Bosscha di Mata Sahabatnya

1275
0
SHARE

Nama Bosscha tidaklah asing bagi para pengamat dan pecinta dunia astronomi di Indonesia karena merupakan nama observatorium tertua di Indonesia sekaligus yang terbesar di Asia Tenggara yaitu Observatorium Bosscha di Lembang – Bandung. Bagi masyarakat Bandung nama Bosscha lebih familiar lagi karena namanya diabadikan menjadi salah satu nama ruas jalan di Bandung.

Nama asli pria ini adalah Karel Albert Rudolf Bosscha. Melalui buku Lebih Dekat dengan Karel Albert Rudolf Bosscha pembaca diajak mengenal lebih dekat lagi siapa Bossca, apa yang telah dilakukannya dan sumbangsihnya bagi Indonesia. Kini 85 tahun setelah kematiannya berdirilah sebuah komunitas yang menamakan dirinya “Sahabat Bosscha” yang diketuai oleh Eka Budianta (budayawan/sastrawan/akitivis lingkungan) yang bertekad untuk merawat, memelihara, dan meneruskan cita-cita Bossca.

Buku ini berisi kumpulan tulisan dari para sahabat Bosscha yang terdiri berbagai profesi antara lain mahasiswa, astronom, wartawan, pecinta sejarah dan budaya, pemerhati kepariwisataan, budayawan, dll. Masing-masing menulis tentang Bosscha dari sudut pandang dan profesi mereka masing-masing sehingga melalui buku ini kita bisa melihat sosok dan kiprah Bosscha secara utuh

Buku "Lebih Dekat dengan Karel Albert Rudolf Bosscha", BPPI 2014
Buku “Lebih Dekat dengan Karel Albert Rudolf Bosscha”, BPPI 2014
Lima belas tulisan dalam buku ini bisa dibagi menjadi dua bagian besar dimana di enam tulisan pertama para sahabat Bossca menulis kehidupan serta sosok Bosscha beserta kiprahnya lengkap dengan beberapa peninggalannya yang masih ada hingga kini. Sedangkan tulisan-tulisan berikutnya berisi tentang komunitas Sahabat Bosscha yang terbentuk 17 Agustus 2013, bertepatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI dan HUT Observatorium Bosscha yang ke 90.

Di tulisan-tulisan yang membahas Bosscha kita akan diajak menelusuri kehidupan Bosscha yang lahir pada 15 Mei 1865 dari keluarga ilmuwan terpandang di Belanda. Sejak kecil Bosscha dikenal memiliki kemauan yang kuat, namun sayangnya ia gagal meraih gelar sarjana di Politeknik Belanda karena berselisih pendapat dengan dosen pembimbingnya saat menyelesaikan tugas akhir. Dalam kekecewaannya Bosscha berlayar ke Hindia Belanda pada tahun 1887, saat itu usianya baru 22 tahun.

Di Hindia Belanda awalnya Bosscha membantu pamannya di perkebunan Sinagar Sukabumi, mengikuti kakaknya sebagai geolog ke Kalimantan, hingga akhirnya menetap dan mengelola perkebunan teh di Malabar. Perkebunan teh inilah yang membuat nama Bossca mulai dikenal. Dengan bibit teh dari daerah Assam, India yang ternyata sangat cocok ditanam di Malabar dan digunakannya mesin-mesin pengolahan teh yang canggih dengan 3000 karyawan pribumi dan 12 staff Eropa maka hasil dari pekebunan tehnya menjadi salah satu yang terbesar di dunia saat itu (1910). Keberhasilannya ini menempatkan Bosscha sebagai salah seorang pria terkaya di Bandung setelah Perang Dunia Pertama dan menjadi salah satu Raja Perkebunan Teh di Priangan (Thee Koning)

Kesuksesan Bossca dalam mengelola perkebunan tehnya tidak hanya ia gunakan untuk kepentingan pribadinya. Ia gunakan sebagian kekayaannya untuk ikut berperan dalam mendirikan sejumlah sarana pendidikan, kesehatan, ilmu pengetahuan, dll di Bandung antara lain sekolah tuna rungu, sekolah bagi penderita buta, gedung Sositet Concordia (Gd.Merdeka-Bandung), Sekolah Teknik pertama di Hindia yang sekarang dikenal dengan nama ITB (Institut Teknologi Bandung) Observatorium Bosscha, dll

Bisa dikatakan Observatorium Bosscha merupakan sumbangan Bosscha yang paling besar dan monumental. Obesvatorium ini didirikan atas inisiatifnya pada tahun 1923 dimana Bosscha menjadi penyandang dana utamanya dan membeli sebuah teropong tercanggih di masa itu Sebagai bentuk penghargaan, nama Bosscha kemudian dijadikan sebagai nama peneropong bintang yang dibangunnya, Bossca Sterrenwacht.

Dengan segala kiprahnya di berbagai bidang itu, tak heran ketika Bosscha meninggal di usianya yang ke 63, ada ribuan orang termasuk Bupati Bandung Wiranatakusumah V mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya di kompleks perkebunan tehnya di Gn. Malabar. Konon panjang iring-iringan pengantar jenazahnya mencapai 2 km!. Kepergiannya ini tak lama setelah ia mendapatkan penghargaan sebagai Warga Utama Kota Bandung dari pemerintah kota saat itu.

Secara keseluruhan buku kecil tentang Bosscha ini sangat menarik, yang mungkin agak disayangkan adalah terjadinya pengulangan kisah-kisah kehidupan Bosscha di beberapa tulisan yang merupakan masalah klasik dari sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan.

Buku ini juga tentunya sangat bermanfaat sebagai publikasi yang baik bagi komunitas Sahabat Bosscha karena visi dan misi Sahabat Bosscha akan tersebar luas sehingga diharapkan semakin banyak orang tertarik bergabung dengan Sahabat Bosscha dalam upaya melestarikan Observatorium Bossca sebagai salah satu cagar budaya sekaligus peneropong bintang yang harus dilindungi dan dikembangkan bagi dunia astronomi Indonesia dari generasi ke generasi.

DETIL BUKU
Judul      : Lebih Dekat dengan Karel Albert Rudolf Bosscha
Editor     : Ridwan Hutagalung
Penerbit  : Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI)
Cetakan  : II, Februari 2014
Tebal      : 152 hlm

(Hernadi Tanzil/Kontributor AlineaTV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here