Daya Hidup Hemingway

508
0
SHARE

“Seorang penulis mesti menuliskan apa pikirannya, bukan hanya membicarakannya,” kata Ernest Hemingway. Kata-kata ini ia sampaikan pada pidato Nobel Sastra 1954. Tugas penulis, menurutnya, adalah menjadi juru bicara peradaban dengan mencatat semangat zaman dan tak hanya mengucapkannya saja. “Menulis adalah jalan hidup yang sunyi,” kata Hemingway. Jalan hidup ini ia pilih dengan kesadaran penuh, bahwa menulis adalah menghadapi kesendirian lantas mencari ilham untuk memberikan kebijaksanaan kepada khalayak.

Pemikiran Hemingway ini menginspirasi banyak generasi setelahnya. Gaya menulis dengan kalimat pendek, dengan fokus pada karakter dan dialog yang tidak panjang adalah ciri khas Hemingway. Hal ini bisa dilihat dalam karya seperti Fiesta (1927), The Snows of Kilimanjaro (1961), dan The Sun Also Rises (1926). Novel-novelnya itu seringkali bercerita tentang persilangan budaya dari negeri yang jauh. Menariknya Hemingway selalu dengan piawai menuliskan budaya-budaya asing itu agar mudah dimengerti oleh pembacanya.

Hemingway senang menulis tentang realitas yang dekat, sederhana namun penuh makna. Namun ia juga bisa menulis tentang tema yang rumit dan membuatnya mudah dipahami. Seperti pada A Farewell to Arms (1929) yang berkisah tentang percintaan dengan latar belakang perang dunia pertama. Begitu juga dengan For Whom the Bell Tolls (1940) yang berkisah tentang prajurit muda di perang Spanyol. Karena beberapa karyanya yang seringkali mengambil latar pertempuran, Hemingway pernah mendapatkan julukan sebagai novelis spesialis perang.

Tapi tak ada yang membuat Hemingway dikenal dunia kecuali novel magnum opusnya The Oldman and The Sea (1952). Lewat karya ini Hemingway mencatatkan diri sampai hari ini sebagai kanon sastra dunia. Lewat novel ini pula ia meraih penghargaan Pulitzer pada 4 Mei 1953, setahun sebelum ia dianugerahi Nobel Sastra. Kisah Pak Tua dan usaha memancing dalam novel ini telah menjadi perdebatan, polemik, dan diskusi dari kritikus sastra dunia. Bukan karena kerumitan bahasa, namun kemampuan Hemingway menulis cerita sederhana dengan makna yang begitu dalam.

The Oldman and The Sea bercerita tentang Santiago, seorang nelayan tua yang bangkrut. Ia tak memiliki apa pun kecuali perahu kecil dan keinginan bertahan hidup. Santiago adalah nelayan yang berpengalaman dalam menangkap ikan Marlin. Namun setelah 84 hari melaut tanpa satu pun tangkapan ia dijuluki sebagai “salao,” kesialan yang teramat sangat. Manolin, rekannya yang masih muda, dilarang oleh orang tuanya untuk melaut bersama Santiago karena takut tertular kesialan itu.

Namun meski dilarang oleh orang tuanya, Manolin masih tetap datang ke rumah Santiago setiap malam. Memberi nelayan tua itu makanan dan berbincang perihal baseball. Setelah 84 hari melaut, Santiago akhirnya menemukan ikan Marlin yang diburunya. Namun sial, ikan Marlin itu begitu kuat, selama dua hari ia berjuang melawan ikan tersebut. Dalam proses penaklukan itu ia berkontemplasi dan berpikir bahwa si Marlin memiliki daya hidup yang kuat. Ia tidak mau ditaklukkan dan ditangkap nelayan tua seperti dirinya.

Banyak kritikus yang kemudian menafsir apa sebenarnya makna dalam The Oldman and The Sea. Karya ini sering disandingkan dengan novel masyhur William Faulkner yang berjudul The Bear dan karya Herman Melville yang berjudul Moby-Dick. Melalui sosok Santiago, Hemingway menghadirkan lagi pembacaan ulang tentang daya hidup manusia. Penyintas yang menghadapi masalah dan bagaimana bertahan hidup setelahnya.

Dalam film mahsyur Finding Forester terungkap bahwa, “First rule of writing is to write, not to think,” kata Sean Connery dalam film itu. Ada yang komikal dan profetik dalam pernyataan itu. Tugas pertama seorang penulis adalah menuliskan bait-bait pemikirannya dalam lingkar kerja kalimat. Dari situ teks akan melahirkan makna yang kemudian akan dimaknai oleh pembaca. Sebuah proses tanpa akhir dari relasi yang kelak, semoga saja, akan melahirkan peradaban.

Peradaban yang lahir dari kata-kata adalah peradaban yang mulia. Penulis dalam hal ini punya peran sentral dalam bagaimana peradaban, juga kebudayaan itu dibentuk. Hemingway dalam hal ini benar, bahwa penulis dan karyanya yang membantu membentuk peradaban modern jadi lebih baik lagi.

Manusia yang bertarung dengan hewan buas di alam liar, penaklukan dan keberanian menghadapi yang tanda tanya. Meski para pembaca Hemingway tahu, kisah The Oldman and The Sea adalah kisah yang pahit dan getir. Karena meski telah berjuang selama lebih dari 84 hari, meski telah menemukan ikan Marlin besar dan meski telah berhasil memancingnya, Pak Tua Santiago hanya menemukan kekalahan, namun hal ini tak membuatnya menyerah. Ia tahu bahwa perjuangannya dalam menangkap Marlin bukan sekadar usaha bertahan hidup. Ini adalah usaha untuk bertarung dan membuktikan nilai sebagai manusia.

Pada pidato Nobel sastranya itu, Hemingway menekankan kembali apa peran penulis bagi peradaban. Bagi seorang penulis, setiap buku seharusnya menjadi titik awal untuk meraih capaian baru. Lebih dari karya sebelumnya. Ia harus berusaha untuk mencari teknik, pemikiran, kisah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dalam usahanya itu, kata Hemingway, banyak yang gagal, kalah, dan terpuruk. Tapi dengan kerja keras dan usaha terus-menerus bukan tak mungkin seorang penulis akan berhasil mencipta karya paripurna.

Hemingway juga berkata betapa membosankannya dunia sastra jika hanya tunduk dan puas pada hal yang itu itu saja. Dunia sastra akan mandek dan tak berguna jika hanya mengekor pada apa yang telah ditulis sebelumnya. Dunia sastra selayaknya terus berkembang dan bergerak mencari bentuknya yang baru. Sehingga para pembaca akan semakin terpelajar. The Oldman and The Sea adalah capaian yang telah membuat Hemingway dikenal dunia. Meski pada akhirnya ia bunuh diri karena kebosanan.

 

(Sumber Foto: 1954:  American novelist Ernest Hemingway (1899 – 1961) on safari in Africa.  (Photo by Picture Post/Hulton Archive/Getty Images – www.sunpeople78im.com)

(Arman Dhani/Kontributor AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY