Percobaan Melompati Pagar Bahasa

815
0
SHARE

DALAM hidup yang terkeranda di pusaran bahasa, apalagi ketika dusta dan kebenaran bercampur-baur dalam kelisanan yang sedemikian merajalela, adakah yang dapat melepaskan diri dari kebatan kata-kata? Adakah yang sanggup meninggalkan bahasa? Adakah yang mampu membelakangi dan meniadakan bahasa? Masuk akalkah bila ada orang yang memperlakukan kata-kata sebagai tanda tanpa makna, serupa jasad yang arwahnya telah bergentayangan ke mana-mana?

Rusa Berbulu Merah #2

Upaya inilah yang hendak ditempuh oleh penyair Ahda Imran dalam antologi puisinya Rusa Berbulu Merah (2014). Ia menapaki jalan kepenyairan seperti menyelami “Lubuk Kata”. Di kedalaman itu penyair mengamsalkan dirinya sebagai ular yang terus memancarkan sisiknya -bukan lidah bercabang yang siap menembakkan bisa- dan tubuhnya terus memanjang, melampaui ruang, melampaui cahaya, melampaui bayang.

Hewan melata yang bersemayam di Lubuk Kata itu, kata Ahda, akan menjadi mimpi buruk bagi “Keledai Pesolek” yang saban hari memuja diri di permuakaan air. Frasa “Keledai Pesolek” mengingatkan saya pada ‘rejim” lirisisme yang selama beberapa dekade “bertahta” di belantika puisi kita. Tabiat kepenyairan yang gandrung merias muka dengan kata-kata, dan karena itu tiada henti mendulang puji dan puja. Ular Lubuk Kata “peliharaan” Ahda rupanya sedang disiapkan untuk menerkam kawanan Keledai genit itu.

Tak tanggung-tanggung kesaktiannya. Meski melungkar jauh di kedalaman lubuk, Ahda memaklumatkan; desisnya saja membuat “burung-burung berjatuhan dari langit.” Hiperbola ini mengingatkan saya pada radiasi akibat jatuhnya bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Beberapa tahun setelah peristiwa bersejarah itu, kawanan burung yang melintas di langit Hiroshima dan Nagasaki seketika jatuh dan terpelanting sebagai bangkai.

Di sinilah kekuatan puisi yang sudah keluar dari kepungan kata-kata. Ahda memberinya nyawa, menghidupinya, lalu menamainya; “makhluk jahat yang berdiam di balik kata-kata” -sebagaimana tertuang dalam puisi Dalam Peti Kayu. “Ada dunia di belakang kata-kata setiap kita membaca puisi-puisi Ahda,” kata penyair Heru Joni Putra dalam sebuah diskusi ringan beberapa waktu lalu. Saya teringat masa kanak-kanak saat mendengar wejangan seorang tetua kampung perihal larangan mandi di sungai tengah hari. Bila ada yang nyinyir bertanya kenapa, tetua hanya akan bilang; “terik matahari langsung menempa ubun-ubun kepala di waktu tengah hari. Kalian bisa sakit kepala lantaran panasnya.” Padahal sakit yang dimaksud sejatinya bukan karena terik yang memanggang -toh kami berendam di sungai -tapi karena ancaman makhluk jahat yang siap menenggelamkan kami di sungai itu.

Lewat kumpulan puisi Rusa Berbulu Merah, Ahda menyingkap dimensi mistis dari kata-kata. Bukan sebagai mantra yang berkekuatan menyembuhkan, tapi sebagai energi meta-bahasa yang berakibat sangat menyakitkan, bahkan mematikan, sebagaimana “bisa” dari Ular Lubuk Kata. Ahda menempatkan puisi “di luar apa yang terbuat dari kata-kata.” Ia mengendarai puisi menuju ranah “setelah-bahasa.”

Nyawa puisi tidak bersemayam dalam material bahasa yang membentuknya tapi berada di luar, tepatnya di luar konsensus tentang makna dari sebuah tanda. Bila dianalogikan dengan seekor Kalajengking -lagi-lagi binatang melata- sebagaimana terdapat dalam puisi Kalajengking, bisa yang berbahaya tidak berada di tubuh hewan tersebut, tapi di luar atau di “balik jangat”-nya. Maka, yang menakutkan dari Kalajengking bukanlah sengat yang berbisa, tapi kematian sebagai akibatnya.

Dalam realitas politik, Ular Lubuk Kata dan “tubuh Kalajengking yang menyala dalam gelap” Ahda berubah menjadi sosok Tan Malaka. Tak tanggung-tanggung, ada empat puisi yang berangkat dari karakter pejalan jauh/tak bertubuh/pergi datang/tak berbayang itu. Jasad yang nyaris tak tampak, tapi ia dibicarakan di mana-mana. Nama yang tak pernah menubuh, tapi tarikh politik di republik ini tak bisa mengabaikannya. Ahda menamainya Rusa Berbulu Merah, yang sekaligus dipilih sebagai tajuk bukunya.

Kubuat sarang/tak berjejak tak berbayang/di hari kemerdekaan/tubuh dan namaku tak berkejadian/tubuh dan nama yang berselisih jalan (Sajak Tan Malaka di Jakarta, 1945). Di sepanjang jalan politiknya yang berliku dan terjal itu, Tan Malaka mengoleksi 23 nama samaran yang ia gunakan dalam pelarian di tujuh negara. Tan Malaka adalah subyek di luar nama-namanya. “Tubuh dan nama yang senantiasa berselisih jalan” adalah kata kunci untuk menandai kesadaran puitik yang hendak direngkuh Ahda. Dalam empat puisi tentang Tan Malaka, apakah Ahda hendak memancangkan kesadaran sejarah terhadap Bapak Republik yang tak pernah menikmati alam republik itu, atau sekadar merenggut perwatakannya guna mengukuhkan garis kepenyairan?

Bila yang berlaku adalah pilihan kedua -dan memang begitu semestinya- maka “Tan Malaka” setali tiga uang dengan “Ular Lubuk Kata” atau “tubuh Kalajengking yang menyala dalam gelap.” Kesadaran puitik perihal sosok Tan Malaka yang dingin dan misterius itu semakin memperkuat sudut pandang bahwa jalan puisi Ahda adalah jalan yang lapang menuju kenyataan tak kasat mata. Bukan realitas yang immanen, tapi dunia transenden di belakang kata-kata. Ahda hendak membebaskan puisinya dari kurungan bahasa, dari kepungan kata-kata, dari lelaku bersolek dengan kata-kata- yang boleh jadi tampak indah, namun tiada menyuguhkan apa-apa.

Naik ke jenjang kata/yang tak berkejadian tak berkarena/menggigil kakimu ke puncaknya/serupa Musa menuju Thursina, kata Ahda dalam “Pelajaran Ketiga Menulis Puisi.” Semacam pukulan telak bagi kepenyairan yang menggemari akrobat kata-kata, sekaligus refleksi puitik guna menyikapi retorika yang semata-mata berpijak di atas kefasihan berbahasa. Tengoklah bahasa para pengamat, atau politisi terdidik yang sesekali muncul di layar kaca. Sejuk, memukau, membuai, namun tak sanggup mengubah keadaan.

Sungguh telah bebaskah puisi-puisi Ahda dari pasungan bahasa? Rasanya belum. Sebagian kecil puisi dalam Rusa Berbulu Merah masih berada dalam pagar bahasa lirik. Di atas Semenanjung, Bayang Cermin, Suatu Hari, di Sebuah Kota, memperlihatkan bahwa Ahda belum sepenuhnya meninggalkan kegemarang bergincu dengan kata-kata. Ia baru mengawali upaya eksperimental melompati pagar bahasa, sebagaimana yang telah lebih dahulu dilompati oleh puisi-puisi Afrizal Malna. Corak puisi afrizalian sebagaimana tampak dalam Teman-temanku dari Atap Bahasa (2010) misalnya, berpretensi hendak meruntuhkan bangunan bahasa, menghancurkan puingnya hingga rata dengan tanah, sementara puisi Ahda melompati pagar di depan rumah bahasa, tanpa meruntuhkan rancang-bangunnya.

Bagi Ahda, tabiat puisi serupa lelaku “mendatangi dan meninggalkan” yang “pada keduanya dunia tak tampak, kecuali serupa kelok bayang separuh batang lidi, yang kau julurkan ke dalam perigi.” Halus, remang-remang, sayup-sayup. Sementara yang tampak di belakang kata-katanya, adalah stamina yang menyala senantiasa, dengan kekuatan yang tiada berhingga ukurannya.

Detail Buku:
Judul: Rusa Berbulu Merah: Kumpulan Puisi 2008-2013
Penulis: Ahda Imran
Penerbit: Pustaka Jaya
Terbit: Maret 2014
Tebal: 150 halaman
ISBN: 979419428X (ISBN13: 9789794194287)

(Damhuri Muhammad/Sastrawan/Kontributor AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here