Remy Sylado: Banyak Sastrawan Bikin Kusut Pikiran

954
0
SHARE

Sastrawan dan dramawan Remy Sylado melontarkan kritik pedas kepada para penulis dan seniman, terutama penulis Indonesia. Kritik itu dilontarkan di depan hadirin pada pesta ulang tahunnya yang ke-69 dan peluncuran novel terbarunya, “Perempuan Bernama Arjuna 2: Sinologi dalam Fiksi”, di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, 12 Juli 2014 lalu.

Menanggapi pertanyaan salah seorang hadirin tentang hakikat seni dan sastra, Remy memberikan uraian proses kreatif dan tujuan hidupnya menjadi seorang penulis. Menurut Remy, hakikat seni, dalam hal ini bersastra, penulis harus mampu memberikan penghiburan dan pengharapan. “Satrawan-sastrawan Indonesia, terutama yang tua-tua keladi itu cuma besar nama tapi kecil karya. Namanya besar sebagai sastrawan, tapi kere publikasi naskah. Itu karena salah pikir. Membuat karya seni tanpa mengenal hakikat kesenian, mengakibatkan tidak terwujudnya karya yang menghibur dan memberikan harapan, tapi justru bikin kusut pikiran,” katanya lepas disambut riuh tawa ger-geran yang hadir.

Terkait dengan proses kreatif ini, Remy juga menegaskan bahwa seorang penulis adalah pewarta, dan itu membawa misi kenabian. “Saya menulis tentang prinsip hidup penulis dan pesastra dalam buku ‘123 Ayat Tentang Seni’, yang di situ saya menggali nilai sejarah bahwa ternyata penulis-penulis dengan karya besar di sepanjang sejarahnya adalah membawa misi kenabian. Karena itulah seorang penulis mesti melek pengetahuan yang luas dan mengerti apa yang harus diperjuangkan dalam pikirannya.”

remy 2

Remy juga mengisahkan pengalaman dalam urusan kreativitas seni. Ia ceritakan bahwa pada era 1970-an ada banyak seniman yang ketakutan kalau karya sastra menjadi hiburan. “Orang kok takut seni dianggap hiburan. Jadi seni untuk apa? Maunya itu lho, pura-pura serius, dianggap ilmiah, dianggap filsafat tapi enggak masuk. Kecenderungan di Indonesia itu lucu, hal yang seharusnya mudah dibikin sulit, seni tidak menjadi penghiburan tapi justru mengkusutkan pikiran,” paparnya.

Karena alasan tersebut, Remy kala itu membuat seni jenis lain untuk melawan kemapanan dengan puisi dan teater mbeling. Menurutnya, “Mbeling itu kalau dalam bahasa Jawa nakal tapi sembodo. Ini saya berbeda dengan sahabat W.S. Rendra yang mendeklarasikan seni urakan. Rendra dulu saya kritik bahwa urakan itu dalam bahasa Jawa kurang bagus. Kalau mbeling itu nakal, tapi sembodo (sebanding), artinya nakal yang kreatif. Kalau urakan itu ya cuma sebatas nakal,” jelasnya.

Dan sekarang, di usianya yang ke-69, sang Maestro ini membuat karya kreatif dalam bentuk novel bersambung. Perempuan Bernama Arjuna 1 berisi kreativitas penulisan Remy Sylado yang ingin menyampaikan gagasan filsafat dalam bentuk fiksi, kemudian dilanjut Perempuan Bernama Arjuna 2 yang mengambil tema Sinologi dalam Fiksi.

“Ini sekadar cara. Kalau saya menulis filsafat dan sejarah Cina dalam pakem buku ilmiah, saya rasa sulit diterima masyarakat saat ini. Saya coba dengan fiksi. Barangkali lebih masuk.”

(Pungkit Wijaya/Kontributor AlineaTV)
Foto: Romyan Fauzan

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here