dia menerbitkan novel keduanya, Pertemuan Jodoh, dan menerjemahkan beberapa novel asing. Baru pada 1950 dia menerbitkan novel Surapati dan tigatahun kemudian novel Robert Anak Surapati.

Abdoel Moeis meninggal pada 17 Juni 1959 di Bandung. Pada tahun itu juga dia diangkat menjadi pahlawan nasional yang diangkat oleh Presiden Sukarno pada 30 Agustus 1959.

Versi 2: 6 Februari

Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925 - 30 April 2006)
Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925 – 30 April 2006)

Merespon penetapan 3 Juli sebagai Hari Sastra Indonesia dan sebagai sikap protes karena dasar penetapannya adalah Abdoel Moeis sebagai anak emas Balai Pustaka, kelompok sastrawan Boemipoetra mengeluarkan versi tanding Hari Sastra Indonesia. Dipilih tanggal 6 Februari yang sama seperti hari lahir Pramoedya Ananta Toer sastrawan kelahiran Blora, 6 Februari 1925. Salah satu penggagas usulan ini adalah Saut Situmorang.

Pramoedya Ananta Toer adalah salah seorang sastrawan Indonesia yang karya-karyanya mengandung semangat kebangsaan Indonesia, anti kolonialisme, anti feodalisme dan bersifat kerakyatan. Selain itu, Pramoedya Ananta Toer juga satu-satunya sastrawan Indonesia yang berkali-kali dinominasikan sebagai pemenang Hadiah Nobel Sastra.

Versi 3: 18 Maret

Marco Kartodikromo (1890 - 18 Maret 1935)
Marco Kartodikromo (1890 – 18 Maret 1935)

Karena pemilihan nama Abdoel Moeis dan Pramoedya Ananta Toer tidak mewakili semangat sastra daerah dan keragaman bentuk sastra, maka ada versi ketiga yang memilih tanggal 18 Maret yang didasarkan pada hari kematian Marco Kartodikromo. Siapa dia?

Marco Kartodikromo adalah novelis bahasa Jawa pertama. Resia Kraton adalah novel berbahasa Jawa karya Marco yang terbit pada tahun 1914. Dalam kesusasteraan yang menggunakan bahasa Indonesia, Marco telah menghasilkan roman Mata Gelap yang juga terbit pada tahun yang sama. Novelnya yang lain adalah Student Hidjo, Rasa Merdika, dan Matahariah. Dalam Matahariah ada drama yang berjudul “Kromo Bergerak”. Dalam dunia kepenyairan pun Marco tak kalah dahsyat. Sama Rata Sama Rasa, Sjair Sentot, dan Sjair Rempah Rempah adalah puisinya. Selain itu Marco juga menulis cerpen Semarang Hitam, Roesaknja Kehidoepan di Kota Besar dan Tjermin Boeah Kerojolan.

Karena hari lahir Marco Kartodikromo tidak diketahui dan hanya hari kematiannyalah yang dapat dilacak jejaknya 18 Maret 1935 maka tanggal 18 Maret dipilih sebagai Hari Sastra.

Seperti halnya hidup penuh dengan dinamika, demikian pula sastra juga mengalaminya. Jadi agar adil, mari merayakan seluruh hari sastra Indonesia tersebut.

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Share
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here