Diskusi Belajar Menjadi Indonesia – Sitor Situmorang

676
0
SHARE

“Dia itu batu mulia yang sulit ditemukan, bukan seperti batu akik yang mudah ditemukan. Terlalu luar biasa eksistensinya.” Begitulah yang terucap oleh Radhar Panca Dahana, sebagai narasumber dalam diskusi Belajar Menjadi Indonesia pada saat acara “100 Kenangan Sitor Situmorang” 21 April 2015 di Teater Kecil – Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Diskusi yang dihadiri oleh JJ Rizal, Giat Wahyudi, dan Radhar Panca Dahana ini sangat menarik perhatian pengunjung pameran. “Jangan anggap Indonesia itu sudah selesai, karena seperti halnya seni kontemporer, selalu ada perubahan setiap saatnya, maka dari itulah Sitor menerapkan Belajar Menjadi Indonesia.” Begitulah ucapan Radhar saat menjelaskan apa maksud dari diskusi ini.

Seperti kita ketahui, selama ini kita hanya memperlajari letak geografis Indonesia, sususan kabinet kerja, struktur pemerintahan, lagu negara, bahasa negara, daftar berbagai provinsi dan semua tentang sebuah negara/bangsa. Tapi ada beberapa hal yang lupa untuk kita pelajari, dan itu sebutkan oleh JJ Rizal sebagai moderator, yang mengatakan “Sitor banyak menggambarkan geografis suku-suku, kepercayaan masyarakat, lingkup sosial, dan kebudayaan yang ada di Indonesia, dan yang menjadi titik perhatiannya adalah Suku Batak.”

Sebagai narasumber, Giat Wahyudi dan Radhar menjelaskan perjalanan mereka selama terlibat dengan Sitor. Giat mengatakan “Dia (Sitor) tidak pernah merasa jadi guru bagi kami” itu artinya Sitor orang yang tidak meninggi. Dan dalam penuturannya Giat juga menjelaskan “Kala itu di tengah rezim yang demikian ketat, angkuh, bahkan sangat angkuh, bisa menggebuk siapa saja melalui aparaturnya, kami berdiskusi tentang Ke-Indonesiaan yang dicitakan oleh Pembukaan UDD 1945. Bagaimana partai politik tidak sekedar hadir dalam Pemilihan Umum, namun juga melakukan pendidikan politik yang terprogram, bersandar pada ideologi yang tegas, logis, dan terukur. Begitupun mengenai kebudayaan, sastra, film, teater, teknologi, antropologi, sejarah pertanian, agraria, dan seterusnya menjadi topik yang kami diskusikan.”

JJ Rizal juga menambahkan bahwa Sitor menjadi media atau perantara proses menuju Indonesia. Sitor Situmorang, seorang sastrawan yang serba bisa. Ia menulis cerpen, puisi, kritik sastra, membuat film, karya non-fiksi, serta studi antropologi tentang masyarakat Batak. Beberapa sajaknya seperti Biksu Tak Berjubah, menjelaskan kepada kita perjalanan seorang musafir yang tanpa apa-apa, yang menyangkut hal spiritual.

Beberapa Kalimat yang yang membuat situasi semakin hidup pun terucap oleh Radhar Panca Dahana, “Ada hal yang lebih dia pentingkan selain ideologi, yakni Indonesia. Dengan cara berdialog dengan konteks Indonesia” dan Radhar pun menambahkan “Jika ada yang menginjak-injak kamu karena Indonesia, maka aku yang paling depan menghadapinya.”

“Dia generasi terakhir ’45 yang masih menulis sajak, dari sajak lama hingga sajak baru” begitulah penyataan J.J.Rizal kepada para audiens yang hadir dalam diskusi tersebut. Canda tawa, senda gurau, pemikiran kritis dan berbagai pertanyaanpun hadir selama diskusi Belajar Menjadi Indonesia berlangsung. Diskusi ini memperingati 100 hari berpulangnya Sitor Situmorang yang berlangsung dari 20 April-22April 2015 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Banyak pesan dan opini yang tersampaikan pada saat itu. Bagi penulis sendiri, Sitor Situmorang, seorang penyair, sastrawan, dan juga cerpenis dengan penuh pemikiran kritis ini, banyak membuka pemikiran bahwa kebudayaan, kepercayaan, dan sosial haruslah dipelajari, dipahami oleh mereka yang tinggal di negeri ini, bukan hanya pengetahuan tentang pemerintahannya saja. Bagi Sitor, Batak adalah suku tertua di dunia ini. Jadi tidak salah jika ia kritis dan mengangkat kebudayaan Batak kepada publik lewat karya-karyanya. Karena batak adalah bagian dari Indonesia, dan sudah semestinya kita kita mempelajari seluk beluk negeri ini dan apa saja yang ada di dalamnya.

Keterlibatan Radhar Panca Dahana dengan Bung Sitor dimulai dengan Kelompok Diskusi Majelis Senenan dan difasilitasi oleh Yayasan Pendidikan Sukarno (YPS) dan bertempat di Jalan Batu Merah Pejaten-Pasar Minggu. Radhar mengatakan “Atas saran serta bantuan Sitor dan Bagin, majelis senenan bisa menghadirkan Pramoedya Ananta Toer, Yusuf Isa, Dahlan Ranuwihardo, Ridwan Saidi, Subadio Sastrosatomo, Sarbini Sumawinata, Mahbub Djunaedi, Abdurrachman Wahid, Yusuf Hasyim, KH. Fuad Hasyim, Butet Cirebon, Romo Mudji Sutrisno, Wasid Suwarto, Maramis, SK Trimurti Widarbo, Jenderal Mursyid, Selamat Ginting, Achadi, Sudibyo, Ali Sadikin, Arif Budiman, Tumakaka, Phd. Supit, Mulyana W Kusuma, sampai Widji Thukul, dan lain-lain yang berpartisipasi, bergulat menghantarkan kami untuk sampai pada ke-Indonesiaan”.

Sebagai penutup, ada 1 pertanyaan dari audiens kepada narasumber tentang sejarah lama yang direkayasa oleh pemerintah. “Fake.!! Itu semua palsu.!? Itu semua tidak nyata !! Sejarah lama negara ini telah direkayasa dan itu adalah pembohongan publik selama orde baru. Buang ..!! Buang buku-buku pelajaran sejarah yang beredar!! karena di dalamnya sudah diubah dan di-setting penuh kepalsuan oleh mereka orde baru. Sejarah kelam negara ini telah lama dimanipulasi dan ditutupi. Jangan percaya tentang sejarah lama negeri ini yang saat ini masih beredar di buku-buku sekolah. Itu semua palsu..!” ujar Radhar Panca Dahana kepada para audiens, memberitahu kesalahan yang sampai saat ini masih ditutupi.

(Maskub Wicaksono/AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here