Proses Kreatif Agatha Christie

701
0
SHARE

Bulan Januari adalah bulan wafatnya penulis fiksi detektif legendaris, Agatha Christie. Ia meninggal pada 12 Januari 1976.

Agatha Mary Clarissa Miller lahir pada 15 September 1890 di Torquay, Devon, South West England dalam keluarga kelas menengah. Apa yang membuatnya dibesarkan dengan tidak biasa, bahkan untuk kondisi saat ini, adalah karena dia tidak menempuh pendidikan formal hingga mencapai usia remaja. Ibunya, Clara, adalah seorang pendongeng yang baik, tidak ingin Agatha belajar membaca hingga usianya delapan tahun.

Dari mana kreativitasnya berasal? Dia menyerap banyak cerita anak-anak dari waktu ke waktu Edith Nesbit (The Story of the Treasure Seekers, The Railway Children) dan Louisa M Alcott (Little Women) juga membaca puisi dan cerita thriller dari Amerika. Agatha menciptakan teman-teman khayalan, bermain dengan hewan-hewannya, mengikuti kelas tari dan mulai menulis puisi ketika masih anak-anak.

Pada usia delapan belas tahun, dia menghibur dirinya dengan menulis cerita pendek. Beberapa diantaranya diterbitkan pada tahun 1930.

Proses Agatha Christie Menulis
Dia lebih banyak menghabiskan waktunya bermain dengan teman-teman khayalannya, dan sesekali berlari-lari di halaman rumahnya yang luas. Di masa kanak-kanak itu, Agatha memupuk imajinasinya yang sangat luar biasa. Ia melawan keinginan ibunya, dia belajar membaca sendiri karena tidak mendapatkan pendidikan formal hingga usianya menginjak lima belas atau enam belas tahun.

Agatha Christie selalu mengatakan dirinya tidak pernah berambisi untuk menjadi seorang penulis, meskipun pada usia sebelas tahun puisi yang ditulisnya pernah dimuat di sebuah surat kabar lokal di London. Di akhir usia remajanya, ia memiliki beberapa puisi yang diterbitkan dalam The Poetry Review dan menulis sejumlah cerita pendek. Karirnya sebagai penulis cerita detektif yang terkenal, dikarenakan pada waktu itu ditantang oleh saudara perempuannya untuk menulis cerita detektif.

Agatha Christie menulis tentang dunia yang diketahui dan dilihatnya, menggambarkan sosok pria militer, bangsawan dan wanita, perawan tua, janda dan dokter dari lingkaran keluarga teman dan kenalannya. Dia adalah seorang pengamat alami, deskripsinya tentang politik, persaingan lokal, dan kecemburuan keluarga seringkali sangat akurat. Mathew Prichard, menggambarkan dirinya sebagai “orang yang lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, yang melihat lebih dari apa yang pernah dia lihat.”

Peristiwa sehari-hari dan pengamatan yang sederhana bisa menjadi pemicu untuk melahirkan ide untuk plot baru. Buku keduanya The Secret Adversary berasal dari sebuah percakapan yang ia dengar di sebuah kedai teh: “dua orang berbicara di sebuah meja tepat di dekat saya, mereka membahas seseorang bernama Jane Fish… saya pikir, itu bisa menjadi awal yang baik untuk memulai sebuah cerita – nama yang didengar di sebuah kedai teh – nama yang tidak biasa, jadi siapapun yang mendengarnya akan mengingatnya. Sebuah nama seperti Jane Fish, atau mungkin Jane Finn akan terdengar lebih baik.”

Lalu, bagaimana ide-ide itu bisa berubah menjadi sebuah novel? Agatha membuat catatan sebanyak mungkin di puluhan notebook-nya, dia mencatat ide-ide aneh dan plot-plot potensial dan karakter ketika semua itu mendatangi kepalanya “saya biasanya memiliki sekitar setengah lusin notebook dan menggunakannya untuk menulis ide-ide yang mendatangi saya, tentang berbagai macam racun atau obat, atau tentang penipuan licik yang saya baca di surat kabar.”
Agatha menghabiskan sebagian besar waktunya dengan buku kerjanya untuk menulis semua rincian plot dan petunjuk di kepalanya atau di notebook-nya sebelum dia benar-benar mulai menulis. Anaknya, Anthony Hick pernah berkata: “Anda tidak pernah melihatnya menulis. Dia tak pernah mengalami kesulitan menulis seperti yang dialami penulis lain.

Seperti yang Mathew Prichard jelaskan, “Dia mendiktekan cerita-ceritanya ke sebuah mesin yang disebut Dictaphone dan kemudian seorang sekretaris mengetiknya menjadi sebuah naskah, yang kemudian akan diperbaiki oleh nenek saya. Saya berpikir bahwa, sebelum perang terjadi, sebelum Dictaphone diciptakan, dia mungkin menulis cerita dengan tulisan tangan dan meminta seseorang untuk mengetikkannnya. Dia tidak mengerti mesin, dia menulis dengan cara yang sangat alami dan sangat cepat.”
(Anggi Septianto/Redaksi AlineaTV)

Sumber: www.agathachristie.com

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here