Teguh Afandi: Menulis Itu Rekreasi

915
0
SHARE

Cowok kelahiran Blora, 26 Juli 1990 ini sudah menerbitkan seratusan cerita pendek di berbagai media nasional dan lokal, belum termasuk ulasan buku yang tiap pekan muncul di berbagai media. Ia sangat produktif. Apa arti menulis buat pengarang yang cerpennya jadi Juara 1 Sayembara Cerpen Femina 2014 ini? Ikuti wawancara AlineaTV dengan Teguh Affandi.

Apa arti menulis buat kamu?
Menurut saya menulis itu rekreasi. Aku bisa menjadi siapapun, melakukan apa pun, bahkan melakukan hal paling musykil sekalipun. Di tulisan saya bisa menjadi orang alim, orang jahat, pemerkosa, bahkan pembunuh yang memutilasi korban dan menyimpannya dalam kulkas kemudian dilakban. Jadi ketika saya sering menulis, berarti itu tanda saya sedang membutuhkan hiburan.

Apa yang menginspirasi kamu untuk menjadi seorang penulis?
Tahun 2010 salah seorang teman saya menghibahkan sebuah buku kumpulan cerpen KOMPAS, tahun 1996 judulnya “Pistol Perdamaian”. Saya masih ingat, membaca semua cerpen itu saat sedang menunggu antrean main futsal. Saya terkesima dengan semua cerpen di sana. Sejak saat itu saya merasa cerpen bisa dijadikan media lain untuk “curhat”. Sebenarnya saya tidak pernah bercita-cita menjadi penulis, tapi lewat tulisan ternyata saya bisa “berkeluh-kesah” dan menutupi kekurangan saya yang ekspresif tapi introvert.

Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan sebuah cerpen?
Ini sangat tergantung. Kadang membutuhkan sehari saja untuk menulis dan mengendapkan sebuah cerpen. Tapi tidak jarang ada cerpen yang saya rendam begitu lama. Intinya setiap cerpen butuh effort berbeda-beda. Entah riset setting, konflik, dsb.

Riset atau observasi seperti apa yang kamu lakukan sebelum menulis cerpen?
Kebanyakan saya observasi via google atau membaca buku. Misalnya saya menulis tentang kisah anak korban pelecehan seksual, saya akan mencari kisah-kisah tuturan asli para korban. Misal kalau mau ambil setting sebuah kota, saya biasa mencari blog yang berkisah tentang perjalanan di kota itu. Jadi visual dan diskripsinya lengkap.

Apa hal yang paling sulit saat menulis karya-karya kamu selama ini?
Kesulitan saya sampai saat ini adalah saya merasa selalu kurang pada cerpen saya. Saya merasa tulisan saya biasa-biasa saja dan tidak ada hal baru. Jadinya sampai sekarang saya masih mencari dan belajar, kira-kira kebaruan apa yang bisa saya tawarkan lewat tulisan.

Di antara semua cerita pendek yang kamu tulis, judul apa yang sangat mewakili kehidupan kamu?
Sebenarnya tulisan saya tidak pernah mewakili pribadi saya. Saya hanya menyampaikan apa yang kurasakan. Maka saya tidak bisa menunjuk satu atau beberapa cerpen yang mewakili karakter apalagi kehidupan saya.

Penulis cerpen lokal maupun internasional yang menjadi favorit kamu?
Dari awal saya membaca cerpen lokal, saya menyukai Seno Gumira Ajidarma dan Hamsad Rangkuti. Hamsad Rangkuti selalu menghidupkan dunia marginal dan orang-orang bawah yang tidak banyak orang minati. Sedangkan SGA, memaksa saya menyukai cerpen karena dua cerpennya memikat saya di pembacaan pertama, yaitu Pelajaran Mengarang dan Dongeng Sebelum Tidur. Selain kedua nama tersebut ada penulis-penulis lokal yang kusuka, Eka Kurniawan, Budi Darma, Triyanto Triwikromo, dan Norman Erikson Pasaribu. Kalau penulis luar, mungkin karena saya suka gaya realis dan tidak neko-neko, maka tulisan Anton Chekov dan O Henry termasuk yang kusuka.[]

(Anggi Septianto/AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here