Amarah Abadi Steinbeck

1099
0
SHARE

Mengenang karya masyhur yang menjadi penanda sejarah Amerika

Pada 2 Juni 1969, tujuh tahun setelah menerima penghargaan Nobel Sastra dunia, John Steinbeck menulis bahwa tugas seorang penulis adalah meyakini apa pun yang ia tulis. Sekalipun itu adalah khayalan, kebohongan ataupun dusta, seorang penulis mesti yakin bahwa apa yang ia susun bisa memberikan sesuatu. Barangkali Steinbeck ingin mengingatkan penulis kala itu yang sibuk merajut ketenaran, ketimbang berbicara tentang hati nuraninya sendiri.

Kata-kata itu tertulis di New York Times sebagai upaya mengingat kembali apa dan siapa sosok John Steinbeck. Tentu generasi saat itu mengenal ia sebagai seorang kanon sastra, raksasa yang menulis karya klasik seperti In Dubious Battle (1936), Of Mice and Man (1937), Tortila Flat (1935), dan Cup of Gold (1929). Tetapi sosok Steinbeck mendunia, juga di Indonesia, karena satu novelnya yang menyoroti perihal getirnya hidup. Tentang penderitaan dan semangat berjuang ‘ala’ Amerika yang berjudul The Grapes of Wrath (1939).

Di Indonesia The Grapes of Wrath diterjemahkan menjadi dua seri novel berjudul Amarah. Karya ini oleh New York Times dicatat sebagai buku paling laku terjual pada 1939. Lantas pada 1940 lebih dari 430.000 kopi buku telah terjual. Pada bulan penerbitan pertama penerbitan buku itu, National Book Award mengganjar The Grapes of Wrath sebagai karya tebaik. Setahun setelahnya Steinbeck meraih Pulitzer Prize for Fiction.

Pramoedya Ananta Toer sendiri dikenal sebagai penggemar Steinbeck. Of Mice and Man adalah satu karya yang ia terjemahkan untuk memperkenalkan pembaca Indonesia dengan sosok penulis Amerika ini. Tapi apa yang membuat novel ini jadi istimewa? The Grapes of Wrath bukanlah sekadar novel. Ia adalah gambaran rekam jejak jatuh bangunnya negara. Di Amerika Serikat, novel karya John Steinbeck menjadi bacaan wajib untuk mengetahui suasana dan kondisi negara itu saat great depression terjadi.

Selama awal 1930-an, kekeringan yang parah menyebabkan kegagalan besar-besaran pertanian di Oklahoma Barat dan Texas. Daerah ini telah banyak mengalami penanaman berlebihan oleh petani gandum di tahun-tahun setelah Perang Dunia Pertama. Keluarga tercerai-berai, bisnis bangkrut, pemerintahan kacau dan bank banyak menyita aset-aset keluarga karena tak mampu membayar utang. Dunia seakan telah berakhir dan runtuh saat itu.

Beberapa daerah pertanian di Amerika mengalami kondisi kerusakan berat akibat penanaman berlebihan satu jenis tanaman. Jutaan hektar tanah kosong dan tak mampu lagi ditanami ditambah dengan musim kemarau yang panjang, banyak tanaman layu dan mati. Daerah yang menderita ini menjadi dikenal sebagai “Dust Bowl“. Dua novel terdahulu The Grapes of Wrath, In Dubious Battle dan Of Mice and Man merupakan narasi penyambung yang menjadi trilogi Dust Bowl. Ketiganya bercerita tentang tanah tandus dan upaya masyarakat Amerika bangkit dari Depresi Besar.

Plot The Grapes of Wrath sederhana saja. Ia bercerita tentang Tom Joad yang baru saja keluar dari penjara karena membunuh. Pada saat perjalanan pulang, ia bertemu dengan Jim Casy, seorang kawan masa kecilnya. Berdua mereka mendapati rumah tempat di mana mereka tumbuh telah ditinggalkan, usang, dan tandus. Dari tetangga mereka yang masih tersisa dikabarkan bahwa seluruh keluarga Joad telah pergi karena tak mampu membayar utang pada bank.

Lantas cerita berubah menjadi perjalanan Tom dan Casy menuju California, tempat baru untuk mencari pekerjaan dan berjuang mempertahankan hidup. Di sini keduanya menemukan fakta bahwa negara itu telah penuh sesak dengan pekerja migran. Lowongan kerja dan makanan makin langka, tumbuhnya prasangka dan permusuhan antara pendatang dan orang lokal membuat kehidupan tokoh-tokoh dalam The Grapes of Wrath menjadi kaya.

Robert Demott, kritikus sastra pada masa itu menyebut novel ini sebagai karya paripurna. “Ia masuk dengan baik ke dalam kesadaran Amerika dan hati nurani warganya,” katanya. Sayangnya karya ini juga menjadi akhir dan penanda batas karier gemilang Steinbeck sebagai penulis. Dia meninggal pada tahun 1968 sebagai legenda. Hari ini, The Grapes of Wrath masih menjadi sebuah refleksi kritis terhadap pemerintah yang gagal mensejahterakan rakyatnya.

Hari ini Amarah menemukan konteksnya sendiri di Indonesia. Jika latar cerita kisah itu di Amerika adalah Depresi Besar, maka di Indonesia depresi itu adalah intoleransi. Kebengisan kita terhadap orang-orang yang berbeda, minoritas dan keluar dari pakem umum menjadi keseharian. Kita lupa bahwa dalam hidup barangkali orang-orang tadi adalah serupa Tom dan Casy, orang yang terpinggirkan oleh sistem, menjadi berbeda bukan karena keinginan sendiri tapi karena mereka dipaksa kalah oleh keadaan.

Steinbeck adalah salah seorang penulis yang menjadikan muramnya zaman sebagai inspirasi. Penggalian ide yang dilakukan seorang penulis akan sia-sia jika ia tak bisa menuturkan kisahnya dengan baik. Ernest Hemingway menulis kisah dengan pendek dan sedikit dialog. Sementara Vladimir Nabokov selalu berusaha menciptakan momen magis dengan deskripsinya tentang latar. Dalam kisah ini Steinbeck sukses menghasilkan penokohan karakter yang berkembang seiring dengan berjalannya kisah.

Tapi apa yang membuat Steinbeck menjadi istimewa saat ini? Terlebih keberadaan konteks karyanya di masa lalu terlampau jauh dari keseharian zaman modern. Steinbeck akan selalu relevan. Barangkali ia adalah salah seorang dari sedikit sekali penulis di zamannya yang menulis karya abadi. Bahwa semangat, kekalahan, keputusasaan, dan juga keterhimpitan adalah repetisi. Mengutip Steinbeck dalam The Grapes of Wrath: “How can we live without our lives? How will we know it’s us without our past?”

(Arman Dhani/Kontributor AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here