Pekik Literasi Seorang Musisi

887
0
SHARE

Jika buku adalah jalan sunyi, maka musik meramaikan” -Adew Habsta

Membaca dapat dijadikan pintu bagi diri. Dengan aktivitas itu, kita tak dapat menyangkal bahwa cahaya akan didapatkan. Sebab, membaca dapat menyingkapkan tabir kegelapan melalui ilmu dan pengetahuan yang tersimpan dari buku dan lain-lain. Intinya, aktivitas membaca sangat dibutuhkan untuk perkembangan diri melalui keintiman yang bisa berefleksi apa saja.

Begitu pula dengan Adew Habsta. Ia menilai bahwa peradaban dunia dimulai dari aktivitas membaca. Tanpa membaca, ia menilai dengan gelisah bahwa kita akan tak akan meraih informasi mutakhir yang berguna bagi kelangsungan hidup kita. Bahkan, Adew Habsta berkelakar, jika sikap kita menutup diri dengan tidak membaca, hidup akan terkesan tak ada niat untuk mengolah dan mencari hal yang baru. Kita merasa jumawa sekaligus dengan kondisi saat ini. Dengan kata lain, mengolah, menyerap dalam aktivitas itu penting untuk membuka jendela dan memulai peradaban dunia.

Tentu saja kita dapat membenarkan perkataan Adew. Kendati itu, kita dapat menyaksikan kelakarnya dalam buku yang berjudul Menjadi Bangsa Pembaca; Wisata Literasi, yang terbit tahun ini. Ia begitu keukeuh untuk memprovokasi kita bahwa melakukan aktivitas membaca itu sangat penting terutama untuk bangsa ini. Buku itu berkisah tentang memoir unik tentang dunia literasi.

Namun, Adew setali tiga uang dengan aktivitas itu, ia tidak sekonyong-konyong jadi “duta literasi” yang sembarangan. Landasan itu, ia refleksikan setelah terkenang tulisan yang berjudul Becoming Nation of A Reader dari Komisi Baca Amerika Serikat (A.S., 1985) yang mendedahkan bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh minat budaya baca dalam anggota masyarakatnya, “Luar biasa. Saya mengetahui ihwal petunjuk untuk memajukan peradaban bangsa, ya, dimulai dengan membaca. Membaca apa saja, baik yang tersurat atau tersirat. Membaca teks buku, lingkaran sekitar termasuk membaca diri. Itulah salah satu aktivitas yang menjadi kunci agar tidak tertutupnya pintu diri, agar terbuka belenggu jiwa, dan terkuak kebodohan dan ketidakpedulian diri ini.” (hlm. 145).

Bangsa, diri, mata, dan jiwa. Setidaknya itu pula yang disiratkan Adew dengan aktivitas membaca. Nyatanya, membaca begitu penting sehingga dengan itu kita tak merasa jumawa, pongah dan dapat menciptakan kesalehan sosial. Dengan demikian, harapan Adew dapat kita sokong untuk “mencoba menyayangi negeri ini dengan membaca”.

Kemudian ia berpijak dari esai Ignas Kleden, Masyarakat dan Negara: Sebuah Persoalan (2004), yang mengatakan narasi nasional bangsa ini dibangun atas karakter founding father yang terpelajar dan terdidik. Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Tan Malaka, dan Ki Hajar Dewantara adalah beberapa nama dari sekian nama yang dimantik oleh Adew.

Tidak hanya itu, ia melanjutkan mengutip pemikiran Ignas Kleden bahwa pendiri Republik ini memiliki sifat terpelajar itu; well informed (menguasai informasi), well read (terbiasa dengan membaca), well equipped (yang terlatih bahasa baik lisan atau tulisan).

Refleksi

Buku, musik adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan dari Adew Habsta. Lelaki kelahiran Ledeng, Bandung ini boleh dikatakan ngotot untuk menerbitkan buku dari hasil pergulatan tubuh dan batinnya dengan sejumlah bacaan.

Untuk pergulatan narasi tubuh, ia memulai tradisi membaca bersama majalah si Kuncung dan Mangle. Beranjak kuliah di Universitas Padjajaran, ia terperosok menjadi seorang pustakawan karena harus mencari referensi untuk kebutuhan tugas akhir.

Tidak hanya itu, pergulatan batiniahnya, ia mencoba memberi pandangan agar jangan pernah malu menjadi kutu buku, manfaat membaca dan menuju masyarakat dan bangsa pembaca. Oleh karena itu, bisa disebutkan kumpulan esai ini sebagai refleksi atas narasi kehidupan Adew Habsta dengan sejumlah bacaan baik yang bersifat teks huruf maupun teks sosial.

Namun, untuk dunia literasi, Adew melakukan sejumlah perjumpaan dengan banyak teman di kota kembang. Ia masuk menjadi anggota Forum Lingkar Pena (FLP), Majelis Sastra Bandung (MSB) dan klub baca Asian African Reading (AARC). Ia pun menulis sejumlah puisi yang telah termuat di beberapa antologi.

Adew Habsta bukan seorang pustakawan permanen, ia adalah seorang musisi. Sebagaimana diketahui, Adew Habsta adalah seorang musisi muda Bandung yang sering bermain gitar dengan melantunkan dari mulai puisi Wiji Thukul hingga Acep Zamzam Noor.

Kerapkali ia tampil dari satu panggung ke panggung lain di Bandung, kadang solois kadang bersama grup Adew Habsta dan rekan. Katakanlah, huruf dan bunyi menjadi semacam perlawanannya atas keprihatinnya atas bangsa yang (bukan) pembaca.

Tidak gegabah jika ia sempat berujar “jika buku adalah jalan sunyi, maka musik meramaikan,” ucapnya dalam sebuah diskusi di Bandung. Namun, ia menyarankan dalam bukunya setelah menjadi pembaca Indonesia–mengutip puisi Wiji Thukul–“apa guna banyak buku, kalau mulut kau bungkam melulu.” Sejalan dengan itu, mari menjadi bangsa Pembaca!

Data Buku

Judul: Menjadi Bangsa Pembaca
Penulis: Adew Habsta
Pengantar: Hawe Setiawan
Penerbit: Wisata Literasi
ISBN: 979-18987-2-8

(Pungkit Wijaya / Kontributor AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here