Pemberontakan di Nusantara: Dari PKI sampai Nabi Pribumi

731
0
SHARE

Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) telah sampai di hari terakhir, 15 November 2014. Diskusi di hari terakhir ini mengangkat tema yang unik dan menyegarkan; Pemberontakan di Nusantara. Hadir sebagai pembicara Dr. Bambang Purwanto dengan makalah berjudul “Kuasa dalam Nalar Nusantara Modern”, Budiawan dengan makalah “Ideologi dan Sejarah Pemberontakan Kiri di Nusantara”, dan Al-Makin dengan makalah “Fenomena Kemunculan Berbagai Nabi Palsu dan Pergerakan Islam di Nusantara”. Pembicara membahas sejarah pemberontakan yang pernah terjadi di Nusantara dalam kaitannya dengan fenomena milenarisme, kecenderungan ideologis dan agama. Dalam diskusi ini, juga dibicarakan bagaimana berlangsungnya berbagai pergerakan di Nusantara.

Dalam forum yang diselenggarakan oleh BWCF ini, Budiawan berbagi pandangan tentang pemberontakan PKI yang terdokumentasi dalam dua bagian. Teks-teks resmi PKI yang belakangan muncul kembali adalah berkat kebebasan berekspresi sebagai salah satu buah reformasi dan kemajuan teknologi.

“Pada tahun 1948 dan 1965,” papar Budiawan, “pemerintah Republik Indonesia menghadapi musuh yang kita kenal dengan nama PKI. Maka, apa yang dilakukan PKI bisa dilabeli sebagai sebuah tindakan pengkhianatan dan karena itu PKI harus dihancurkan dan dipandang sebagai musuh bangsa.”

Namun, menurut Budiawan, jika melihat pendokumentasian lainnya tentang sejarah PKI, terhadap apa yang dilakukan mereka pada tahun 1926-1927 sangat bertolak belakang dengan apa yang sudah kita yakini sampai saat ini. Pada masa itu, yang ditantang PKI bukanlah pemerintah Indonesia, melainkan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Dan sesuai dengan apa yang dikatakan dalam wacana sejarah resmi yang nasionalisme anti-kolonial, siapa pun mereka yang pernah dan berani melawan atau memberontak terhadap pemerintah kolonial, apa pun motifnya, akan dengan mudah dilabeli sebagai pahlawan. Sampai di sini, historiografi dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah; bahwa melabeli PKI sebagai pahlawan karena pemberontakan terhadap kolonial akan mengurangi dan menjungkirbalikkan gambaran tentang mereka sebagai pengkhianat negara.

Sementara itu, pembicara ketiga, Al-Makin, mengajak kita merenung kembali konteks nabi di Nusantara. Al-Makin menerangkan bahwa Nabi dalam konteks Nusantara adalah mereka yang merasa mendapatkan wangsit, ilham, bisikan, tuntunan atau wahyu dari langit untuk disebarkan kepada para pengikutnya. Biasanya, nabi di Nusantara ini mendapatkan wahyu yang terus-menerus lalu dihimpun dalam kumpulan yang menjadi tuntunan bagi mereka yang mempercayainya.

Al-Makin menegaskan, konsep kenabian Timur Tengah dan Semitik sebagai sebuah contoh. Kitab-kitab lahir sebagai biografi mereka, hadis-hadis sebagai ucapan dan tindakan para Nabi dikumpulkan setelah berabad-abad dan literatur-literatur lainnya ikut berkembang, seperti: fiqh, ushul fiqh, kalam, tasauf, filsafat, dan sebagainya.

Dan para nabi yang lahir di Nusantara juga tidak berbeda jauh. Mereka yang mengaku nabi, menurut Al-Makin telah ada sejak masa kolonial hingga zaman reformasi dengan jumlahnya yang ratusan. Uniknya, para nabi dalam konteks sejarah dan sosiologis Nusantara juga ikut mengklaim telah mendapatkan wahyu atau berkomunikasi dengan alam gaib kemudian merekrut pengikut dan membentuk suatu kelompok ummat. Pertanyaan besar yang timbul hingga saat ini adalah, apakah kelompok itu disebut ‘agama’ atau sekedar ‘aliran kepercayaan atau kebatinan’.

Lebih jauh lagi, Al-Makin menjelaskan, fenomena kenabian di Nusantara diawali dengan cerita perampasan, penguasaan asing dan hilangnya harga diri. Kita bisa merujuk dari apa yang telah Peter Carey jelaskan dalam risetnya tentang Diponegoro; konon, Diponegoro mendapatkan sebuah tugas sebagai ‘wali wudhar’ yang datang dari alam mimpinya. Jika diperhatikan, Diponegoro memang seperti nabi, berdasar karisma, kehidupan serta pemujaan terhadapnya yang dilakukan oleh masyarakat. Diponegoro juga bertapa di Secang Bantul yang kemudian mendapatkan bisikan sebagai Erucakra (Ratu Adil yang ditunggu-tunggu). Seperti malaikat, roh ini juga membayangi dan memberi inspirasi dalam perang Diponegoro melawan Belanda.

Di Sumatera kita mengenal Si Singamangaraja XII yang menurut sejarah dilahirkan oleh sang ibu tanpa dibuahi terlebih dahulu oleh suaminya, Si Singamangaraja XI yang kala itu sedang bepergian. Dan sang istri jelas tidak melakukan perzinahan, tegas Al-Makin. Keduanya, baik Diponegoro maupun Si Singamangaraja adalah sosok seperti nabi yang sama-sama berjuang melawan Belanda. Keduanya adalah sosok nabi di tanah kediamannya. Dalam artian, bukan hanya Timur Tengah dan tradisi Sematik yang melahirkan figur kenabian, Jawa dan Sumatra adalah contoh dari Nusantara yang melahirkan figur nabi dengan keunikan tersendiri.

Para nabi Indonesia adalah nabi pribumi yang berusaha mengklaim tradisi keagamaan lokal. “Nabi Indonesia itu ada, jika ditelisik dalam sejarah negara ini, secara sosiologis, antropologis dan sejarah, atau bahkan sebelum nama Indonesia lahir sebagai sebuah negara, nabi di Nusantara jumlahnya sudah ratusan” pungkasnya.

(Anggi Septianto/AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here