Riwayat Musikalisasi Puisi Dulu Hingga Kini

1349
0
SHARE

Sumber Foto: csfadlan.blogspot.com

Menjadikan puisi sebagai lirik-lirik dalam lagu bukanlah hal yang baru. Jika ditilik dari sejarahnya, musikalisasi puisi sudah dimulai sejak akhir abad ke-19, pada masa Perang Aceh. Bagaimana kisah musikalisasi puisi di masa kini?

bertasbih pada sunyi
mengguyur rumput rumput
yang menari
pohon pohon sembahyang
seiring semilir angin
bersujud bersama padi padi
yang merunduk
merenungi bumi

Kasidah Hujan, sajak yang diciptakan Acep Zamzam Noor (1984) ini meramaikan suasana ngabuburit di depan Rektorat Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rabu (24/7). Namun, sajak ini tidak ditampilkan sebagaimana layaknya pembacaan sajak. Namun dibawakan lebih segar dengan cara dinyanyikan dan diaransemen oleh kelompok musik asal Bandung, Adew Habtsa dan Rekan.

Adew Habtsa CS
Adew Habtsa dan Rekan (Sumber: adewhabtsa.wordpress.com)

Kelompok musik yang berdiri sekitar pertengahan 2011 ini mengaku terinspirasi oleh Herbert Marcuse yang mengatakan bahwa pada seni, musik, dan sastralah, gerakan kebudayaan akan menemukan media aktualitas yang tepat sebagai bentuk tradisi kritik sekaligus perlawanan. Di zaman kini, semua orang sudah bisa bernyanyi dan bebas mengemukakan sesuatu dengan lantang.

“Bagi saya, yang penting bukanlah keindahan suara, namun meyakini bahwa suara yang kita bunyikan adalah kebenaran,” kata Adew Habtsa, vokalis AH-R yang juga mentor di A Dew Line, sebuah komunitas yang bergiat di Salman ITB, Bandung.

Adew menambahkan, bahwa dari segi penggarapan musik, AHR mencoba menyatupadukan segala macam genre musik. Hal tersebut dilakukan agar sesuai dengan kebutuhan dari puisi yang dinyanyikan. Hanya saja, tambah Adew, AHR melakukan terobosan dari segi penggarapan tema dan lirik lagu.

“Kami menggarap tema dan lirik lagu yang lebih bersemangat dan membangun agar bisa makin memberdayakan hidup,” tambah Adew yang mengaku terinspirasi membentuk kelompok musik yang melahirkan karya seni yang baru berupa lirik, lagu, dan musik ini ketika berkegiatan di Museum Konferensi Asia Afrika.

Menurut Anton Solihin, pemerhati musik, apa yang dilakukan Adew Habtsa dan Rekan dengan menjadikan puisi sebagai lirik-lirik dalam lagunya, bukanlah hal yang baru. Karena pada sekitar tahun 80-an, Igor Tamerlan dari Maluku, pernah melakukan hal yang sama. Bahkan, puisi Aku karya Chairil Anwar yang dimusikalisasi AHR juga pernah dimusikalisasi oleh Igor Tamerlan dengan genre musik pop rock.

Bahkan, menurut penilaian pengelola perpustakaan Batu Api ini, apa yang dilakukan AH-R (Adew Habtsa, R. Ario Stevano, Irwan Aditya) lebih pada pembentukan media alternatif agar publik menerima kelompok musik serta sajak-sajak yang (sebagian) diciptakan oleh Adew Habtsa sendiri.

“Tetapi tidak juga ini jelek. Apa yang dilakukan Adew Habtsa dan Rekan harus tetap kita apresiasi,” imbuhnya.

Akar Sejarah

Jika ditilik dari sejarahnya, musikalisasi puisi sudah dimulai sejak akhir abad ke-19, pada masa Perang Aceh. Dalam masa Perang Aceh itu, hiduplah seorang penyair merangkap penyanyi yang cukup terkenal bernama Dolkarnain. Dolkarnain membawakan puisi-puisi lagu di tengah pejuang untuk membakar semangat rakyat dalam melawan kolonialisme. Pula, jauh sebelum itu, pada masa Kerajaan Mataram, musikalisasi puisi sudah digaungkan melalui pernyataan Sultan Agung yang terkenal, “Barangsiapa tak wasis memanfaatkan sastra gending, dengan sendirinya bukanlah bangsa Mataram.” Sastra gending sendiri merupakan perpaduan syair dengan iringan musik gending Jawa.

Remy Silado memaparkan bahwa pada paruh pertama dasawarsa 1950-an, sebenarnya sudah dikenal istilah musikalisasi syair. Saat itu, seorang komposer bernama Cornel Simanjuntak melakukan kolaborasi dengan penyair-penyair terpandang. Mekanismenya sederhana, yakni ada dulu puisi, lalu dia sebagai pemusik menggarap komposisi musiknya. Namun, apa yang dilakukan Cornel Simanjuntak ini dianggap sebagai upaya meloncat dari mannerisme yang telah berlangsung selama ratusan tahun dengan lagu populer Indonesia, dalam hal ini Melayu dan daerah, kecuali Jawa. Eksperimen Cornel Simanjuntak ini dianggap “menyeleweng” karena lirik merupakan bagian tidak terpisahkan dari tradisi berpikir tertib sastra.

Pada era 1970-an—mungkin juga saat ini—musik dipandang layaknya comro, onde-onde, atau serabi, yang dibeli sangat murah, juga diproduksi secara terburu-buru dikarenakan pasar musik yang persaingannya mulai sengit. Musik yang diidentikan dengan comro, onde-onde, atau serabi ini, tambah Remy, memang enak ketika dinikmati selagi hangat. Telat sedikit, basi jadinya. Makanya, karena pasar musik yang terburu-buru inilah, pemusik dianggap sebagai yang melenceng dari manners berpikir tertib sastra.

Diamini atau tidak, saat itu, pemusik memang bekerja dalam tenggat yang terburu-buru. Seringkali pemusik melakukan perekaman lagu tanpa kata, bahkan tanpa mengetahui melodinya, kecuali bar dan akord. Nanti, setelah bertemu dengan penyanyi yang pas dengan tonnya, baru dibuat melodi dan kata-kata secara tergesa-gesa pula di studio.

Barangkali, untuk menghindari cap menyeleweng dari manners berpikir tertib sastra ini, pada paruh pertama dasawarsa 1970-an, Bimbo meminang sajak-sajak Taufik Ismail, Ramadhan KH, dan Wing Kardjo untuk melengkapi musik yang diusungnya. Apa yang dilakukan Bimbo pun disambut meriah oleh publik. Gaungnya bahkan disambut oleh beberapa kelompok musik, terutama anak-anak muda Bandung, semisal Les Trabadour untuk memusikalisasi puisi-puisi Goenawan Mohamad, Abdul Hadi WM, Sapardi Djoko Damono, sampai puisi pelukis Jeihan.

“Mungkin istilah musikalisasi puisi baru dikenal dan akrab setelah kita mengenal genre musik pop.” Kata Anton Solihin. Bagi Anton, musik adalah perpaduan antara syair dan musik itu sendiri. Ketika syair tidak diiringi musik, maka dia adalah syair. Pun dengan musik, tanpa syair, dia tidak bisa disebut sebagai musik, tetapi masih disebut sebagai syair. “Misalnya musik pop atau dangdut, tanpa syair, dia bernama syair, bukan musik. Bolehlah kita sebut sebagai syair dangdut atau syair pop.”

FATIH ZAM
Kontributor AlineaTV

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here