Perihal Tuhan, Ilmu Pengetahuan, dan Kontroversi

Perihal Tuhan, Ilmu Pengetahuan, dan Kontroversi

636
0
SHARE

Richard Dawkins adalah juru bicara ateisme paling vokal. Buku-bukunya seperti The Delusional God (2006), The Ancestor’s Tale (bersama Yan Wong, 2004) dan The Blind Watchmaker (1986) menjadi kanon serupa kitab suci bagi kaum ateis. Pada wawancara bersama New Scientist ia berkata dengan terus-terang bahwa apa yang ia sampaikan adalah kejujuran. “Beberapa orang takut akan keterusterangan, mereka menyukai kebingungan dan keterbatasan, jadi saat seseorang berkata secara jujur dan jelas terdengar sangat menakutkan,” katanya. Ia tetap berpendapat bahwa sebagian besar kerusakan di muka bumi disebabkan oleh agama dan orang yang dengan taklid buta pada sesuatu yang ia anggap tak masuk akal.

Dalam buku terbarunya yang juga sebuah memoar An Appetite for Wonder: The Making of a Scientist (2013), Dawkins bicara tentang sisi lain dirinya yang tak dikenal. Selama ini ia hanya diingat sebagai sesosok monster yang selalu menyerang agama. Padahal sebagai profesor emiretus dalam bidang biologi evolusioner di University of Oxford, Dawkins juga merupakan pendukung Teori Evolusi Berdasarkan Seleksi Alam yang dikemukakan oleh Charles Darwin. Dalam memoarnya itu ia menjelaskan bagaimana hidup semasa kecil di Afrika bersama kedua orang tuanya, yang kebetulan botanis, memacu ia untuk belajar tentang sains dan organisme hidup. “Saya sedih kalau hanya diingat sebagai seorang ateis,” katanya.

Dalam The Selfish Gene (1976) dan The Greatest Show On Earth (2009), dua buku biologi evolusi paling berbahaya dan sempat menimbulkan polemik bahkan di kalangan para ilmuan. The Selfish Gene misalnya mengemukakan bahwa dalam tubuh makhluk hidup tengah terjadi usaha adaptasi. Mereka berkembang dengan menyesuaikan kepentingan-kepentingan mereka sendiri. Lantas pada buku berikutnya Dawkins menyatakan dengan keras bahwa biologi mampu membunuh agama tuhan melalui bukti-bukti empirik evolusi. Dawkins juga menjelaskan bahwa orang-orang telah antipati dan bersikap apriori terhadap pemikiran Darwin. Sehingga alih-alih berusaha belajar dan mencari tahu, mereka membenci tanpa alsan. “Kita menerima bahwa orang-orang menjadi irasional karena alasan baik Darwinian. Tapi saya pikir kita tak boleh pesimis bahwa kita dikutuk selamanya menjadi irasional,” katanya. Sebagai ateis, Dawkins pernah mengatakan bahwa ada orang-orang yang baik dalam Kristen seperti juga Islam. Yaitu orang-orang yang tak menganggap serius keyakinannya sendiri.

Melalui akun Twitter-nya, Richard Dawkins sering memberikan pernyataan kontroversial terkait keyakinan umat beragama. Seperti saat ia mengatakan bahwa terlalu sedikit peraih nobel sains yang didapat oleh tokoh Muslim. Banyak tokoh yang kemudian menyerang pernyataannya ini dan dianggap sebagai usaha menyebar kebencian terhadap Islam. “Saya hanya mengungkapkan fakta. 20-25% Nobel diraih oleh orang Yahudi yang berjumlah kurang dari 1% populasi dunia. Ini perbandingan yang sangat memalukan,” katanya. Ia bersikeras bahwa Muslim pernah mengalami saat-saat kejayaan ilmu pengetahuan. Peradaban Islam melahirkan Aljabar, menerjemahkan filsafat Yunani dan bersinar di Abad Pertengahan. “Tapi mereka saat ini kehilangan itu semua karena terlalu fokus pada studi agama,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa kebudayaan Islam terlihat sangat antipati kepada ilmu pengetahuan. “Muslim Mesir, Muslim Pakistan, dan Muslim Indonesia bukanlah orang yang sama tapi punya kenyakinan yang sama. Bahwa Agama Islam tidak bersahabat dengan ilmu pengetahuan,” kritiknya.

Dawkins konsisten dengan ucapannya dengan mendirikan sebuah yayasan yang bertujuan untuk mendukung pendidikan sains, pemikiran kritis dan pemahaman terhadap alam berdasarkan bukti. “Tugasnya adalah untuk melawan fundamentalisme relijius, takhayul, intoleransi, dan penderitaan manusia,” katanya. Masalah terbesar dalam agama adalah minimnya kritik terhadap otoritas dogma. Dawkins berpendapat keyakinan semacam ini akan memakan korban yang tak sedikit. “Yang paling menyedihkan adalah anak-anak. Mereka dipaksa meyakini takhayul,” katanya pada Guardian. Salah satu perdebatan paling mashyur yang ia lakukan dengan kaum teis adalah perdebatan di Guardian dengan William Lane Craig. Artikel yang ditulis Dawkins menyindir bahwa sebagai seorang filsuf dan teolog, Craig inkonsisten dengan apa yang dituliskan Alkitab. Perihal genosida yang ada dalam kitab itu, seperti juga Islam, Dawkins menuduh para agamawan menggunakan standar ganda. “Ia mengatakan bahwa kaum Kanaan pantas dibantai karena berdosa, tapi apakah juga anak-anak?” katanya.

Di Indonesia sendiri pemikiran Dawkins masih jarang dikemukakan. Selain karena ateisme masih menjadi hal yang menakutkan karena selalu dikaitkan dengan komunisme. Ilmu Biologi di Indonesia, yang menjadi bidang keilmuan utama Dawkins, juga tak terlalu banyak menggunakan karyanya sebagai rujukan. Tapi yang menarik adalah Penerbit Banana Books milik sastrawan Yusi Pareanto Anom, berani menerjemahkan dan menerbitkan The Delusional God di Indonesia. “Selalu menarik untuk merayakan sebuah pemikiran, apalagi yang mengusik, menggelitik, menantang, menggampar, atau sejenisnya terhadap pemahaman yang kita yakini seumur hidup,” kata Yusi.

The Delusinal God banyak dikritik karena menganggap Dawkins cherry pickings. Ia dituduh hanya menyerang buruknya agama tanpa ada upaya menunjukan sisi baiknya. Dawkins berargumen bahwa keburukan itu lahir karena minimnya kritik terhadap agama. Kepercayaan terhadap Tuhan yang personal adalah semata-mata delusi karena tunduk pada keburukan tadi. Sementara di sisi lain kaum ateis harus bangga, tidak apologetik, karena ateisme adalah bukti pikiran yang sehat dan independen. “Perkiraan terbaik kemanusiaan tentang Tuhan telah habis pada 1859, saat The Origin of Species diterbitkan. Dan selama dekade setelahnya evolusi telah menjadikan dirinya sebagai teori tanpa tanding sampai hari ini,” katanya.

ARMAN DHANI
Kontributor AlineaTV

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY