Benarkah Bestseller Pasti Box Office?

1405
0
SHARE

Sumber Foto: hiburan.plasa.msn.com

Di tengah jumlah penonton film Indonesia yang kian sulit menembus angka 100.000, pada akhir tahun 2012 muncul rekor spektakuler penonton film adaptasi “Habibie & Ainun”. Jumlahnya tak tanggung-tanggung: 4.293.988 penonton! Jumlah ini nyaris melampaui rekor penonton Laskar Pelangi tahun 2008 sebanyak 4.606.785. Apa yang terjadi?

SPEKTAKULER. Itu kata yang tepat atas rekor penonton yang berhasil didatangkan oleh film adaptasi ini. Meskipun jumlah penonton sedikit di bawah film Laskar Pelangi, tetapi jika dihitung dengan menggunakan angka pendapatan kotor Rp 22.000/penonton (ditetapkan oleh asumsi Filmindonesia.or.id), maka jumlah pendapatan kotor “Habibie & Ainun” mencapai Rp 94.467.736.000. Sedang Laskar Pelangi dengan perkiraan angka pendapatan kotor Rp 18.000/penonton hanya meraup pendapatan Rp 82.922.130.000, jauh tertinggal dari film adaptasi ini.

Adaptasi yang ditulis oleh Ginatri S. Noer dan Ifan Ismail disusun berdasarkan memoar kisah Habibie dan istrinya Ainun yang telah meraih Anugerah Pembaca Indonesia 2011 di kategori non-fiksi. Diperankan oleh Reza Rahadian sebagai Habibie dan Bunga Citra Lestari sebagai Ainun. Penampilan Reza Rahadian dipuji tampil tanpa cela dengan kemampuannya untuk konsisten menirukan lafal bicara Habibie yang memang khas.

Adaptasi vs. Horor
Tentulah dengan kejutan ini, pengadaptasian menjadi salah satu pilihan yang kian dipertimbangkan oleh para produser film Indonesia. Apalagi, sebelum rekor spektakuler “Habibie & Ainun”, film adaptasi dari karya Donny Dhirgantoro berjudul “5 cm” juga hadir secara mengejutkan dengan antrian penonton yang meluap di berbagai studio seantero negeri. Film “5 cm” berhasil mendatangkan 2.378.066 penonton, jumlahnya di atas “The Raid” yang pada awal tahun meledak di pasaran internasional.

Naiknya nilai film adaptasi membangkitkan harapan agar genre horor perlahan digeser dengan film-film yang kuat dalam unsur penceritaan dan logika. Produser kini membuka mata dan bahkan mulai rajin mencari mana saja karya buku tanah air yang bisa diadaptasikan. Bestseller di dunia buku menjadi patokan pencarian mereka, dengan harapan box office di dunia perfilman.

Bestseller Pasti Box Office
Lanskap yang berubah ini merupakan dampak dari apa yang sudah terjadi sejak booming Laskar Pelangi tahun 2008. Setelah tema-tema remaja dan cerita anak merosot nilai jualnya, tampaknya adaptasi menjadi “angin segar” yang dijadikan pilihan produser di atas cerita horor. Adaptasi yang dipilih berdasarkan karya-karya yang telah lebih dulu terlaris di dunia perbukuan.

Tampaknya alasan pemilihan karya bestseller untuk diadaptasi ini cukup jelas. Jika rata-rata angka penonton reguler tak lebih dari 100.000 orang, maka jumlah sisanya datang dari mereka yang tak biasa pergi menonton film. Maka dalam hal ini, publik sasaran penonton datang bukan hanya dari mereka yang terbiasa menonton, tetapi dari mereka yang suka membaca. Sehingga ada jargon yang diucapkan: “asalkan bestseller, pasti nanti box office”. Benar tidaknya, statistik penjualan yang bicara.

Dominasi film adaptasi sebenarnya bukan hal yang aneh. Mulai dari kisah “Eat, Pray, Love” karya Elisabeth Gilbert sampai “Never Let Me Go” karya serius Kazuo Ishiguro diadaptasikan. Bahkan dulu, “Gone With The Wind” menjadi film adaptasi yang masih ramai dibicarakan penonton film masa kini. Berapa persentase keberhasilan mengubah bestseller menjadi box office, hampir tak pernah dihitung.

Peluang Bagi Penulis Buku
Diwawancara selepas tayang perdana “Perahu Kertas”, CEO Bentang Pustaka Salman Faridi menyatakan pada zaman sekarang, penulis dituntut untuk memperluas kemungkinan bahwa karyanya akan diadaptasikan ke format film. Penulis diharapkan untuk memanfaatkan peluang yang terbuka lebar karena perubahan dalam industri perfilman ini. Himbauan Salman ini cukup beralasan untuk dipertimbangkan oleh para penulis. Meskipun, untuk peningkatan kualitas, soal komersialisasi ini bukan hal yang terutama.

Karena sejatinya, karya yang ditulis dengan baik dan menggerakkan pembaca adalah yang jauh lebih utama daripada menulis karya yang semata-mata tujuannya adalah komersil. Seperti karya “Habibie & Ainun” yang terbukti baik dari sisi penulisan. Semoga dengan diraihnya rekor spektakuler film adaptasi “Habibie & Ainun” berimbas positif pada perbaikan dunia perbukuan dan membuat para penulis berlomba menuliskan karya yang baik.

Damar Juniarto
Kontributor AlineaTV

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

1 COMMENT

  1. Cuma mau mengoreksi saja; Never Let Me Go itu karangan Kazuo Ishiguro, bukan Haruki Murakami. 🙂 Terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here