Cerita Toto ST Radik Tentang Negeri Belewuk

746
0
SHARE

Sumber Foto: bantenposnews.com

Oleh ANAS AL LUBAB, Kontributor AlineaTV

Setiap inci cerita yang melekat di sekujur buku ini hendak menayangkan jejak rekam situasi absurd yang pernah, sedang, dan mungkin akan terjadi di provinsi Banten. Toto ST Radik dengan cekatan dan piawai menyajikan setiap adegan kekonyolan yang menerbitkan senyum sekaligus membuat kita merenung tanpa harus mengerutkan kening.

Sokrates Telunjuk Miring di Kening
Sokrates Telunjuk Miring di Kening (Sumber: anasallubab.blogspot.com)

SAMPUL kumpulan cerita Sokrates atawa Telunjuk Miring di Kening Toto St Radik sudah membuat saya merenung berpikir. Telunjuk bertudung laken estetika, seolah menyiratkan bahwa penulis buku ini begitu kukuh menggenggam estetika sebagai petunjuk bagaimana ia menjerang cerita. Agar cerita yang tersaji menghangatkan siapapun yang kelak mereguknya.

Bunga ide di atas lentikan jari kelingking, seakan menekankan bahwa ide itu hal kecil yang bisa kita pungut darimana saja kapan saja. ini peringatan bagi kita yang kerap bertameng pada kebuntuan ide sehingga selalu mandek saat hendak menulis.

Visual burung kecil yang sedang berak di jas disimbolkan sebagai laku kritik, kritik itu bebas seperti burung yang mengotori jas yang mungkin membuat pemilik jas berang sehingga mesti segera me-laundry jasnya. itulah barangkali fungsi kritik, mengganggu untuk membersihkan. Menyipratkan air ke wajah untuk membangunkan orang yang terlalu lelap tidur.

Sementara etika di sematkan persis di tengah leher sebagai sesuatu yang teramat penting, kita tahu saat leher etika dicekik atau dipenggal, maka kemanusiaan kita dipastikan tewas binasa.

Moral diandaikan sebagai kepulan asap rokok, moral sejatinya urusan individu, namun sebagaimana asap rokok yang kerap mengganggu kesegaran nafas oranglain. sikap moral kita pun mesti diujikaji dibenturkan dengan dialektika budaya dan adat oranglain yang pasti berbeda. itulah maslahat—memaksimalkan manfaat meminimalisir mudarat.

Jika dari sampulnya saja sudah membuat saya merenung. bagaimana dengan isinya?

Setiap inci cerita yang melekat di sekujur buku ini hendak menayangkan jejak rekam situasi absurd yang pernah, sedang, dan mungkin akan terjadi di provinsi Banten. Toto ST Radik dengan cekatan dan piawai menyajikan setiap adegan kekonyolan yang menerbitkan senyum sekaligus membuat kita merenung tanpa harus mengerutkan kening. Meski ia sengaja meminjam nama tokoh lain, lokasi lain, tak ayal cerita yang didendangkannya mampu menyeret ingatan kita untuk mengarahkan telunjuk menuding tokoh-tokoh antagonis yang sok berkuasa di provinsi ini.

Tamasya pertama, kita diajak menjelajahi situasi politik Negeri Belewuk yang setelah berusaha bertahun-tahun, akhirnya bisa memisahkan diri dari negeri Jabarut (renungkan lokasi mana sebenarnya yang dimaksud negeri belewuk dan negeri jabarut). Setelah resmi didaulat sebagai pemimpin, para pemimpin negeri belewuk dengan licin dan culas melakukan jamaah korupsi memperkaya diri dan menyenangkan kroni-kroninya sehingga para tuyul menjadi melongo kehilangan profesi.

Berkat teknologi kekuasaan, pemimpin negeri belewuk menjadi kian canggih menguras uang rakyat tanpa perlu bantuan jasa para tuyul. Kita bisa mendengar curhat sesepuh tuyul yang menyatakan “Manusia belewuk tak membutuhkan kami lagi. Mereka sudah mahir mencuri. Ilmu mereka, harus diakui, lebih top daripada tuyul paling sontoloyo sekalipun” (hal:8).

Keluar dari negeri belewuk, kita diajak Toto ST Radik memasuki kota S di provinsi B dalam cerita Gigi dan Goyang Dombret. S dan B, saya kira bukan Semarang atau Batam, mungkin saja Serang dan Banten sebagai tempat tinggal penulisnya. dikisahkan tiba-tiba pemerintahan kota S dibuat kelimpungan oleh wabah ganjil dimana banyak masyarakat yang giginya bertanggalan secara misterius. Wabah ini menyerang bukan saja kepada para lansia tetapi kepada semua orang—lintas profesi—yang punya gigi di kota S. Memang tak menimbulkan rasa sakit bahkan tanpa meneteskan darah sedikit pun, namun hal ini tak ayal menimbulkan keheranan dan ketidakpercayaan diri masyarakat sehingga diliputi rasa penasaran; mungkinkah wabah ini suatu kutukan.

Untung gubernur yang juga ikut ompong berinisiatif mengeluarkan kebijakan mengganti setiap gigi warga yang copot dengan gigi palsu terbuat dari emas 24 karat sekaligus memberikan hiburan dangdut gratis. Secara garis besar cerita ini menegur keras oknum wartawan yang hanya memburu uang ketimbang otentisitas pemberitaan. Perhatikan misalnya ekspresi wartawan dalam cerita ini. … begitu pula para wartawan, seraya sibuk mencopoti gigi-giginya “Lumayan dapat emas dua puluh empat karat. Soal berita mah, gampang!” (hal:17). Betapa kita sudah ompong-kolektif kehilangan nyali menyatakan kebenaran dan mulai memberhalakan tumpukan materi.

Setelah berjoged goyang dombret ria, kita diajak mengikuti perkembangan bisnis Ratu Surgawi Khasiatun yang dijuluki Ratu Pistol dengan perkumpulannya yang di sebut PFC atau Pistol Fans Club dalam cerita Ratu Pistol (the Cowboy City). Naluri bisnis ratu pistol benar-benar progresif, dengan akselerasi tinggi gerai penjualan pistolnya buka cabang dimana-mana mengalahkan counter-counter hape, harganya pun bervariasi dari yang 500 ribuan hingga 500 jutaan dilengkapi aksesorisnya yang bermacam-macam.

Suatu ketika, saat launching warung pistolnya yang ke 356 di Kafe Terapung Abah Kuring miliknya, yang dihadiri banyak pejabat pemerintahan, anggota PFC dibuat kalap saat Ratu Pistol terkapar ditembak bocah SMP. Bocah itu pun dibrondong tembakan kemarahan anak buah ratu pistol hingga tubuhnya hancur lebur berserpihan.

Pasca insiden penembakan ratu pistol, situasi keamanan negeri belewuk kacau balau. Setiap hari nyawa melayang didor pistol, akibatnya bergentayanganlah hantu-hantu penasaran. Gerombolan hantu gentayangan inilah yang menyajikan dialog-dialog satir menyinggung kebobrokan moral prilaku kita—terutama ulah para pemimpin. Hantu-hantu ini menertawakan manusia yang kasakkusuk korupsi, teler sabu, selingkuh main perempuan, bikin laporan salah ketik melulu, dan sebagainya dan seterusnya. (hal:31-32)

Perjumpaan selanjutnya kita dipertemukan dengan sosok Sokrates dalam cerita Sokrates atawa Telunjuk Miring di Kening. Kita tahu, Socrates filsuf Yunani yang buruk rupa itu begitu rajin menyambangi setiap orang untuk melecut daya kritis berpikir siapapun orang yang ditemuinya di ruang-ruang publik Athena. Sikap kritisnya yang berusaha membuka lebar-lebar pintu terkunci dikepala setiap orang mengantarkannya pada hukuman mati dengan menenggak racun.

Kisah hidup Socrates yang setia mengimani kebenaran itu berhasil direka ulang oleh Toto ST Radik sesuai semangat kekinian. Tingkah polah Sokrates yang diceritakan Toto telah Membentur-bentur kesadaran kita akan pencarian hakikat kebenaran dan sisi kemanusiaan kita. Sokrates mengingatkan kita semua bahwa tubuh yang kerap kita mandikan dan disemprot aneka wewangian hanyalah bungkus sementara yang kelak hangus hancur. Yang kekal hanyalah ruh kita yang akan terbang melesat ke surga atau neraka.

Tokoh Sokrates rekaan Toto ST Radik sungguh akan menginstal ulang paradigma berpikir kita meroket dari hal imanen menuju hal transenden. Sekalipun saat penceritaan Toto ST Radik melabrak logika. Saat sokrates berjalan mundur diikuti oleh tukang becak dan pengendara motor yang ikut berjalan mundur. Terkecuali becak atau motor tersebut menggunakan rantai torpedo.

Masih banyak cerita apik-filosofik yang Toto ST Radik sajikan di buku ini yang patut menjadi bahan renungan bersama merefleksi prilaku keseharian kita. Baju Baru Buat Lebaran, mengisahkan pergulatan batin seorang lelaki—ayah—yang menerima uang subhat dari atasan di kantornya. Hatinya terguncang menghadapi pilihan dilematis menerima uang tersebut demi keluarganya atau mengembalikannya dengan resiko mendengar rengekan anak-anaknya yang ingin dibelikan pakaian baru sementara ia pun mesti menyiapkan bekal untuk sowan ke mertuanya. Kisah ini juga menunjukkan realita para pejabat yang dengan enteng menyelewengkan uang. Seakan korupsi, kolusi dan nepotisme adalah hal biasa di dunia mereka.

Selanjutnya ada cerita Petruk Jadi Bupati, Teluh, Satu Kisah Dua Pencerita, Diselesaikan oleh Khidir. Lelaki yang Baik dan Kata-kata, dan Ayat Perempuan. Setiap cerita tampil dengan guyon satir mengkritisi kebobrokan yang terjadi di negeri belewuk. Jika kita telaah dengan penuh perhatian watak tokoh, inisial nama, ciri-ciri fisik yang bertebaran di sekujur buku ini merefleksikan renungan-renungan Toto ST Radik atas tingkah polah tokoh-tokoh nyata diprovinsi ini.

Buku cerita ini mewartakan bolong-bolong dekadensi moral yang tak boleh kita ulangi dikemudian hari. buku ini aman dan menyehatkan dikonsumsi segenap lapisan warga Banten yang menginginkan perubahan dan perbaikan.

Detil Buku:
Sokrates atawa Telunjuk Miring di Kening
Karya Toto ST Radik
Terbit April 2013 oleh Penerbit Parsprototo
Tebal: 124 halaman
Rating: -/5

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here