Purwandi: Menulis adalah Bakat yang Diberikan Allah pada Saya

1891
2
SHARE

Ia sampai meninggalkan pekerjaan yang mapan agar bisa punya waktu menulis lebih banyak. Ketika tidak produktif menulis, ia merasa ada yang hilang dan jiwanya terasa kering. Karena itulah, mungkin, ayah dua anak ini seperti tak kenal lelah menulis dan berkarya.

Simak proses kelahiran karya-karya Purwandi penulis asal Pekalongan ini dari tanya jawab yang dilakukan oleh redaksi AlineaTV.

Apa arti menulis buat kamu?

Menulis buat saya adalah mengungkapkan segala sesuatu yang menggelinjang di dalam hati, baik yang saya alami sendiri, yang dialami oleh orang lain, atau yang saya lihat di sekitar saya, ke wujud tulisan. Pada awal saya menulis, saya hanya menulis untuk kepuasan hati saya saja. Dalam arti saya menulis cuma untuk melepaskan ganjalan dalam jiwa, tanpa memikirkan tulisan saya itu bermanfaat untuk orang lain (pembaca) atau tidak. Setiap redaksi memiliki visi dan misi yang berbeda-beda, tapi pada intinya tulisan yang diterima harus yang bermanfaat untuk pembaca. Maka saya terus getol membaca koran atau majalah apa saja. Entah itu media cetak anak, remaja, dewasa, yang bermuatan religius, sosial, politik, hingga misteri/horor, untuk memperkaya referensi saya yang masih minim pengalaman menulis. Dengan banyak membaca tulisan yang berbeda-beda genre itu, saya terpicu untuk menulis banyak hal, yang selama ini sangat awam buat saya. Akhirnya saya menemukan sebuah kesimpulan, bahwa tulisan yang laku di media cetak itu tak hanya menarik dalam penyajian, tapi harus menyimpan sebuah pesan yang positif untuk membaca. Alhamdulillah, sejak itu tulisan yang saya kirim ke media cetak bisa diterima oleh redaksi dan disukai oleh pembaca.

Mulai menulis sejak SD. Dari mana kesukaan menulis kamu datang?

Sejak saya mulai bisa membaca, yaitu pada umur 6 tahun, saya mulai suka banget membaca. Di luar bacaan buku pelajaran di SD, saya sudah mulai membaca koran. Tapi, karena saat itu saya masih kecil, saya belum terpikir ingin bisa menulis. Pokoknya saya hanya senang membaca. Untuk media cetak anak, BOBO adalah majalah anak pertama yang saya kenal dan saya baca. Setelah membaca beraneka ragam bacaan, kesukaan saya menulis pun mulai muncul. Karena saya sering tidak puas dengan cerita yang saya baca itu. Ada keinginan ingin mengubah jalan ceritanya, sesuai dengan keinginan hati saya. Ya, maklumlah, namanya saja anak kecil. Saya sering mengkhayal, ah sebaiknya tokoh ini begini, bukan begitu. Kenapa sih si A harus mati? Seandainya si A tidak begitu, kan tidak mati? Itulah awal saya mulai merekayasa sebuah cerita yang habis saya baca. Tidak ada yang membimbing, baik dari orangtua, kakak, maupun guru. Tapi, secara tidak langsung, perjalanan menulis saya di masa kecil adalah andil dari guru juga. Maka, ketika duduk di bangku kelas 3 SD saya mulai memberanikan diri mengirimkan naskah-naskah cerpen saya ke majalah BOBO, ANANDA, dan KUCICA. Semua saya tulis tangan. Tapi, hingga saya lulus SD, tak satu pun karya saya yang muncul di majalah!

Tahun 1982 puisi kamu dengan judul BULAN, terbit di majalah anak-anak. Puisinya bercerita tentang apa?

Di SMP kesukaan saya menulis semakin besar. Apalagi setelah puisi saya dengan judul BULAN, dimuat di majalah anak-anak HALLO, terbitan Jakarta. Inilah karya pertama saya yang berhasil nembus di media cetak! Padahal, saya agak nyleneh ketika mengirimkan naskah puisi ini. Puisi tidak saya tulis di kertas buku tulis atau folio bergaris, melainkan di balik kertas sampul buku gambar yang tidak terpakai lagi. Menulisnya pun tidak menggunakan pen, tapi memakai spidol warna biru tua. Lalu dengan pede saya kirim naskah itu lewat pos. Alhamdulillah, sebulan kemudian puisi tersebut dimuat di majalah HALLO edisi minggu pertama November 1982. Puisi berjudul BULAN bahasanya sangat sederhana, khas ungkapan hati anak berumur 12 tahun. Puisi tersebut bercerita tentang rasa kagum seorang anak pada bulan, yang tak pernah lelah menyinari alam semesta di malam hari sepanjang masa.

Inilah bunyi puisi BULAN.

Bulan, bulan,
Wajahmu cantik molek
Menyinari alam ini
Juga rumah kami

Seandainya aku punya sayap
Aku ingin pergi ke tempatmu
Terbang kesana kemari
Selalu bersamamu
Lelahkah engkau
Yang tak henti-henti
Menerangi alam semesta?

Karya kamu banyak di-publish di puluhan majalah di Tanah Air. Apa saja yang membuat kamu begitu bersemangat menulis?

Semenjak karya pertama saya itu dimuat di majalah, saya semakin rajin menulis. Semua jenis tulisan saya tulis, entah itu puisi, cerita pendek, artikel, atau resensi buku. Apalagi setelah saya diberi tugas oleh guru Bahasa Indonesia untuk memimpin penerbitan Majalah Dinding (mading). Bakat menulis saya semakin terasah. Sampai saya lulus dari SMA, saya tetap eksis menulis. Dengan menulis saya tak hanya mendapatkan kepuasan batin, tapi juga –saya tak mau munafik– memperoleh kepuasan lahir dari penghargaan yang diberikan oleh redaksi setelah karya saya dimuat, yaitu imbalan berupa honorarium yang jumlahnya bervariasi untuk masing-masing media cetak.

Saya tetap bersemangat menulis, karena saya sangat mencintai dunia menulis. Menulis bagi saya sudah mendarah daging. Beberapa kali saya keluar dari pekerjaan karena didera kerinduan pada dunia menulis.

Buku apa yang sangat memengaruhi kamu dalam menulis?

Buku “Mengarang Itu Gampang” karya Arswendo Atmowiloto adalah salah satu buku yang membawa pengaruh besar pada perjalanan menulis saya. Buku yang ditulis dengan model tanya jawab dan gaya bahasanya sangat lugas dan akrab itu, membuat semua pembaca –tidak hanya saya– seolah-olah memiliki bakat menulis. Itulah yang menjadi pemicu saya ingin menjadi penulis dan terus menulis. Kemudian novel-novel Sidney Sheldon, John Grisham, Agatha Christie, Buya Hamka, Ahmad Tohari, dan Dwianto Setyawan, juga memengaruhi saya dalam menulis. Saya suka banget gaya bahasa mereka, lugas, tangkas, komunikatif, indah, tapi tidak mendayu-dayu.

Pengalaman menulis yang paling berkesan?

Pada intinya pengalaman menulis yang sudah saya jalani selama 30-an tahun ini memiliki kesan. Misalnya proses penulisan buku kumpulan dongeng “KOMALA DAN SI KERDIL” (Kanisius, Yogyakarta, 2001), yang saya tulis ketika masih lajang. Buku ini saya tulis menggunakan mesin tik manual pada tahun 1998, ketika di Tanah Air sedang dilanda krisis moneter yang maha hebat. Saya saat itu habis di-PHK dari pabrik tekstil tempat saya bekerja selama 2 tahun. Dengan masih merasakan perut melilit karena belum sarapan, saya mulai mengetik naskah ini. Setelah selesai, saya bingung, karena uang tak cukup untuk memfotokopi naskah. Hanya cukup untuk ongkos kirim naskah setebal 51 halaman ini. Maka, tanpa menyimpan arsip, naskah tersebut saya kirim melalui layanan pos. Alhamdulillah, naskah tersebut di-ACC sebagai naskah yang layak untuk diterbitkan. Tapi, saya harus menunggu lama banget untuk proses penerbitannya. Tiga tahun kemudian, pada tahun 2001 buku tersebut terbit. Dan ternyata laku keras juga. Dalam jangka 3 bulan, buku tersebut dicetak ulang.

Pengalaman menulis yang berkesan lainnya adalah ketika mengirimkan naskah untuk buku Kumpulan Cerpen Anak “KERTAS GULUNG AJAIB” (Beranda Hikmah, Jakarta, 2004) dan “PENYESALAN NANA” (Beranda Hikmah, Jakarta, 2005). Naskah yang saya kirim bukan lazimnya sebuah naskah buku. Saya hanya kirim fotokopian cerpen-cerpen yang dimuat di berbagai majalah anak-anak. Eh, tak ada satu bulan sudah ada tanggapan positif, bahwa penerbit berminat pada cerpen-cerpen saya. Untuk proses pengeditan, editor meminta saya untuk mengirimkan filenya lewat email. Tapi, karena filenya masih berupa ketikan manual, maka saya harus mengetik ulang dengan komputer. Karena saya saat itu belum punya komputer, saya pun nebeng ngetik di tempat Najmudin, ketua FLP periode 2003 – 2005.

Tapi, proses penerbitan buku KUMPULAN CERPEN ANAK “PESAN MAMA” adalah yang paling berkesan. Naskah buku ini pada awalnya saya kirim ke sebuah penerbit mayor di Jakarta, dan di-ACC untuk diterbitkan. Namun, entah karena apa, naskah tersebut tak jadi terbit. Lalu saya kirim ke penerbit mayor di Bandung, tapi ditolak. Kemudian saya kirim lagi ke penerbit mayor lain di Jakarta, juga ditolak. Saya tak habis pikir, kenapa ya naskah yang saya anggap bagus ini ditolak oleh penerbit?

Akhirnya saya kirim naskah tersebut ke penerbit Mitra Bocah Muslim, kelompok Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Di sini naskah tersebut bernasib baik. Bukunya pun terbit di awal tahun 2011. Dan, tak saya sangka, pada tahun 2013, buku “PESAN MAMA” ini mendapat Penghargaan Bahasa dan Sastra, Balai Bahasa Yogyakarta, untuk kategori Buku Cerita Anak Terbaik. Alhamdulilah, naskah yang pernah dipingpong oleh beberapa penerbit itu akhirnya sukses dan memperoleh penghargaan bergengsi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Buku-buku yang menjadi bacaan kamu saat masih kecil dan menjadi influence?

Dulu, karena ekonomi keluarga saya boleh dibilang pas-pasan, saya jarang membeli buku bacaan atau majalah. Kebetulan tetangga saya yang keturunan Tionghoa memiliki anak semata wayang sebaya dengan adik saya yang nomor dua, yang hobi banget membaca. Koleksi bacaannya sangat lengkap. Mulai dari majalah, komik, sampai buku cerita dan dongeng. Di rumahnya, saya dan adik-adik saya nebeng membaca. Saya saat itu paling suka buku dongeng karya Hans Christian Andersen dan Walt Disney. Sebuah buku yang saat itu sangat menginspirasi saya ingin menulis adalah PENJAHIT CILIK YANG GAGAH BERANI. Entah, sampai berapa kali saya baca ulang dongeng itu. Imajinasi saya masuk ke dalam cerita itu, seolah-olah tokoh penjahit cilik itu adalah saya. Karena keseringan nebeng membaca di tempat tetangga, lama-lama kami jadi malu. Saya pun bertekad ingin membeli buku atau majalah sendiri. Saya setiap hari menyisihkan separoh uang saku. Setiap akhir pecan, saya minta diantar kakak saya ke toko buku atau kios koran untuk membeli buku atau majalah. Sejak saat itu saya mempunyai koleksi bacaan sendiri. Novel-novel anak karya Darto Singo, Nasjah Jamin, Bung Smas, serta buku-buku dongeng karya Hans Christian Andersen dan Walt Disney menjadi bacaan ‘wajib’ kala libur di hari Minggu atau liburan caturwulan. Sedang majalah anak-anak yang membuat saya sangat bersemangat menulis adalah BOBO, ANANDA, TOM TAM, BIMBA, HALLO, CERIA ANAK, dan BELIA. Ketika itu penulis anak yang sering muncul di berbagai media cetak anak tersebut adalah Trim Sutedja. Wiryadi, Soekanton S.A, Arswendo Atmowiloto, Naning Pranoto, Motinggo Busye, dan lain-lain.

Kamu lebih sering menulis kumpulan cerita anak. Apakah artinya kamu lebih menguasai dunia anak-anak?

Sebenarnya saya tak hanya menulis cerita anak. Memang sih pada awal menulis, mulai kelas 3 SD hingga SMP, saya sering menulis cerita anak. Ketika itu, antara tahun 1982 – 1986, karya-karya saya sering dimuat di berbagai majalah anak-anak terbitan Semarang dan Jakara, antara lain Ceria Remaja, Belia, Hallo, Ananda, serta di rubrik anak Nova (waktu itu masih berbentuk majalah) dan tabloid Keluarga. Saya tak hanya nulis cerpen, tapi juga puisi dan artikel pendek.

Setelah duduk di bangku SMA, saya mulai tertarik menulis pusi, cerpen, dan artikel bertema remaja. Karena saya mulai sering membaca majalah MOP (Semarang), HAI, MODE, GADIS, MITRA, dan ANITA. Saya pun mencoba kirim naskah ke majalah-majalah tersebut. Tapi, karena belum punya mesin tik, saya menulis dengan tulisan tangan. Alhamdulillah, naskah dengan tulisan tangan saya itu ‘laku’ di MOP dan MODE. Di MOP hampir setiap terbit tulisan saya dimuat. Tapi seringnya pengalaman lucu dan artikel pendek. Cerpen saya justru dimuat di sana setelah saya lulus SMA. Padahal kirimnya waktu masih kelas 3 SMA.

Pada tahun 1989 saya dan ayah patungan membeli mesin tik merek Kova, dengan harga 130 ribu rupiah. Nah, dengan fasilitas yang saya impikan sejak masih SD itu, saya mulai melebarkan sayap mengirim naskah ke banyak media massa. Tak ada pikiran takut ditolak. Yang penting nulis, nulis, dan nulis, lalu kirim naskah ke media massa.Mulai awal tahun 1990, karya-karya saya banyak dipublikasikan di majalah CERIA REMAJA, GADIS, MOP, HAI, GAYA, IDOLA, POS FILM, MONITOR. BOBO, dan sebagainya. Saya sendiri nggak mengira kalau karya-karya saya bisa muncul di mana-mana. Hampir 90 persen karya bertema remaja, sisanya karya bertema anak dan umum. Cerpen IBU CUMA PURA-PURA dan dongeng JASA SEEKOR KUDA adalah dua karya saya yang dimuat di BOBO pada tahun 1990. Dan, 11 tahun kemudian cerpen IBU CUMA PURA-PURA dimuat ulang di buku Kumpulan Cerpen BOBO berjudul RAHASIA LEMARI RAHASIA (pada tahun 2001).

Antara tahun 2003 – 2008, karya saya banyak dimuat di BOBO, KIDS FANTASI, YUNIOR, KOMPAS ANAK, FAVORIT, dan KREATIF. Semuanya cerita dan artikel bergenre anak-anak. Setelah menikah dan memiliki anak, inspirasi menulis timbul setelah melihat anak-anak kami bermain, bergurau, bahkan ketika berantem. Lama-lama cerpen saya bertema anak terkumpul cukup banyak.

Apa yang menjadi ciri khas kamu dalam menulis?

Saya paling bingung kalau ditanya begini. Karena saya sendiri nggak tahu apa ciri khas tulisan saya. Saya menulis mengalir begitu saja, sesuka saya, dan nggak mau meniru gaya tulisan penulis lain.

Tapi, menurut beberapa pembaca dan teman-teman sesama penulis, tulisan saya itu bahasanya lugas, tangkas, tanpa basa-basi, dan… kurang indah. Pendapat demikian saya anggap sebagai kritik yang membangun. Untuk poin lugas, tangkas, dan tanpa basa-basi, entahlah, sampai sekarang nggak bisa hilang dari gaya tulisan saya. Tapi, untuk gaya bahasa yang kurang indah, saya akan terus belajar menulis dengan bahasa yang lebih indah.

Memang saya akui, saya menulis langsung di depan komputer, tanpa konsep lebih dulu. Biasanya, ide saya tulis di kertas apa saja dalam bentuk sinopsis. Setelah saya memiliki waktu yang pas untuk menulis, saya kembangkan di komputer. Dulu saya boleh dibilang ceroboh dalam menulis. Setelah sebuah tulisan jadi, nggak saya edit, tapi langsung saya print atau saya kirim via email. Ternyata cara seperti kurang benar, dan isi tulisan jadi kurang dalam.

Sekarang cara seperti itu saya tinggalkan. Setelah naskah jadi, saya baca ulang, lalu saya edit bagian-bagian yang masih kurang atau malah berlebihan, entah itu huruf, tanda baca, atau kata, juga kalimat.

Apa yang membuat kamu yakin bahwa kamu harus terus menulis?

Sejak kecil saya suka banget menulis. Sejak SMP saya sudah bisa membeli keperluan sekolah, baju, celana, majalah, juga nonton bioskop, lalu menabung, dari honorarium tulisan saya yang dimuat. Tapi, bukan sekadar masalah honor yang membuat saya ingin dan harus terus menulis. Bagi saya, menulis sudah mendarah daging, dan tak bisa dipisahkan dari kehidupan saya. Saya sampai mengorbankan pekerjaan tetap karena ingin eksis menulis.

Saya yakin menulis adalah bakat yang diberikan Allah pada saya. Selama saya masih diberi kesempatan menulis oleh Yang Maha Kuasa, saya akan terus menulis. Dengan menulis saya ingin berbagi untuk orang lain dan keluarga.

Anggi Septianto/AlineaTV

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY