Ratu Adil dan Pergerakan Sosial di Nusantara

453
0
SHARE

Jika di hari pertama Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) diskusi membahas pengertian tentang kekuasaan dan Ratu Adil, maka di hari kedua, acara diskusi yang berlangsung di Hotel Manohara Borobudur, menghadirkan para pembicara yang membagikan hasil pengamatan dan riset mereka tentang pergerakan sosial yang muncul di seluruh Nusantara.

Dr. Jean Couteau, seorang kurator dan pengamat budaya kelahiran Prancis, berpendapat bahwa di Bali terdapat keyakinan akan datangnya awatara Dewa Wisnu yang bertugas menegakkan kebajikan di dunia. Sebut saja Krisna, tokoh dalam Mahabharata yang menjadi penasihat para Pandawa dalam konflik dengan para Kurawa.

Namun demikian, Jean yang hingga kini masih menjadi dosen di Institut Seni Indonesia (ISI), mengatakan bahwa Bali tidak pernah mengalami gerakan milenaris massal. “Bali hanya mengalami sejumlah gejala terbatas yang hanya menyentuh minoritas masyarakat,” katanya.

Hal demikian, lanjut Jean, terjadi karena kultur budaya Bali yang heterogen. Jean menambahkan, orang Bali terkenal tidak bisa kompak, selalu bertikai satu sama lain dan lebih suka membentuk pertemanan dengan pihak luar dibanding dengan sesama orang Bali. Kasus seperti ini sudah terlihat jelas sejak masa kolonial dalam bidang politik maupun di bidang ekonomi. Perilaku-perilaku demikian yang mencegah terbentuknya gerakan solidaritas dan atau gerakan milenaris.

Ini berbeda dengan masyarakat Papua. Dr. Enos H. Rumansara mengatakan, di Papua, merujuk Kamma dan John G. Strelan, diperkirakan sejak tahun 1885 hingga 1889 ada 300 gerakan yang pernah terjadi di Melanesia. Gerakan-gerakan ini, oleh beberapa penulis asing diberi istilah Cargo Cult atau Kargoisme yang kemunculannya sebagai bentuk reaksi terhadap kehadiran orang-orang Eropa pada tahun 1950-an.

“Di antara gerakan-gerakan itu, ada sebuah gerakan bernama Koreri atau mengganti kulit baru/sorga,” kata Dr. Enos. Gerakan Koreri, lanjutnya, adalah sebuah gerakan yang memperjuangkan Koreri itu sendiri. Gerakan Koreri dalam kebudayaan orang Biak di Papua adalah suatu gerakan Kargoisme yang memiliki pengikut cukup banyak. Gerakan ini muncul pada tahun 1938-1943. Dan walaupun pergerakan ini muncul pada zaman Jepang, namun, dasar gerakan Koreri adalah menantikan kedatangan Koreri  atau zaman yang penuh dengan kebahagiaan.

Sementara itu, Dr. Otto Syamsuddin Ishak berkisah tentang pengalamannya di Aceh. Ia mengatakan kemunculan banyaknya pergerakan pemberontakan di Nusantara semakin menuju pada satu titik, yaitu merebut kembali apa yang telah dan harus menjadi milik masyarakat.

“Pada tahun 1987 di Aceh, bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, masyarakat urban di Sigli dan Meulaboh dikejutkan dengan arak-arakan sekelompok orang berjubah, bersenjatakan rencong dan pedang panjang. Kelompok ini membaca ayat suci Al-Qur’an dan berdzikir. Kemudian mereka menyebarkan selebaran yang berisikan ajakan untuk kaum muslimin di Aceh untuk berjuang di jalan Allah dengan cara menghapuskan kafir Fir’aun beserta antek-anteknya,” katanya.

Aksi demikian, lanjut Dr. Syamsudin, disebabkan keadaan Aceh yang telah berubah. Bantaqiah sendiri menggambarkan Aceh sudah bukan serambi Mekkah melainkan Serambi Ke-cabul-an. Kelompok ini memberi jawaban bahwa sebuah gerakan muncul sebab nilai-nilai terdahulu sudah terancam. Ilmuwan sosial modernis, mengenai hal ini turut sepakat, gerakan di Aceh ini merupakan reaksi terhadap adanya perubahan.

Pada akhirnya, semua gerakan-gerakan yang muncul di Nusantara, akan selalu didorong oleh pengetahuan, keyakinan, ideologi, rasa nasionalisme, etnik, dan rasa ketidakpuasan terhadap penguasa atau situasi baru yang datang mengancam segala sesuatu yang ada dalam masyarakat.

(Anggi Septianto/AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY