Season 2 #Twitteriak Eps. 16 bersama @1bichara (Khrisna Pabichara)

427
0
SHARE

“Setiap buku/tulisan memiliki tempat yang sama di dalam hati saya.”
Khrisna Pabichara, #Twitteriak April 2012

Khrisna Pabichara dulu lebih dikenal sebagai motivator pengembangan kecakapan diri, termasuk menulis buku non-fiksi, sebelum ia beranjak ke dunia sastra. Pria yang lahir di hari Pahlawan 10 November 1975 ini berasal dari Borongammatea, Jeneponto, berjarak 89 km dari Makassar. Hingga kini ia sudah terhitung aktif di dunia pendidikan dan perbukuan selama kurang lebih 10 tahun. Khrisna mengakrabi sastra bak kekasih dan telah melahirkan 14 karya termasuk novel terbarunya yang akan terbit berjudul ‘Sepatu Dahlan’.

Khrisna Pabichara sangat memiliki perhatian khusus pada bahasa Indonesia dan sering berbicara soal keindahan berbahasa Indonesia. Ia juga sering diminta oleh teman, kerabat, keluarga, dan tetangganya untuk memberi nama bagi anak-anak mereka. Pada tahun 2010 ia melahirkan kumpulan cerita dengan judul ‘Mengawini Ibu’, meskipun beritanya tidak sehingar bingar kiprahnya untuk Koin Sastra. Gerakan Koin Sastra untuk PDS HB Jassin ini merupakan inisiatifnya dan memicu gelombang kesadaran publik. Saat ini Khrisna Pabichara terpilih menjadi juru bicara Pak Raden dalam mendapatkan kembali hak cipta Si Unyil.

Dalam tempo dekat, ia akan menerbitkan novel pertama dari trilogi kisah Dahlan Iskan dari Noura Books. Mari kita simak apa yang akan ia bagikan kepada #Twitteriak sehubungan dengan novel terbarunya, ‘Sepatu Dahlan’.

#Twitteriak : Daeng, bisa langsung jawab pertanyaan ini ‘Ada apa dengan sepatu Dahlan Iskan’?
Khrisna Pabichara : Judul novel “Sepatu Dahlan”. Terinspirasi dari masa remaja Pak Dahlan Iskan.

#Twitteriak : Mengapa Dahlan Iskan? Apa karena figurnya sedang naik daun?

Khrisna Pabichara : Lebih karena kegigihan DIS dan keluarga menghadapi kemiskinan. Ihwal sedang naik daun, itu juga jadi pertimbangan.

#Twitteriak : Siapa yang menentukan pemilihan tokoh utama cerita Sepatu Dahlan ini? Daeng atau penerbit Noura Books?
Khrisna Pabichara : Mula-mula saya mengajukan semacam kerangka penelitian untuk bahan novel yang disetujui oleh Noura Books.

#Twitteriak : Siapa juga yg memutuskan novel ini menjadi novel pertama dari trilogi kisah Dahlan Iskan?

Khrisna Pabichara : Alur, penokohan, dan latar murni dari pengarang, tanpa intervensi dari Noura Books dan Pak Dahlan Iskan.

#Twitteriak : Dalam penulisan novel fiksi ini pernah bertemu Dahlan Iskan langsung? Apa kesan pertama Daeng?
Khrisna Pabichara : Bertemu langsung dengan Pak DIS di Jakarta dan Surabaya. Perasaan? Bahagia karena Pak DIS sangat kooperatif.

#Twitteriak : Pesan novel ‘Sepatu Dahlan’ ini sebetulnya apa? Mengapa pembaca perlu membaca novel ini?
Khrisna Pabichara : Kandungan intrinsik ‘Sepatu Dahlan’? Hmmm…, nanti pembaca sendiri yang menafsirkan dan menikmatinya.

#Twitteriak : Sebagai debut novel, sejauh mana Daeng menilai karya ‘Sepatu Dahlan’ ini?
Khrisna Pabichara : ‘Sepatu Dahlan’ novel pertama saya. Tetapi setiap buku/tulisan memiliki tempat yang sama di dalam hati saya.

#Twitteriak : ‘Sepatu Dahlan’, buku biografi atau fiksi? (Pertanyaan dari @mariana_pink)
Khrisna Pabichara : ‘Sepatu Dahlan’ sebuah novel, fiksi. Terinspirasi dari kisah hidup Pak DIS.

#Twitteriak : Dalam ‘Sepatu Dahlan’, apakah Dahlan Iskan juga berkontribusi memberikan hasil tulisannya sendiri dalam buku? (pertanyaan dari @mariana_pink)
Khrisna Pabichara : Pak Dahlan Iskan berkontribusi menuturkan kisah hidup sebagai bangunan awal cerita.

#Twitteriak : Kenapa sih harus dibuat dalam bentuk trilogi? (pertanyaan dari @mariana_pink)
Khrisna Pabichara : Trilogi agar pengarang lebih leluasa menganggit cerita dan pembaca dalam menikmati novel.

#Twitteriak : Apakah Khrisna mengunjungi lokasi yg diangkat dlm novel ‘Sepatu Dahlan’? ceritakan dong! (pertanyaan dari @mataharitimoer)
Khrisna Pabichara : Saya mengunjungi semua lokasi yang menjadi latar dalam novel ‘Sepatu Dahlan’.

#Twitteriak : Bagaimana rasanya menginap 3 hari 2 malam di rumah Pak Dahlan? (pertanyaan dari @mariana_pink)
Khrisna Pabichara : Seperti lumrahnya menginap di tempat lain. Suasananya hangat, akrab, dan tidak protokoler.

#Twitteriak : Apakah tokoh Kadir yang ortunya diduga terlibat PKI benar-benar ada? (pertanyaan dari @mataharitimoer)

Khrisna Pabichara : Ihwal Kadir sudah saya jawab. Rahasia.

#Twitteriak : Anda editor novel “Anak Sejuta Bintang” tentang masa kecil Ical Bakrie adakah pengaruhnya pada novel ‘Sepatu Dahlan’? (pertanyaan dari @htanzil)
Khrisna Pabichara : Pekerjaan menyunting, bagi saya, berbeda dengan mengarang. Barangkali pengaya wawasan saja.

#Twitteriak : Ada nggak kesulitan/hambatan selama pembuatan ‘Sepatu Dahlan’ ini? (pertanyaan dari @maryuanaKaren @dhilayaumil)
Khrisna Pabichara : Kesulitan waktu mewawancarai narasumber yang sakit dan tempat yang sudah berbeda.

#Twitteriak : Apakah tidak khawatir novel ini nantinya dikatakan sebagai ‘jalur kampanye politik’? (pertanyaan dari @dhilayaumil)
Khrisna Pabichara : Hak pembaca untuk menafsirkan apa saja tentang ‘Sepatu Dahlan’.

#Twitteriak : Buku 1 rencananya kpn bisa di dapat pembaca? Lalu lanjutannya akan diberi jangka waktu berapa lama? (pertanyaan dari @alvina13)
Khrisna Pabichara : Novel ‘Sepatu Dahlan’ pertengahan Mei 2012, novel kedua Oktober 2012, yang ketiga pada Maret 2013.

#Twitteriak : Bagaimana tanggapan awal Pak Dahlan saat tahu dirinya jadi tokoh utama dalam novel yang Anda buat? (pertanyaan dari @alvina13)
Khrisna Pabichara : Tanggapan Pak Dahlan sangat mendukung dan antusias.

#Twitteriak : ‘Sepatu Dahlan’ terinspirasi dari DIS, adakah terbesit selanjutnya menulis tentang semisal John Kei? (pertanyaan dari @maryuanaKaren)
Khrisna Pabichara : ‘Sepatu Dahlan’ terinspirasi dari DIS. Soal tokoh lain belum terbersit.

#Twitteriak : Kenapa judul yg diambil: Sepatu Dahlan, Koran Dahlan, Kursi Dahlan? Apa filosofi di baliknya?
Khrisna Pabichara : Sepatu Dahlan didasari cita-cita Pak DIS untuk memiliki sepatu semasa remaja.

#Twitteriak : Bisa cerita sedikit mengapa punya ketertarikan menulis twit bertema #bahasaIndonesia?
Khrisna Pabichara : Saya mencintai #bahasaindonesia, berharap bisa berbagi ihwal bahasa nasional kita dengan cara yang ringan.

#Twitteriak : Apakah kemudian novel ‘Sepatu Dahlan’ ini ditulis dengan bahasa Indonesia yang baku dan sesuai kaidah berbahasa?
Khrisna Pabichara : ‘Sepatu Dahlan’ sedapat mungkin sesuai kaidah bahasa Indonesia tanpa mengabaikan gaya selingkung penerbit.

#Twitteriak : Kan Daeng pintar bahasa Indonesia, kok tidak jadi guru atau dosen bahasa Indonesia saja?
Khrisna Pabichara : Guru atau dosen bahasa Indonesia? Wah, saya tidak memiliki kapasitas untuk jadi guru/dosen.

Demikian obrolan #Twitteriak dengan sastrawan cum pejuang sastra Khrisna Pabichara. Obrolan ini merupakan wishlist dari Prasodjo Chusnato, salah satu tweereaks setia obrolan ini. Semoga dapat terpetik manfaat dari obrolan singkat ini.

SHARE YOUR COMMENT HERE! - AlineaTV have the right to delete racist and ad hominem comments.
Like the story? Help us to spread AlineaTV to everyone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here