Sastra Indonesia Kontemporer, Satu Dasawarsa

452
0
SHARE

Kritik sastra itu untuk apa? Apakah dia merenovasi pembaca? Apakah dia membongkar pembaca? Apakah dia merajut kembali, menyatukan pembaca? Apakah dia membuat pembaca merasa punya tempat untuk pulang? Saya termasuk di antara mereka yang ragu apakah kritik sastra di Indonesia ada? Menurut saya, kritik sastra itu traumatik oleh sejarahnya. Sejarah kita seperti sebuah genangan yang di dalamnya penuh dengan kaca. Kalau kita masuk, kita terluka. Dan kritik sastra dari 106 yang saya baca itu (jumlah esai yang ikut sayembara kritik), saya harus jujur mengatakan, saya tidak bahagia.

Kalau misalnya kritik sastra itu sebuah pengayaan teks, paling sederhana kita seperti melakukan touring lewat kritik tapi saya merasa lebih seperti membaca karya sastra daripada kritik sastra.Kalau saya memasuki sebuah karya sastra, saya tidak hanya mendapatkan cerita, tapi cerita itu masuk ke dalam tubuh saya, dia membangun semacam kenangan, lalu kenangan itu akan berbicara kembali pada momen-momen tertentu. Menurut saya kritik sastra seharusya memperkuat itu. Saya ambil contoh dua fenomena dari 106 karya itu. Fenomena pertama: kritik sastra lebih banyak membicarakan prosa dan prosa yang dibicarakan lebih banyak novel-novel yang diterbitkan penerbit besar, seperti Gramedia. Jadi, seakan-akan karya sastra Indonesia semata-mata hanya yang terbit dari Gramedia, tidak ada dari penerbit lain. Bahkan juga, pemenang-pemenang novel–pemenang-pemenang prosa yang dibikin oleh lembaga-lembaga tertentu itu–juga banyak yang keluar dari penerbit besar. Pembaca sudah terkooptasi oleh dominasi pasar seperti itu. Dari situ saja kita tidak mendapatkan sesuatu. Seakan-akan seorang kritikus tidak bekerja keras untuk mengkurasi karya yang mereka kritik. Karya yang mereka ambil adalah karya dari penerbit besar yang banyak tersedia di toko-buku. Tidak ada berusaha menyelusup ke mana-mana mencari karya, entah diterbitkan secara online, misalnya. Tidak ada usaha seperti itu. Fenomena kedua: ada semacam latahan bahwa pengarang sudah mati, dan mereka membahas seakan-akan ingin menghancurkan pengarang dengan pernyataan bahwa pengarang sudah mati. Tapi kemudian ujung-ujungnya, di akhir esainya,dia merujuk kembali ke pengarang betul-betul sebagai subjek. Meminta maaf kepada pengarang yang menjadi subjek, mungkin tersinggung dengan pendapat ini. Padahal sebelumnya dia sudah menyebut bahwa pengarang sudah mati.

Mungkin teman-teman sekarang terutama yang muda tidak tahu, ada suasana yang perlu saya sampaikan di sini. Tahun’70-an hingga ’80-an, setiap akhir tahun Dewan Kesenian Jakarta membuat apa yang mereka sebut pesta seni dan dalam pesta itu ada lomba-lomba yang diumumkan. Ada komponis muda, ada film pendek, dan seterusnya. Ketika pengumuman untuk karya sastra, seluruh sastrawan datang. Itu betul-betul sebuah pesta karya. Orang betul-betul menunggu penawaran juri, karena juri selalu memilih karya-karya yang di luar perkiraan pembaca. Artinya, tidak semata-mata karya sastra menciptakan pembaca, tapi lembaga juri juga menciptakan kembali pembaca. Lembaga itu, pada waktu itu sangat terhormat. Juri pasang badan untuk argumentasi. Tapi, para pemenang pasang badan juga. Mereka bisa menolak hadiah, seperti gaya Sartre menolak Nobel. Pada waktu itu, pesta terjadi. Sekarang semuanya seperti sembunyi-sembunyi, penilaian juri juga sembunyi di balik mikrofon.

Saya tidak tahu, mungkin harus ada satu cara bagaimana kritik sastra diperlukan.Saya ingat di pernyataan pengarang sudah mati. Sekarang, apa artinya pernyataan itu? Pengarang sudah mati. Pengarang ditelanjangi sedemikian rupa seakan-akan dia goblok. Apakah kegoblokan pengarang itu adalah kegoblokan seorang aku? Apakah betul seorang aku itu adalah seorang aku yang sendirian? Bukan hasil konstruksi dari sekian banyak hal? Sekarang kita lihat, apa sih aku itu sekarang ini? Kita sudah tidak punya lagi rahasia. Keuangan kita sudah dikontrol–lewat ATM, lewat bank kredit, lewat kontrol keuangan internasional. Rahasia-rahasia dikontrol lewat internet, lewat macam-macam hal seperti itu. Di zaman teknologi global sekarang ini, apa sih aku itu?

Saya kira itu yang ingin saya sampaikan, bahwa saya tidak berbahagia dengan 106 esai itu dan mungkin Dewan Kesenian Jakarta harus merebut posisinya dulu yang sangat kuat. Dulu dia diserang sedemikian rupa seakan-akan menjadi Jakarta sentris. Tapi sekarang, sastra, teater, seni rupa di Jakarta ketinggalan oleh Jakarta itu sendiri.

AFRIZAL MALNA
Disampaikan pada Malam Anugerah Kritik Sastra DKJ, 17 Januari 2014. Dikutip dari katabergerak.com

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY