Dari ‘Abeisme’ ke ‘Zwinglianisme’

527
0
SHARE

Kita pasti tidak asing membaca atau mendengar media menggunakan istilah dengan menggunakan akhiran ‘isme’. Sebut saja eksistensialisme, plagiarisme, fundamentalisme, hedonisme, dan sebagainya.  Diantara isme-isme yang kita dengar tentunya ada yang kita mengerti namun ada juga yang mungkin tidak atau kurang kita pahami apa artinya sehingga kadang kita hanya menebak-nebak saja berdasarkan konteks pemberitaannya.

Berbagai istilah isme yang sering kita dengar dan baca ini sesungguhnya bukan hanya sekedar istilah yang digunakan hanya untuk menunjukkan sisi intelektual pengucap/penulisnya semata melainkan ada makna yang harus kita ketahui karena sadar tidak sadar, mau tidak mau, kehidupan kita dipengaruhi oleh berbagai isme-isme yang muncul sejak puluhan tahun yang lampau hingga isme terbaru yang terbentuk oleh sebuah gerakan atau pemikiran orang-orang yang berpengaruh di berbagai bidang ilmu (filsafat, ekonomi, politik, budaya, dll).

Buku Kamus Isme-isme karya seniman serba bisa Yapi Tambayong, atau lebih dikenal dengan nama Remy Sylado ini mencoba  menjelaskan beragam isme yang ada di dunia termasuk di Indonesia. Sesuai dengan namanya buku ini merupakan kamus yang mendefiniskan isme-isme dari bidang filsafat, teologi, seni, sosial, musik, politik, hukum, psikologi, biologi, dan medis yang disusun secara alfabetikal A – Z dimulai dari lema Abeeisme hingga Zwinglianisme yang jika dijumlahkan maka terdapat 953 isme yang dijelaskan dalam buku ini

Tidak seperti kamus-kamus pada umumnya yang mungkin hanya berisi satu atau dua kalimat penjelasan seperlunya namun dalam buku ini setiap lema ‘isme’ yang ada diberi penjelasan yang cukup mendetail dan ensiklopedis yang tertuang dalam kalimat-kalimat sederhana yang enak dibaca serta diselipi  keterangan tambahan  yang menarik sehingga buku ini tidak hanya dapat dimengeri oleh para kaum terdidik (guru, dosen, ilmuwan, penulis, dll) namun pembaca awam sekalipun akan benar-benar memahami arti,sejarah terbentuknya, pengaruhnya, dari setiap isme yang dibahas dalam buku ini

Selain isme-isme yang mendunia, buku ini juga menyertakan isme-isme lokal yang tumbuh dan terbentuk dari para pemikir, peristiwa, kebiasaan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia baik yang sering kita dengar maupun yang mungkin sudah jarang kita dengar selama ini, misalnya Abesisme/ ABS-isme (Asal Bapak Senang), Ndoroisme yang berarti sikap mempertuan diri , Asbunisme istilah khas Indonesia untuk menyebut omongan ngawur seseorang yang berasal dari kata ‘asbun’ (asal bunyi), dll.

Jika melihat dari sisi tempat terbentuknya beberapa isme di Indonesia maka Bandung termasuk kota yang paling banyak melahirkan isme-isme. Dibanding kota-kota lain di Indonesia, Bandung menyumbangkan 9 isme yaitu  Gronisme, Gongliisme, Glagolisme, Cuapisme, Bondonisme, Bandungsentrisme, Marhaenisme, Mbelingisme, Tigajurusisme  yang semuanya dijelaskan secara deskriptif mengenai asal muasalnya serta pengaruh isme tersebut di berbagai segi kehidupan.

Dalam menjelaskan isme-isme, khususnya isme yang berasal dari Indonesia penulis juga  membeberkan beberapa fakta menarik dan unik yang terkait dengan isme tersebut, misalnya pada entri Orientalisme, terdapat keterangan tentang kalimat bahasa Indonesia pertama yang muncul di buku terbitan Jerman, 1666 berjudul Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geseleschaft in den Vereignigten Niderlaendern an de Tatarischen Cham karya Johan Neuhoff, adalah

“O, setyang orang Ollanda de bakkalay samma tay” (Setan ini orang Belanda dia berkelahi dengan tai). Ceritanya, ketika tentara Belanda di benteng itu kehabisan mesiu, seorang sersan bernama Hans Madelijn mendapat ide gila, menciduk sebanyaknya tai dari cubluk, lantas menyiramkannya ke tentara-tentara Sultan Agung yang sedang memanjat benteng. Dari sejarah itu maka daerah itu pun kemudian disebut “Kota Tai”, sekarang hanya dikenal sebagai “Kota” , daerah sekitar Pinangsia dan stasion keretaapi. (hlm 207)

Selain menarik, unik, ada juga hal-hal yang membuat kita tersenyum antara lain saat menjelaskan tentang Militerisme  penulis mengungkapkan kelakaran Jenderal AM. Hendroprijono bahwa  kita bisa mengetahui dari angkatan mana ABRI yang duduk dalam pemerintahan sipil dilihat dari caranya mengucapkan “terimakasih”

Seorang dari latar Angkatan Darat mengucapkan “terimakasih sebesar-besarnya” (karena AD meminta porsi yang besar dalam kekuasaan); Angkatan Laut mengucapkan, ” terimakasih sedalam-dalamnya” (karena AL mengerti betul dalamnya laut); Angkatan Udara mengucapkan, “terimakasih setinggi-tingginya” (karena AU bisa terbang tinggi di angkasa. ; dan Angkatan Kepolisian mengucapkan “terimakasih sebanyak-banyaknya” (karena AK tidak mau dikasih sedikit uang kalau rakyat melakukan kesalahan lalu-lintas). (hlm 161)

Dalam menjelaskan tentang isme-isme penulis juga kadang melakukan kritik atau menyampaikan unek-uneknya seperti ketika menjelaskan arti Neo-imperialisme, di bagian ini penulis mengkritik politik kebudayaan Indonesia sebagai bentuk teoritis  neo-imperialisme dengan taraf malu-malu kucing dan mandul, dikatakan bahwa

Misi kebudayaan Indonesia hanya diukur dengan mengirim ke luar negeri kelompok-kelompok tarian daerah. Indonesia tidak mau belajar dari luar. Kalau kebudayaan hanya diukur melalui seni pertunjukkan, boleh lihat Korea misalnya. Dengan bentuk K-Pop, Korea menjual produk kebudayaannya dan berhasil mendunia, ‘mengalahkan’ Amerika. ( hlm 181)

Selain penjelasan yang informatif dan deskriptif  beserta tambahan keterangan yang menarik buku ini dihiasi pula oleh ratusan foto pendukung yang terdapat di setiap lembar halamannya. Sebuah ide yang sangat baik  karena selain dapat memperjelas setiap isme  yang didefiniskan, adanya foto-foto juga membuat pembaca tidak jenuh untuk membaca dan menyelusuri setiap isme yang ada di buku ini. Selain itu foto-foto dalam buku ini juga membuat buku ini terkesan  lebih populer karena sebutan kata ‘kamus’ biasanya berkonotasi sebagai sebuah buku yang ‘kering’ dan membosankan

Sebenarnya buku ini bukanlah yang pertama. Pada 1997 juga pernah terbit buku berjudul Isme-Isme dalam Etika dari A sampai Z yang disusun oleh A. Mangunhardjana.

Namun jumlah isme yang dijabarkan buku tersebut hanya 64 isme, dan terbatas dalam bidang etika. Sedangkan isme-isme dalam buku karya Yapi Tambayong mencakup bidang-bidang lainnya seperti teologi, seni, hukum, poliik, biologi, dan ditambah dengan keterangan-keterangan menarik di seputar isme-isme yang dibahasnya.

Saya menyetujui pengantar dari Faiz Manshur, redaktur Nuansa Cendekia yang menerbitkan buku ini berpendapat bahwa memahami isme itu tidak hanya perlu melainkan penting.

Di tengah keberagaman isme yang ada perlulah kita memiliki cara pandang bijaksana, dan kebijaksanaan yang terpenting ialah kesanggupan kita untuk belajar memahami secara mendalam, objektif, dan disertai sikap kritis. Dengan menyempatkan membaca buku inilah kita sedang bersikap bijaksana.”

Karena itu Mmmbaca buku ini kita akan mendapatkan kekayaan pengetahuan yang beragam dan semoga juga membuat kita sedikit lebih arif memahami isme-isme tersebut.

HERNADI TANZIL
Kontributor AlineaTV

Judul : Kamus Isme-isme
Penulis : Yapi Tambayong
Penerbit : Nuansa Cendekia
Cetakan : I, Juli 2013
Tebal :  368 hlm

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY