Dramatic Reading I La Galigo, Karya Sastra Agung Bugis

653
0
SHARE

I La Galigo merupakan karya sastra Bugis kuno berbentuk puisi. Di dalamnya berisi tentang genesis orang Bugis dan filosopi kehidupan manusia. Oleh beberapa pakar di bidang pernaskahan nusantara, I La Galigo dianggap sebagai salah satu karya agung yang dimiliki dunia.

Sabtu, 13 September 2014 lalu, Yayasan Lontar bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menggelar pertunjukkan dramatic reading naskah I La Galigo di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta. Naskah tersebut dibacakan dalam Bahasa Indonesia oleh Ilham Anwar dan dalam bahasa Bugis oleh penyair Khrisna Pabichara diiringi alunan musik yang dipimpin Juku Eja.

Menurut peneliti, naskah I La Galigo memiliki panjang sekitar 300.000 baris, yang artinya dua kali lebih panjang dibandingkan dengan dua karya sastra klasik dunia seperti Mahabharata dan Odyssey. Kisah I La Galigo terdiri dari dua bagian, bagian pertama berisi tentang penciptaan langit dan bumi, asal usul kehadiran manusia, dan nenek moyang. Dalam pertunjukkan ini, hanya bagian dua saja yang dibacakan, yaitu berisi kisah kehidupan tokoh bernama Sawerigading dan I La Galigo.

Mantan Presiden RI, B.J. Habibie yang juga hadir dalam acara ini menyatakan sangat terkesan dan terpesona dengan cerita dan pembawaan naskah yang dibacakan oleh dua penyair Makassar tersebut. Habibie menyampaikan pada Direktur Frankfurt Book Fair yang juga hadir pada kesempatan ini dengan bangga bahwa I La Galigo merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dipertunjukkan di Frankfurt Book Fair karena ia salah satu literatur yang diterjemahkan.

Dalam kesempatan yang sama, penyair Khrisna Pabichara mengatakan bahwa beberapa tempat di Jakarta hanya dikuasai pementasan dari dua daerah, kalau bukan Jawa, ya Bali. “Kita seperti tidak punya Kalimantan, tidak punya Sumatra, tidak punya Indonesia Bagian Timur. Mungkin alasannya, karena sponsor hanya tertarik dengan budaya dua daerah tersebut,” katanya. “Makanya di luar Jawa dan Bali dianggap kurang menarik. Kalau bicara masalah pementasan, saya berani adu tampil dengan kebudayaan lain.”

Muncul banyak harapan dari pengunjung kegiatan ini, pemerintah bisa membantu menerjemahkan dan menerbitkan karya sastra agung seperti I La Galigo, karena sejauh ini, naskah tersebut sangat sulit didapatkan oleh masyarakat.

(Anggi Septianto/AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY