Obrolan Dua Buku Terbaru Seno Gumira Adjidarma

557
0
SHARE

Obrolan ringan tentang buku kembali muncul di tengah-tengah keramaian Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Diskusi bertema Obrolan Urban ini menghadirkan Seno Gumira Ajidarma, Nia Dinata (sineas) dan Arman Dhani (blogger, jurnalis).

Selain berdiskusi, ini juga merupakan acara bedah buku sekaligus launching dua buku terbarunya Seno Gumira Ajidarma dengan judul Tiada Ojek di Paris dan Jejak Mata Pyongyang.

Acara diskusi dan launching buku ini menjadi sangat menarik, karena SGA sudah lama tidak menulis buku non-fiksi. Karya terakhirnya yang dibukukan adalah Nagabumi Jilid II: Buddha, Pedang dan Penyamun Terbang.

Tiada Ojek di Paris adalah buku yang dirangkum atau disusun dari sejumlah buku-buku yang telah ditulis SGA: Affair (2004), Kentut Kosmopolitan (2008) dan dari sejumlah kolom yang belum dibukukan. Buku Tiada Ojek di Paris sendiri bercerita tentang seluk beluk kehidupan masyarakat Jakarta.

Menurut SGA, yang juga ditulisnya dalam catatan penulis di buku Tiada Ojek di Paris, ia hanya merasa perlu menjelaskan ulang catatannya pada tahun 2008, bahwa antara kedua buku itu terdapat perbedaan cara pandang: pada buku pertama, Seno mengandalkan “akal sehat”, artinya segala pertimbangan dikuasai wacana dominan; pada buku kedua, SGA mencoba bersikap kritis yang justru menguji wacana dominan tersebut, tempat prasangka diterima sebagai benar tanpa perlu dipertanyakan lagi.

Sedangkan Jejak Mata Pyongyang adalah buku yang lahir dari hasil catatan SGA ketika ia menjadi juri selama tiga minggu di sebuah Festival Film Internasional Pyongyang ke-8 di Korea Utara pada tahun 2002. Penulisan buku ini terbilang cukup memakan waktu lama, menghabiskan waktu tiga belas tahun karena baru bisa diterbitkan di tahun 2015.

Nia Dinata bercerita tentang pengalamannya selama mengikuti festival film di Korea. Filmnya yang berjudul Ca-bau-kan (diadaptasi dari novel berjudul sama karya Remy Silado) itu lolos dalam festival di mana Seno sebagai salah satu jurinya. Kedua narasumber ini bercerita tentang pengalaman mereka ketika berada di Pyongyang, seperti kisah mereka yang selalu diikuti ke manapun pergi oleh penerjemah hingga diawasi layaknya sedang tinggal di dalam penjara.

 

ANGGI SEPTIANTO, AlineaTV

 

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY