Buku, Olahraga, dan Cinta

614
0
SHARE

Novel ini dibuka dengan kepulangan Doni–lelaki berlengan satu–yang memutuskan pulang menemui anak istrinya di Jakarta setelah bebas tugas peliputan di daerah Jogja. Meski rekan sesama wartawan berusaha keras mencegahnya dengan alasan Doni masih diberi tugas tambahan oleh atasnya dan masih dibutuhkan perusahaan. Doni tetap keukeuh memilih pulang bahkan memutuskan untuk pensiun dini. Lagi pula, ia tak mungkin tega membatalkan janji reuni mendaki gunung Krakatau dengan teman-teman masa kecilnya yang ia juluki pasukan semut dan pasukan matahari.

Singkat cerita sampailah Doni di rumahnya di Jakarta. Keesokan harinya, sebelum berangkat ke Merak dan menyebrangi Bakauni Lampung untuk reuni mendaki gunung Krakatau, Doni menyempatkan mengajak anak istrinya sowan ke rumah mendiang orangtuanya di Menes-Pandeglang.

Di rumah mendiang kedua orangtuanya inilah di hadapan kedua anaknya–Obi dan Tasya–serta anak-anak kampung pengunjung setia Rumah Buku Pelangi; perpustakaan peninggalan ayahnya, Doni mengajak kita flashback menyimak kehidupan masa kecilnya. Kita akan mendapat jawaban bagaimana keseruan Doni kecil saat bermain dengan Pasukan Semut sepulang sekolah, alasan mengapa tangan kirinya sebatas siku sampai harus diamputasi, perasaan kedua orangtuanya kala itu, pertemuan dan petualangan Doni selama di rumah sakit bersama Pasukan Matahari.

Ceritanya terkesan sederhana; cuti dini, sowan ke kampung kelahiran, dan melakukan pendakian. Namun bukan Gol A Gong namanya, jika tak sanggup menyelipkan muatan sarat kritik–otokritik bagi Banten–dan pelajaran hidup sepanjang cerita tanpa mesti menggurui pembaca. Kita akan menyimak semangat berbagi (filantrofi), cara bijak memperlakukan teknologi, besarnya pengaruh cinta terhadap aspek parenting pendidikan keluarga, dan banyak lagi.

Sebagai pembaca, kita akan disuguhkan oleh sikap Doni dan keluarga yang ringan tangan meringankan beban orang lain yang membutuhkan. Membuat kita bernostalgia dengan pengalaman-pengalaman permainan masa kecil; rujak bambu locok, wit iwit utung-utung, hingga teriak teriak “kapal, minta duit” setiap kali ada pesawat terbang lewat.

Kita juga akan diperkenalkan beberapa destinasi wisata yang terdapat di Banten; Duren Jatohan Haji Arif, Batu Quran, Penziarahan Syeikh Mansur, Pemandian Alam Cikoromoy dan Citaman, Pantai Carita, hingga gunung Krakatau (sekadar menyebutkan beberapa yang saya ingat). Tak hanya itu Gol A Gong tanpa ragu melakukan otokritik terhadap perkembangan pemerintahan Provinsi Banten setelah mandiri berlepas dari Jawa Barat. Tentang lingkaran pejabat yang korup, mengguritanya dominasi dinasti klan jawara, sikap sebagian masyarakat Banten yang masih membesarkan otot ketimbang memfungsikan otak, infrastruktur jalan dan belitan kemiskinan yang tak kunjung mendapat perhatian pemerintahan Provinsi Banten.

Momen yang sangat membekas dalam ingatan saya adalah suasana batin kedua orangtua Doni saat harus menerima kenyataan tangan kiri anaknya mesti diamputasi lantaran patah setelah terjun pakai payung dari pohon seri. Peran hebat kedua orangtuanya inilah yang membuat Doni seakan melupakan kondisi fisiknya yang cacat. Saat di rumah sakit dan bertemu dengan teman-teman senasib sepenanggungan–sesama anak penyandang cacat–yang Doni sebut Pasukan Matahari ada adegan mereka kerap berkumpul di perpustakaan rumah sakit untuk mengusir rasa jenuh. Saya sempat bertanya-tanya sendiri apa mungkin RSUD Serang dulu memang ada perpustakaannya, mengingat beberapa kali ke RSUD Serang saya belum pernah menemukannya. Inilah mungkin salahsatu kritik konstruktif yang dilancarkan Gol A Gong terhadap rumah sakit agar lebih humanis atau manusiawi. Karena kebutuhan penyandang cacat bukan semata penyembuhan fisik pasca operasi, yang lebih penting dari itu adalah kepulihan psikis.

Saya sempat berkaca-kaca menyimak peran pak Akbar Ayah Doni yang berhasil menggembleng Doni dengan olahraga badminton dan suplai buku-buku. Bagaimana pak Akbar membentuk mental Doni dengan mengajarinya menyebrangi jembatan gantung pasca amputasi (hal:250-251), membonceng Doni dari Menes ke Royal dengan vespa tuanya sekadar untuk membelikan Doni raket dan banyak buku (hal:270). Bagi Doni buku dan olahraga yang difasilitasi kedua orangtuanya seakan menjadi sepasang sayap yang menerbangkannya membumbung tinggi menggapai puncak prestasi–menjadi penulis terkenal dan kerap menorehkan prestasi olahraga yang membanggakan, bahkan sempat menjadi juara pertama ajang SEA GAME untuk atlet cacat di Kuala Lumpur kategori tunggal, dobel, dan beregu (hal:119).

Resensi - Pasukan Matahari #2

Bagi pembaca yang kenal dekat dengan Gol A Gong melahap novel ini seakan tengah membaca sebuah otobiografi pengalaman hidup Gol A Gong itu sendiri. Novel ini merupakan hadiah istimewa bagi Indonesia khususnya anak-anak Banten. Secara tegas Gol A Gong mengingatkan kita untuk tidak meremehkan impian-impian kita di masa kecil. Mimpi-mimpi Pasukan Semut dan Pasukan Matahari contohnya. Dengan kesungguhan dan upaya keras menggapainya ternyata Tuhan memeluk setiap mimpi kedua pasukan anak-anak tersebut setelah dewasa. Apapun impian anda, bacalah novel ini. Novel ini akan turut memotivasi dan menginspirasi Anda bagaimana mewujudkan impian tersebut.

Judul : Pasukan Matahari
Penulis : Gol A Gong
Penerbit : Penerbit Indiva
Cetakan : Pertama (September 2014)
Tebal : 368 halaman

(Anas Al Lubab/Kontributor AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY