Sayap Si Merak yang Selalu Mengepak

493
0
SHARE

Sampai kapan pun WS Rendra dan puisi-puisinya akan selalu menyala di hati kita.

Empat tahun sesudah wafatnya, karya-karya Rendra masih dibacakan, dipentaskan, didiskusikan, dan dilafalkan mulai dari para pengamen puisi di bis kota hingga ke kampus-kampus dan ruang-ruang pertunjukan budaya. Upaya Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan acara Napak Tilas Sastra W.S Rendra pun patut diapresiasi.

Acara yang diadakan di Graha Bhakti Budaya TIM 25 November 2013 ini, memang dipersembahkan untuk mengenang sepak terjang Rendra sebagai seorang penyair ternama yang terkenal dengan julukan ‘Burung Merak.’

Willibrordus Surendra Broto Rendra atau W.S Rendra adalah penyair, dramawan dan pemikir kebudayaan yang lahir di Jawa Tengah, pada 7 November 1935 dan meninggal di Depok, Jawa Barat pada 6 Agustus 2009 di usia 73 tahun.

Acara diskusi sastra tersebut menghadirkan penulis sastra bernama Seno Gumira Ajidarma dan Max Lane, Dosen Politik dan Studi Internasional di Victorian College of the Arts, University of Melbourne sebagai pembicara. Kedua pembicara memperkenalkan Rendra pada peserta diskusi dalam dua sisi yang berbeda. Seno membicarakan Rendra tentang bagaimana ia menulis kritik seni. Max Lane berbicara dari sisi politik yang terdapat dalam setiap drama-drama yang diciptakan Rendra.

PEMENTASAN MARIA ZAITUN
Sebelum pementasan naskah dimulai, acara ini diisi oleh orasi dari Remy Sylado. Ia membacakan orasinya yang diberi judul “Kawindra Wafat, Hidup Kawindra.” Dalam orasinya ini, Remy Sylado menggambarkan bahwa Rendra adalah seorang Kawindra. Dikatakan, dalam bahasa Kawi, Kawindra berarti ‘penyair besar,’ lebih jauh, Kawindra adalah ‘raja pujangga.’ Orasi Remy Sylado ditutup dengan mengatakan bahwa Rendra adalah seorang Agramanggala, yang dalam bahasa Kawi artinya, pemimpin yang paling unggul.

Diperdengarkan pula sebuah kaset rekaman pembacaan sajak Rendra di Graha Bhakti Budaya atas inisiatif Max Lane. Rekaman tersebut diambil pada tahun 1978, sehari setelah pembacaannya di Taman Ismail Marjuki, Rendra ditangkap dan dipenjara selama beberapa bulan tanpa diadili terlebih dahulu.

Pementasan naskah Maria Zaitun adalah hasil kolaborasi Amien Kamil, seniman yang telah berkeliling Asia, Eropa, dan Amerika dan pernah menerbitkan buku, juga pelukis bernama Hanafi yang karyanya telah dipamerkan baik di dalam dan luar negeri seperti di Singapura, Toronto, dan Barcelona.

Pementasan ini merupakan hasil adopsi dari karya W.S Rendra yang berjudul Nyanyian Angsa. Drama ini berkisah tentang seorang pelacur yang menderita penyakit kelamin dan diusir dari rumah bordil. Maria Zaitun tidak diterima di rumah sakit, tidak diterima di tempat-tempat ibadah dan semua orang menjauhinya.

Bait pertama dalam puisi Nyanyian Angsa

Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya:
“Sudah dua minggu kamu berbaring.
Sakitmu makin menjadi.
Kamu tak lagi hasilkan uang.
Malahan kepadaku kamu berhutang.
Ini beaya melulu.
Aku tak kuat lagi.
Hari ini kamu harus pergi.”

Tata panggung megah yang menampilkan aura mencekam dan juga beberapa selipan dialog berbau komedi dibalut menjadi satu kesatuan utuh yang menghibur semua penonton yang hadir pada acara pementasan tersebut.

Acara yang diusung oleh Dewan Kesenian Jakarta ini mampu membuat seluruh peserta diskusi sastra dan penikmat pementasan naskah Maria Zaitun menjadi lebih bisa mengenal Rendra dalam karya-karya yang pernah dibuatnya semasa hidupnya (Anggi Septianto/Alinea TV)

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY