Konsep Cantik dalam “Seeing Beauty, Sensing Race in Transnational Indonesia”

1533
0
SHARE

Cover Buku Seeing Beauty Sensing RaceKonsep kecantikan dibedah dengan tajam dalam buku Seeing Beauty, Sensing Race in Transnational Indonesia karya Luh Ayu Saraswati, Ph.D. Bedah buku dilakukan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia pada hari Jumat, 15 Agustus 2014 dengan narasumber penulis sendiri dan Dr. LG. Saraswati Putri yang akrab dipanggil Saras Dewi selaku dosen di Fakultas Ilmu Budaya UI.

Secara gender, bahasan dalam buku ini lebih menyinggung kepada kaum perempuan karena buku ini membahas konsep tentang kecantikan, dalam suatu perspektif global, “mengapa warna kulit putih lebih diidamkan dibandingkan dengan warna kulit yang lebih gelap?” Dan dapatkah kita lebih meng-ilmiah-kan konsep “kecantikan” ini dibanding menganggap sebagai sebuah perasaan belaka? Pendekatan pertama untuk memahami kecantikan yang digunakan Luh Ayu Saraswati yaitu dengan teori affect atau perasaan atau emosi. Misalkan saat kita bercermin, kita mungkin saja berkata “Kok kulit saya agak gelap?” atau “Kok, perut saya begini ya?” suatu perasaan rendah diri yang kadang muncul. Daripada membiarkan perasaan seperti ini mengkontrol kita, sebenarnya kita dapat lebih memiliki kuasa terhadap perasaan yang muncul. Kontrol inilah yang sebenarnya kita miliki namun sering dipandang sebelah mata.

Berdasarkan catatan sejarah, memiliki warna kulit putih atau terang lebih diminati di Indonesia. Buku ini menjajaki apa yang memengaruhi perubahan konsep cantik ideal orang Indonesia. Mulai dari abad pertama hingga ke-9 di India di mana bangsa Arya yang berkulit lebih terang daripada bangsa Dravida yang merupakan penduduk asli orang India, jaman penjajahan kolonial Belanda, jaman penjajahan Jepang, hingga popularitas kebudayaan Amerika, semua itu ikut memengaruhi konsep cantik ideal bagi orang Indonesia.

Luh Ayu menanyakan kepada 46 orang perempuan di berbagai kota mengenai apakah mereka memang ingin memiliki kulit putih. Sebagian besar menjawab “Tidak,” bahkan ada yang spesifik menyebutkan tidak suka kulit putih orang China atau seperti orang Eropa karena ada bercak kemerah-merahan. Hal inilah yang menarik, orang indonesia ingin berwarna kulit putih tapi tidak asal putih. Orang Indonesia lebih memilih kulit putih seperti warna kulit orang Jepang. Lebih jauh lagi Ayu mengungkapkan perempuan tidak menginginkan kulit putih tapi lebih ingin mendapatkan STATUS dari warna kulit putih tersebut. Kata yang paling sering keluar dari jawaban 46 orang tersebut yaitu kata “malu”, tepatnya mereka malu saat kulit mereka “hitam.”

Iklan komersil produk kecantikan juga memberikan pengaruh pada pola perasaan kita tentang kecantikan. Dalam memahami pengaruh ini, Luh Ayu mengambil contoh iklan-iklan majalah Kosmopolitan. Ternyata warna kulit putih lebih dominan secara ras warna. Hal ini yang menyebabkan munculnya kata “whitening” dalam iklan produk tapi tidak pernah ada kata “blackening.” Kata “blackening” biasanya tergantikan dengan kata “tanning” atau “bronze” Iklan juga mempengaruhi dalam cara membentuk konsep “bahagia.” Berbadan kurus berarti Anda bahagia. Berkulit putih berarti Anda bahagia.

Luh Ayu Saraswati,PH.D dan Dr. Saras Dewi
Luh Ayu Saraswati,Ph.D dan Dr. Saras Dewi

Narasumber lain yaitu Dr. Saras Dewi lebih membahas buku per bab. Menurut sejarahnya, konsep kecantikan bukanlah suatu produk kebudayaan yang banyak dipengaruhi oleh Barat. Justru gagasan tentang kecantikan tertanam dalam Epos Ramayana yang merupakan tradisi Timur. Lebih lanjut, contoh yang dipaparkan dalam buku ini yaitu iklan Bedak Dingin Extract, yang terbit tahun 1934 yang berisikan kesaksian Raden Mas Soedarsono yang menyatakan bahwa istrinya Soevijah telah berubah kulitnya dari berwarna hitam menjadi lebih terang berkat produk tersebut. Kecantikan sinonim dengan kulit putih, mereka para perempuan bangsawan dianggap cantik dan anggun karena tidak bekerja sehingga kulitnya tidak terbakar.

Terdapat hal-hal menarik dalam buku ini. Pada bab I, Saras Dewi membahas tentang “RASA” dan itu yang menarik karena banyak metode yang digunakan untuk memahami bagaimana kita melakukan pembedaan terhadap apapun, seperti nalar, kognisi, kemampuan akal budi kita. Lebih jauh Saras Dewi mengatakan bahwa ciri khas dalam buku ini adalah pengaruh ke-Indonesia-an si penulis karena menggunakan persoalan “RASA,” yaitu tentang bagaimana kita mengalami sesuatu dan menggunakan perasaan dan determinasi dari subjek itu sendiri.

Pada bab II, Saras Dewi menyampaikan bahwa ternyata “whiteness” itu bermacam-macam wujudnya (Cantik orang Eropa, Jepang, China, dan cantik versi Indonesia) dan yang menjadi acuan dalam menentukan apakah itu “menyenangkan atau tidak” yaitu affect atau emosi itu tadi.

Pada bab III dibahas bagaimana perempuan di Indonesia memersepsikan tentang “putih” itu apa dan apa maknanya berdasarkan konsep kecantikan. Kita mencari tahu secara lebih dalam apa yang menyebabkan kita berpikir bahwa putih itu suatu yang kita rujuk untuk menjadi cantik ideal. Pada bab IV ada kritik dan analisa yang tajam tentang bagaimana dunia industri periklanan dan majalah perempuan yang ikut mempengaruhi pandangan kita tentang konsep kecantikan. Iklan Kecantikan (dok. alineatv.com) Gambar di atas bagaimana menegaskan bahwa iklan membentuk konsep “kebahagiaan” yang diwakili oleh warna kulit putih.

Pada bab V dikemukakan mengapa perempuan ingin warna kulitnya lebih putih itu karena ada perasaan malu. Mereka malu saat kulit mereka terlihat gelap, dan merasa tidak tampil maksimal. Sarasdewi menegaskan kembali bahwa kecantikan adalah “kapital,” dapat menjadi perangkat “diskriminatoris,” dan dapat ditransformasikan menjadi berbagai tipe kapital, khususnya kapital ekonomi/uang. Misalkan: kecantikan dapat membantu seorang perempuan untuk berada pada status kelas yang tinggi melalui pernikahan dengan seorang pria yang kaya.

Shobron Jamil/AlineaTV

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here