Membincang Sastra dan Kopi di KACF 2014

828
0
SHARE

Kemang Art and Coffee Festival (KACF) 2014 yang berlangsung selama tiga hari (28-30 November 2014) di Galeri 678, Kemang, Jakarta Selatan, menyajikan berbagai acara di antaranya diskusi buku, pameran karya seni, dan pemutaran film pendek. Kegiatan hasil kerjasama beberapa kolaborator ini menarik minat para pembaca, penikmat seni, dan coffee lover terutama kalangan muda.

KACF - Laksmi Pamunjtak
Laksmi Pamuntjak saat diskusi “Literary Coffee”

Salah satu diskusi yang diadakan adalah Literary Coffee yang menghadirkan tiga pembicara, yaitu Laksmi Pamuntjak, Joko Pinurbo, dan Eka Kurniawan. Di sesi pertama, Laksmi Pamuntjak membahas proses kreatifnya dalam menulis novel. Kepada peserta yang hadir, penulis novel Amba yang masuk shortlist Khatulistiwa Literary Award 2013 ini juga memberikan tips-tips menulis dan trik-trik mendapatkan gagasan.

Di sesi kedua, Eka Kurniawan dan Joko Pinurbo berbicara tentang sastra dan pengaruh pengarang lain pada setiap penulisan karya-karya mereka.

“Saya setiap kali menulis selalu merasa takut untuk menjiplak hasil karya sendiri, saya merasa hasil karya saya masih naratif dan belum bisa telling kepada para pembaca,” ujar Eka Kurniawan. Dalam diskusi yang berlangsung kurang lebih dua jam setengah tersebut, Eka memberikan wawasan untuk para penulis baru. “Sebuah novel bukanlah kisah sebenarnya, melainkan banyak kisah yang hadir dalam cerita dan beberapa kisah tersebut merupakan kisah yang terjadi di masyarakat luas,” kata pengarang yang baru saja meluncurkan novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Sementara Joko Pinurbo mengungkapkan, puisi berjudul “Celana” miliknya bukan merupakan puisi dakwah, tetapi ia mengakui bahwa dirinya sangat menggemari kitab suci.

“Saya mendapat kabar dari beberapa gereja, bahwa puisi Celana saya banyak dijadikan bahan untuk khotbah di gereja. Dalam puisi Celana saya banyak memberi tafsir lain kepada masyarakat,” ungkap penyair yang akrab disapa Jokpin.

Jokpin juga mengungkapkan buku kumpulan puisi Buku Matamu: Padang Ilalang adalah buku yang sangat berharga baginya. “Gaya tulisan saya saat itu belum sesempurna sekarang, dan dalam buku tersebut saya juga menceritakan bahwa dari muda saya sudah gemar membaca kitab suci.”

(Redita Dwi Pinasti/AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here