Rio Johan: Menulis Itu Senang-Senang

1521
0
SHARE

Dia suka film dan prosa sejak kecil. Sangat menyukai film coming-of-age, avant-garde, klasik Cekoslowakia, klasik Polandia, Iran, Estonia, juga Audrey Hepburn. Waktu kecil sering dicekoki film-film silat Jackie Chan oleh ayahnya, tapi saat merasa semakin bosan, akhirnya memilih tontonan sendiri. Rio Johan, mengaku tak percaya ketika buku kumpulan cerpennya, Aksara Amananunna, terpilih menjadi Buku Sastra Terbaik Pilihan Tempo 2014. Ikuti bincang-bincangnya dengan AlineaTV tentang proses kreatifnya dalam berkarya.

Apa arti menulis buat kamu?
Buatku, menulis itu senang-senang. Seperti main game, yang juga buat senang-senang. Baca juga buat senang-senang. Nonton film juga buat senang-senang. Aku suka tiga-tiganya (di antara hal-hal lain yang juga aku suka), sebagaimana yang aku tulis dalam biodata penulis di Aksara Amananunna: “Penyuka buku, film, dan video game” -buat apa nonton film kalau tidak senang, misalnya?

Buku kumpulan cerpen kamu terpilih menjadi Buku Sastra Terbaik Pilihan Tempo 2014. Menurut kamu, apa yang membuat ini bisa terpilih?
Wah, kupikir pertanyaan ini lebih cocok ditanyakan langsung pada juri Tempo. Aku justru bingung kalau disuruh menebak-nebak kenapa bisa terpilih, sebab secara pribadi cerita-cerita di buku itu sekedar cerita main-main semata, cerita konyol-konyolan yang aku tulis cuma untuk senang-senang, cerita seru-seruan, cerita yang cuma -kalau boleh meminjam istilah kawan kuliah -buat gokil-gokilan.

Dari mana mendapatkan ide untuk 12 kumpulan cerpen di buku ini?
Kalau mau dijabarkan detil untuk tiap cerpen bakalan panjang jadinya. Asal-muasal ide tiap cerpen jelas berbeda. Cerpen Undang-undang Antibunuhdiri misalnya, didapat ketika membaca artikel online (aku lupa tepatnya dari mana) tentang meningkatnya jumlah pelaku bunuh diri tahunan di beberapa negara, seperti Korea Selatan dan Rusia (negeri R. di cerpen itu aku amabil dari “Rusia”, walau tidak harus juga merujuk pada negara tersebut). Aksara Amananunna idenya muncul dari salah satu adegan awal di film Dogtooth, film Yunani rilisan tahun 2009 bikinan sutradara Yorgos Lanthimos. Ide dasarnya aku kawinkan dengan cerita Menara Babel. Cerpen Ketika Mubi Bermimpi Menjadi Tuhan yang Melayang di Angkasa idenya datang sewaktu mengenang–sambil googlingValkyrie Profile, salah satu RPG (role playing game) yang kumainkan ketika SD dulu.

Kenapa buku kumpulan cerpen ini diberi nama Aksara Amananunna?
Sederhana saja: Itu salah satu dari 3 cerpen yang sangat kusukai dari 12 cerpen di buku itu (dua yang lainnya: Kevalier d’Orange dan Riwayat Benjamin). Itu juga satu-satunya cerpen di buku itu yang pernah dimuat di media cetak (di koran Suara Merdeka).

Kesulitan apa yang kamu temukan saat proses penulisan Aksara Amananunna?
Mengatur mood. Mengatur waktu.

Hal apa yang terlintas saat mengetahui buku Aksara Amananunna terpilih menjadi buku sastra terbaik pilihan Tempo?
Bingung, kenapa bisa terpilih? juga penasaran dengan komentar-komentar (termasuk perdebatan) para juri ketika memilih.

Jika harus berterima kasih karena tumbuh dengan cinta akan menulis, pada siapa kamu akan mengucapkannya?
Pada semua penulis buku yang pernah kubaca, semua pembuat film yang pernah kutonton, semua kreator video game yang pernah kumainkan, dan semua orang-orang yang secara langsung atau tidak langsung mendukung.

(Anggi Septianto/AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here