Belajar dari Santiago di Gurun dan Laut

695
0
SHARE

Mari mengandaikan, Santiago dalam Sang Alkemis karya Paulo Coelho dan Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway adalah orang yang sama. Anggap saja begini: sebelum menjadi nelayan tua di Kuba, Santiago muda merupakan gembala domba di Spanyol yang berkelana ke Mesir. Selain kesamaan nama, si gembala muda dan nelayan tua memiliki tekad yang teramat kuat untuk meraih impian.

Bagaimana kehidupan Santiago muda setelah menemukan harta karunnya? Apakah hidupnya berhenti di situ? Saya lebih suka menganggap dia terus mengejar Legenda Pribadinya yang lain. Sampai pada suatu ketika, entah bagaimana, dia menjadi nelayan tua yang pantang menyerah.

Pada masa-masa awal hidup mereka, orang-orang sudah tahu apa alasan hidup mereka. Begitulah Santiago muda mengingat nasihat orang tua yang membantu dia meneguhkan tekadnya mengarungi gurun demi menggapai mimpinya.

Santiago tua yang menjadi nelayan mengulangi nasihat itu ketika dia memutuskan untuk pergi lebih jauh ke laut lepas dan meyakini di sana ada ikan besar. “Ikan besarku pasti ada di suatu tempat,” katanya. “Itulah alasanku dilahirkan.

Orang sabar disayang Tuhan, kata pepatah. Santiago muda paham benar soal itu dan menurutnya, para gembala tahu banyak tentang kesabaran. Saya pikir, nelayan pun begitu karena jika tanpa kesabaran, sudah pasti Santiago tua takkan bertahan selama hampir tiga bulan terus memancing meskipun tanpa hasil. Bukankah harapan harus terus dijaga walaupun telah retak? Barangkali kesabaran bisa menjadi perekat bagi asa yang terancam pecah itu.

TheOldManandtheSea
(dok. ms.wikipedia.org)

Adakah guru dan penguji kesabaran yang lebih baik sekaligus kejam dibandingkan gurun dan laut?

Laut itu baik hati dan begitu indah. Namun, laut juga dapat begitu kejam dan keganasan itu biasanya datang tiba-tiba,” renung Santiago tua.

Gurun menguji semua orang. Ia menantang setiap langkah dan membunuh mereka yang lengah.” Santiago muda mendengar nasihat itu dari sang Alkemis.

Manakah yang lebih penting untuk meraih cita-cita, keberanian atau keberuntungan? Keberanian adalah kualitas terpenting untuk mewujudkan impian, kata sang Alkemis. Namun, apa yang terjadi kepada pemberani yang tidak beruntung?

Sesungguhnya, keberuntungan bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan atau dirisaukan. Menurut Santiago tua yang menjadi nelayan, keberuntungan sudah dimiliki sejak kita lahir. Saya sih sering mendengar dan membaca bahwa Tuhan bersama dan memihak para pemberani. Jadi, jika Tuhan memihak nelayan dan gembala yang berani dan menyayangi mereka karena kesabaran mereka, masih pentingkah keberuntungan?

Keberuntungan sebenarnya sederhana. “Tapi, manusia mulai menolak hal-hal yang sederhana,” kata sang Alkemis kepada Santiago muda. Orang-orang lebih menyukai yang mudah ketimbang yang sederhana.

Keberuntungan bisa datang dalam banyak bentuk dan siapa yang dapat mengenalinya?” ujar Santiago, si nelayan tua, di tengah-tengah pertarungan panjang dengan ikan marlin yang lebih besar dibandingkan perahunya.

Belajarlah untuk mengenali pertanda dan ikuti mereka,” kata seorang tua kepada Santiago muda di awal pencarian harta karunnya. Mungkin, inilah jawaban untuk pertanyaan si nelayan tua tentang cara mengenali keberuntungan.

Pertanda adalah bahasa tanpa kata yang dapat dipahami oleh manusia, gurun, gunung, laut, binatang, tumbuhan, angin, bintang, bulan, matahari, bumi, dan langit. Sang Alkemis menyebutnya Bahasa Buana.

Tuhan mengungkapkan rahasia-rahasianya dengan mudah kepada segenap ciptaan-Nya,” kata sang Alkemis.

Baik sebagai gembala muda maupun nelayan tua, Santiago merajut pertanda demi pertanda untuk mendapatkan harta karun dan ikan marlin besar. Yang menarik, pertanda yang disampaikan oleh burung sama-sama menjadi petunjuk penting yang menentukan bagi Santiago muda dan tua. Di gurun Santiago muda berhasil menghindarkan sebuah kafilah dari serbuan tiba-tiba satu suku yang terlibat perang. Itu karena dia membaca pertanda dari dua elang yang bertarung di langit gurun. Sebagai imbalannya, dia mendapatkan uang emas dan perbekalan yang membantunya untuk sampai di piramida.

Di laut Santiago tua memperhatikan tingkah burung untuk mengetahui lokasi ikan.

Dia telah menemukan sesuatu,” ucap nelayan tua itu ketika melihat seekor burung terbang berputar, menukik turun, dan terbang berputar kembali.

Sang Alkemis (dok. gramediapustakautama)
(dok. gramediapustakautama.com)

Dalam pencarian harta karunnya, Santiago muda berhasil membuktikan kata-kata sang Alkemis bahwa jika kita menginginkan sesuatu, seluruh semesta akan membantu kita mendapatkannya. Namun, sebagai nelayan tua, Santiago juga belajar bahwa semesta bisa menghancurkan sesuatu yang dia inginkan dan telah diperolehnya. Dia mendapati ikan marlin besar yang telah dipancingnya selama berhari-hari habis separuh karena dimakan segerombolan hiu dalam perjalanan kembali ke darat.

Lelaki Tua dan Laut diterbitkan dalam bahasa Inggris sebagai The Old Man and the Sea di Amerika pada 1952, sedangkan Sang Alkemis yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Portugis di Brazil pada 1988 dengan judul O’ Alquimista. Dalam kedua karya ini, Ernest Hemingway bercerita dengan gaya tutur lebih jenaka, sedangkan Paulo Coelho cenderung serius.

Bacalah Sang Alkemis maka para petualang yang banyak tampil di televisi dengan ransel mengembung tapi kosong akan terasa konyol dan dangkal ketimbang Santiago muda. Bacalah Lelaki Tua dan Laut maka para mancing mania yang berperalatan mahal dan berpakaian bagus di televisi akan tampak cupu dan tidak apa-apanya dibandingkan dengan Santiago tua.

(Moh. Sidik Nugraha/kontributor AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here