Maya Lestari GF: Menulis adalah Jiwa Saya

1128
0
SHARE

Menurut kamu, menulis itu apa?
Menulis adalah jiwa saya. Inilah satu-satunya hal yang tak bisa saya lupakan dalam hidup saya. Saya bisa menjadi apa saja, tapi saya takkan bisa meninggalkan dunia menulis. Refreshing saya ada dalam dunia ini. Bila saya merasa sumpek, saya akan menulis dan rasa sumpek itu akan hilang. Saya kerap membayangkan, bila suatu saat tidak boleh menulis lagi apa kira-kira yang akan terjadi. Saya kira saya akan mati perlahan-lahan. Jiwa saya akan seperti daun yang dimakan ulat. Tidak lagi berseri. Memisahkan dunia menulis dari diri saya, seperti memisahkan kulit dari setiap inci daging di tubuh saya.

Kamu penggagas festival sastra online. Bisa ceritakan tentang hal tersebut?
Gagasan ini muncul setelah saya menyadari bahwa dunia maya sebenarnya adalah sebuah dunia lain dimana orang-orang bisa pindah dan bermukim di situ. Yang pindah dan mukim tentu gagasan ya. Di dunia ini kita bisa membangun apapun yang kita bangun di dunia nyata seperti pasar, sekolah, café-café, tempat kongkow-kongkow, dll. Terpikir oleh saya, mengapa saya tidak menyelenggarakan sebuah festival sastra di situ? Bukankah festival sejatinya adalah pertemuan gagasan-gagasan? Keuntungan festival online banyak. Irit biaya, promo bisa ke seluruh penjuru dunia, pengunjung bisa datang dari berbagai tempat, bisa menghadirkan narasumber yang berasal dari manapun. Sebenarnya saya ingin membuat festival di situs-situs yang memberikan fasilitas konferensi virtual, tapi ternyata biayanya mahal dan yang ikut harus jadi anggota di situs tersebut. Ini sulit. Akhirnya saya memutuskan menyelenggarakannya di Grup Kobimo. Saya adalah salah satu koordinator kelas di situ. Kelas yang saya pegang adalah cerita anak dan belia. Kobimo sebenarnya sebuah sekolah menulis online yang setiap hari menyelenggarakan kelas-kelas belajar. Banyak penulis beken yang sudah tampil di sini. Gagasan festival sasta ini kemudian saya lempar ke para koordinator dan direspon positif. Alhamdulillah kami mendapat dukungan sponsorship dari Penerbit Diva dan Penerbit Wahyu. Promo awal kami disambut antusias puluhan ribu anggota. Ini membuat kami percaya diri menyelenggarakannya. Festival ini diselenggarakan pada tanggal 5-7 Juni lalu. Alhamdulillah sukses menghadirkan penulis-penulis muda peraih penghargaan di Indonesia. Di antaranya Zelfeni Wimra, Yetti A.Ka dan Deddy Arsya.

Biasanya, kamu menulis tentang apa? Kenapa?
Saya menulis tentang apa saja. Bisa fiksi atau non fiksi. Kalau nulis novel, topiknya bisa psikologi remaja atau silat. Kalau nulis non fiksi, topiknya bisa tentang politik, pendidikan atau sains. Saya punya dua blog yang masing-masingnya membahas topik berbeda. Blog pertama melulu tentang sains dan kedua tentang dunia tulis menulis. Saya suka sains. Mungkin suatu saat saya akan menulis novel bertema sains.

Awal kecintaan menulis kamu datang dari mana?
Saya kira dari orangtua saya. Waktu saya masih kecil ayah saya suka sekali mendongeng untuk saya. Beliau juga selalu membelikan bacaan untuk saya. Keluarga ayah saya juga sangat berperan dalam membentuk kecintaan saya pada dunia menulis. Setiap kali bertandang ke rumah, kakak-kakak ayah saya selalu membawakan buku-buku, entah itu buku fiksi maupun non fiksi. Dari berbagai bacaan itu saya belajar untuk menulis.

Apa yang paling menantang dari menulis?
Kesabaran. Yang paling sulit dari sebuah novel adalah menyelesaikannya.

Bagaimana kamu membagi waktu menulis dengan kegiatan di luar menulis?
Pertama yang harus saya selesaikan setiap hari adalah pekerjaan-pekerjaan yang bila itu tidak dilakukan akan membuat saya bête sepanjang hari. Misalnya, memasak atau membersihkan rumah. Setelah semuanya selesai, saya baru siap menghadapi tulisan saya. Bila tidak, tumpukan pekerjaan itu akan seperti nyamuk di telinga, mendengung terus sepanjang waktu. Ini bikin tulisan jadi jelek. Saya bisa menulis pagi atau malam, selama pekerjaan rumah sudah beres. Tidak ada waktu khusus.

Siapa penulis dunia yang ingin kamu temui? Kenapa?
Gabriel Garcia Marquez, sayang beliau sudah tidak ada lagi. Saya sangat terkesan dengan cerita-ceritanya. Simpel tapi membekas. Marquez selalu mengisahkan sesuatu dari sudut pandang yang tidak diduga. Ide-idenya liar, eksekusinya sempurna. Salah satu ceritanya yang paling saya suka adalah Aku Hanya Datang untuk Memakai Telepon. Menurut saya cerpen itu keren sekali.
Saya juga suka Neil Gaiman. Ia bisa membuat cerita yang sangat penuh.

Novel kamu yang memakan waktu lama untuk menyelesaikannya? Kenapa?
Novel Kupu-kupu Fort de Kock. Saya memulainya tahun 2009 dan selesai 2012. Bagian yang paling lama ada pada riset. Novel itu adalah novel silat minang. Jadi saya banyak menghabiskan waktu mempelajari gerakan-gerakan silat minang dari guru besar sebuah aliran silat minang maupun dari pesilat-pesilat lain. Saya juga banyak menonton film-film bela diri. Sebelum memulai novel ini, saya membaca sekitar 20-an buku filosofi adat dan silat minang. Saya juga banyak survey wilayah karena lokasi ceritanya tersebar di berbagai daerah Sumatra Barat. Setiap menemukan lokasi cerita yang cocok, saya akan memotret tempat tersebut dari berbagai sudut. Jadi, ketika saya menuliskan sebuah adegan pertarungan di tempat itu, saya tinggal melihat foto-fotonya untuk mendapatkan detil lokasi dan suasana. Hal lain yang juga menyita waktu adalah membuat bangun tubuh cerita. Bentuk penulisan novel Kupu-kupu Fort de Kock tidak sama dengan novel-novel silat umumnya. Novel ini merupakan rangkaian fragmen yang makin menyatu hingga akhir cerita. Saya kira, saya membaca lebih dari tiga ratusan buku untuk mendapatkan ‘feel’ suasana, latar dan rasa bahasa Kupu-kupu Fort de Kock. Ini yang membuatnya jadi lama. Tapi dari Kupu-kupu Fort de Kock pula saya belajar sabar menulis. Kesabaran itu penting.

Perbedaan kamu dengan penulis lain?
Apa, ya? Hahaha… setiap penulis itu unik, karena mereka membangun dunia mereka sendiri dengan cara yang sama-sama memesona. Saya mengagumi penulis-penulis yang sudah punya ‘sidik jari’ sendiri, sehingga kalau kita membaca karyanya, kita tahu bahwa itu karya dia, meskipun tak ada namanya di situ. Ada beberapa penulis di Indonesia ini yang saya kagumi karena punya sidik jari yang kuat. Misalnya Seno Gumira Ajidarma, Goenawan Mohammad, Damhuri Muhammad, Kuntowijoyo, Emha Ainun Nadjib. Bisa dikatakan, saya hampir selalu tahu yang mana tulisan mereka, meski nama mereka tidak ditulis di situ. Saya ingin menjadi seperti itu. Menjadi penulis yang punya sidik jari. Tentu untuk mendapatkannya tidak mudah. Mesti banyak membaca, membuka wawasan, berendah hati untuk belajar, terus menulis, dan lain-lain. Hal-hal ini akan membuat seorang penulis menjadi matang. Jika ia matang, ia akan mengeluarkan wangi intelektualnya, sehingga pembaca bisa mengendusnya. Ini mirip buah. Kita baru bisa mengendus wangi buah yang matang, bukan buah yang masih mentah, apalagi baru sekadar putik.

Jika kamu bukan penulis. Akan menjadi apa kamu?
Haha…tidak bisa saya bayangkan. Menulis adalah jiwa saya. Tapi, saya kira saya bisa menjadi penggiat seni kriya. Nanti, saya akan menulis buku tentang dunia kriya, industri kreatif, buku-buku praktek seni kriya dan yang semacamnya. Ujung-ujungnya menulis juga. Hahaha…

(Anggi Septianto/AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here